Kekayaan Ellison Tergerus: Saham Oracle Anjlok, Miliarder Tersalip!



KONTAN.CO.ID -  Pergeseran peringkat miliarder dunia kembali terjadi seiring dengan fluktuasi pasar modal Amerika Serikat.

Chairman Oracle, Larry Ellison, harus merelakan posisinya tersalip oleh pendiri Meta, Mark Zuckerberg, dalam jajaran orang terkaya di dunia setelah saham Oracle mengalami koreksi pada perdagangan Selasa waktu setempat.

Penurunan ini terjadi meski Oracle baru-baru ini menyepakati kerja sama strategis sebagai pemegang saham utama di bisnis TikTok wilayah Amerika Serikat.


Kondisi tersebut menunjukkan adanya sentimen pasar yang dinamis terhadap emiten teknologi yang sedang gencar melakukan ekspansi infrastruktur kecerdasan buatan (AI) tersebut.

Baca Juga: Skandal Suap Huawei Singapura: Eks Direktur Dijebloskan ke Penjara

Koreksi Harga Saham Oracle dan Dampak Valuasi

Dilansir Forbes, saham Oracle terpantau melemah 2,3% ke level US$ 178,10 atau sekitar Rp 2,97 juta per lembar saham dengan kurs terbaru Rp 16.727 per US$.

Penurunan ini menambah daftar rapor merah saham Oracle yang secara akumulatif telah terkoreksi lebih dari 9% sepanjang tahun ini.

Dinamika pasar ini memberikan dampak langsung terhadap kekayaan pribadi Larry Ellison.

Menurut data dari daftar miliarder real-time Forbes, nilai kekayaan bersih Ellison berkurang sebesar US$ 5,3 miliar atau setara Rp 88,65 triliun dalam satu hari perdagangan.

Saat ini, Ellison menempati peringkat keenam orang terkaya dunia dengan total kekayaan senilai US$ 225,8 miliar yang jika dikonversi mencapai Rp 3.776,9 triliun.

Angka tersebut menempatkannya tepat di bawah Mark Zuckerberg yang memiliki kekayaan US$ 229,6 miliar atau Rp 3.840,5 triliun dan Jeff Bezos dengan nilai US$ 251,3 miliar atau setara Rp 4.203,5 triliun.

Analisis Pasar dan Proyeksi Pengeluaran Infrastruktur

Tekanan pada harga saham Oracle diduga bersumber dari pesimisme beberapa analis ekonomi mengenai prospek finansial perusahaan di masa depan.

Mengutip analisis dari Morgan Stanley yang dipimpin oleh Keith Weiss, target harga saham Oracle dipangkas sebesar 33% menjadi US$ 213 dari sebelumnya US$ 320 per lembar saham.

Alasan utama di balik pemangkasan target harga tersebut adalah kekhawatiran terkait ekspansi infrastruktur skala besar yang dilakukan perusahaan.

Para analis berpendapat bahwa pengembangan infrastruktur tersebut berpotensi menurunkan laba Oracle serta meningkatkan pengeluaran modal (capital spending) melampaui ekspektasi pasar sebelumnya.

Tonton: Antam (ANTM) Buka Suara Soal Potensi Ambil Alih Tambang Agincourt

Berikut adalah beberapa fakta krusial terkait pergerakan saham Oracle:

  • Saham Oracle telah merosot hampir 49% sejak menyentuh titik tertinggi sepanjang masa di level US$ 345,72 pada 10 September lalu.
  • Target harga rata-rata Wall Street untuk saham Oracle berada pada angka US$ 289 menurut data FactSet.
  • Oracle saat ini memegang 15% saham di TikTok Amerika Serikat dan bertanggung jawab mengelola data pengguna di wilayah tersebut.

Tantangan Hukum dan Sentimen Investasi AI

Di sisi lain, Oracle juga tengah menghadapi tantangan hukum dari para pemegang obligasi. Melansir informasi dari Forbes, perusahaan digugat karena dianggap gagal mengungkapkan rencana penambahan utang yang signifikan untuk membiayai ekspansi infrastruktur AI mereka.

Sentimen investor tampak mulai bergeser sejak akhir tahun lalu, yang sebagian dipicu oleh proyeksi ambisius dari CEO Oracle, Safra Catz.

Manajemen memproyeksikan pendapatan perusahaan akan naik dua kali lipat menjadi US$ 32 miliar pada tahun fiskal 2027, sebelum melonjak hingga US$ 144 miliar dalam tiga tahun berikutnya.

Namun, rencana ekspansi yang padat modal ini memicu keraguan di kalangan pelaku pasar mengenai keberlanjutan margin laba.

Sejauh ini, pihak Oracle belum memberikan tanggapan resmi terkait gugatan maupun penurunan nilai pasar tersebut.

Situasi ini terus dipantau oleh para investor global, mengingat posisi Oracle yang kini menjadi pemain kunci dalam kedaulatan data digital di Amerika Serikat melalui kemitraan dengan TikTok dan pengembangan ekosistem kecerdasan buatan.

Selanjutnya: Peluang Karier Kalbe Farma 2026: Raih Posisi Impian di Industri Farmasi!

Menarik Dibaca: Masuki Usia 35 Tahun, Ini Upaya McDonalds Indonesia Untuk Konsumen

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News