KEK Raup Investasi Rp 32 Triliun Semester I-2026, PMA Masih Mendominasi



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah melaporkan investasi yang masuk ke Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) mencapai Rp 32 triliun sepanjang semester I-2026.

Realisasi tersebut berasal dari Penanaman Modal Asing (PMA) sebesar Rp 24 triliun dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) senilai Rp 8 triliun.

Masuknya investasi tersebut turut menciptakan 34.162 lapangan kerja baru di berbagai kawasan ekonomi khusus yang tersebar di Indonesia.


Capaian KEK itu menjadi bagian dari kinerja investasi nasional yang masih menunjukkan tren positif meski perekonomian global masih dibayangi ketidakpastian. Hingga triwulan II-2026, realisasi investasi nasional tercatat mencapai Rp 1.010,6 triliun atau meningkat 7,2% dibandingkan periode yang sama tahun lalu (year-on-year/YoY).

Kinerja tersebut didukung pertumbuhan ekonomi sebesar 5,61%, inflasi yang tetap terkendali, serta optimisme konsumen.

Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian sekaligus Ketua Tim Pelaksana Dewan Nasional KEK, Susiwijono Moegiarso, mengatakan daya tarik kawasan ekonomi khusus tidak hanya ditentukan oleh berbagai fasilitas yang diberikan pemerintah.

Baca Juga: Danantara Tunda Terbitkan Obligasi Dolar, Investor Minta Yield Lebih Tinggi

Menurut dia, investor juga mempertimbangkan kepastian regulasi, kecepatan penyelesaian berbagai kendala di lapangan, serta komunikasi yang baik antara pemerintah dan pelaku usaha.

"Kepercayaan investor tidak hanya dibangun melalui insentif, tetapi juga melalui kepastian regulasi, penyelesaian hambatan secara cepat, dan komunikasi yang konsisten antara pemerintah dengan dunia usaha," ujar Susiwijono dalam keterangannya, Minggu (2/8).

Ia menjelaskan pemerintah terus memperkuat daya saing KEK melalui pengembangan sektor-sektor strategis, mulai dari hilirisasi industri, ekonomi digital, pariwisata, pendidikan, hingga peningkatan kualitas sumber daya manusia.

Pada sektor hilirisasi, pemerintah mengembangkan KEK Galang Batang yang ditargetkan mampu mengintegrasikan produksi hingga 12 juta ton bauksit, 4 juta ton smelter grade alumina (SGA), serta 2 juta ton aluminium ingot setiap tahun.

Sementara di sektor digital, pengembangan diarahkan pada pembangunan pusat data (data center), pengembangan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), serta penguatan konektivitas internasional melalui kabel bawah laut Nongsa–Changi Cable sepanjang 50 kilometer dengan kapasitas 1,6 petabit per detik.

Pengembangan kawasan juga menyasar sektor pendidikan dan pariwisata. Salah satunya melalui kolaborasi KEK Singhasari dengan King's College London, serta program pelatihan vokasi bersama Kementerian Ketenagakerjaan yang didukung anggaran Rp 6,26 triliun.

Berdasarkan data sementara hingga 28 Juli 2026, total investasi kumulatif yang telah masuk ke seluruh KEK mencapai Rp 368 triliun. Nilai tersebut berasal dari 444 badan usaha dan pelaku usaha dengan total penyerapan tenaga kerja mencapai 283.234 orang.

Pelaksana Tugas (Plt.) Sekretaris Jenderal Dewan Nasional KEK, Rizal Edwin Manansang, mengatakan kawasan ekonomi khusus kini menjadi salah satu motor transformasi ekonomi nasional.

Menurut dia, pengembangan KEK tidak lagi hanya berorientasi pada kawasan industri konvensional, tetapi juga mencakup hilirisasi, advanced manufacturing, layanan kesehatan internasional, hingga pengembangan ekosistem energi hijau.

Baca Juga: Harga BBM Pertamina Non-Subsidi Turun per 1 Agustus 2026, Cek Daftar Harga Pertamax

Sejumlah proyek investasi strategis pun tengah berjalan di berbagai KEK. Di KEK Gresik, PT GEABH Joint Technology berencana menginvestasikan US$ 600 juta untuk membangun pabrik melamin pertama dan terbesar di Indonesia dengan kapasitas produksi 120.000 ton per tahun.

Di KEK Sei Mangkei, PT Evyap Sabun Indonesia telah merealisasikan investasi sebesar US$ 130 juta untuk mendukung hilirisasi industri kelapa sawit.

Sementara itu, pembangunan pabrik PT Hoi Fu di KEK Kendal dengan nilai investasi Rp 1,12 triliun diproyeksikan mampu menyerap sekitar 1.000 tenaga kerja. Adapun KEK Industropolis Batang memperkuat pengembangan energi hijau melalui penandatanganan dua nota kesepahaman dengan investor asal Hungaria.

Ke depan, pemerintah menyatakan evaluasi terhadap kinerja KEK akan lebih menitikberatkan pada dampak ekonomi yang dihasilkan, bukan sekadar nilai investasi yang berhasil dihimpun.

Wakil Ketua II Tim Pelaksana Dewan Nasional KEK, Budi Santoso, mengatakan ukuran keberhasilan kawasan akan mencakup penciptaan lapangan kerja, peningkatan nilai tambah, serta manfaat ekonomi yang dirasakan masyarakat.

Karena itu, pemerintah akan menerapkan evaluasi berbasis hasil (outcome) yang disesuaikan dengan karakteristik masing-masing kawasan.

Untuk KEK industri, indikator utama meliputi nilai ekspor dan produktivitas. Sementara pada KEK pariwisata, penilaian akan mempertimbangkan jumlah kunjungan wisatawan dan pertumbuhan UMKM. Adapun KEK digital akan lebih difokuskan pada kemampuan menyerap tenaga kerja terampil.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News