Kejutan, Penjualan Ritel AS Naik 1%



NEW YORK. Warga Amerika mulai sedikit rileks. Mereka membeli satu atau dua buah sweater, sedikit makanan untuk bersenang-senang, membeli gadget baru dan banyak melakukan aktivitas via internet. Hal itu ternyata memberikan sedikit kelegaan bagi gerai-gerai retail, yang beberapa bulan belakangan mengalami penurunan penjualan. Alhasil, pada Januari, penjualan ritel AS secara tak terduga naik 1%.

Data ini dikeluarkan secara resmi oleh Departemen Perdagangan AS pada Kamis (12/2). "Konsumen mulai memanjakan dirinya masing-masing," kata Joel Naroff, President and Chief Economist Naroff Economic Advisor Inc.

Meski demikian, sepertinya terlalu awal untuk bersenang-senang. Dengan tingginya tingkat pengangguran AS bulan ini dan adanya rencana pemangkasan karyawan lagi ke depannya, krisis ekonomi sepertinya masih akan terus berlanjut.


Naroff bilang, sejak terjadinya penurunan di sektor finansial pada September lalu, ada kemungkinan kalau konsumen saat ini bergerak dari yang tidak melakukan apa-apa menjadi melakukan sesuatu meski sedikit.

"Saya tidak mengatakan kalau konsumen akan segera mengakhiri masa resesi, tapi para konsumen akan belajar hidup dengan resesi," katanya.

Figur penjualan ritel AS bulan Januari jauh lebih baik dibanding prediksi ekonom yang disurvei oleh Thomson Reuters dengan penurunan sebesar 0,8%.

Asal tahu saja, penjualan ritel pada Desember lalu sudah anjlok 3%, yang menandakan penjualan musim liburan terendah dalam beberapa dekade terakhir.

Berdasarkan data dari International Council of Shopping Centers (ICSC)-Goldman Sachs Index, Minggu lalu, industri ritel melaporkan adanya penurunan penjualan di sejumlah gerai di Januari dibanding setahun lalu. Data yang diberikan tidak seburuk prediksi kedua badan penelitian yang memprediksi penurunan penjualan ritel sekitar 2% sampai 3%.

Wal-Mart Inc, merupakan salah satu peritel yang gencar memberikan diskon untuk meningkatkan penjualan. Meski demikian, untuk beberapa kategori, ada kenaikan harga jual. Untuk harga baju dan aksesori mengalami kenaikan 1,6%, sementara untuk barang-barang elektronik dan perkakas rumah naik 2,6%.

Meski demikian, konsumen tetap menahan pembelian furnitur dan bahan-bahan material bangunan. Dari data yang dirilis, penjualan furnitur turun 1,3%, sementara penjualan bahan material melorot 3,2%.

Sementara itu, penjualan di pom bensin mengalami kenaikan 2,6% pada bulan Januari. Lonjakan ini merupakan kenaikan terbesar sejak Juni lalu. Sementara, penjualan untuk mobil dan suku cadangnya naik 1,6%.

Di luar itu semua, jika dibandingkan tahun lalu, penjualan ritel sejak Januari 2008 sudah terjun bebas sebesar 9,7%. Resesi berkepanjangan menyebabkan ribuan warga AS kehilangan mata pencahariannya.

Pemangkasan pekerja juga dilakukan oleh para peritel. Macy Inc, pada minggu lalu mengatakan akan merumahkan 7.000 pekerjanya atau 4% dari total armada kerja. Sementara, Bon-Ton Stores Inc dan Liz Clairborne Inc juga akan melakukan langkah serupa.

Demikian pula halnya dengan Wal Mart yang bakalan merumahkan sekitar 700 hingga 800 karyawannya di kantor pusat yang berdomisili di Arkansas.