Kekhawatiran Saham AI Picu Perburuan US Treasury, Dolar AS Melemah



KONTAN.CO.ID - Nilai tukar yen Jepang bergerak stabil terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Jumat (30/10/2026), menjelang pengumuman kebijakan suku bunga Bank of Japan (BOJ).

Sementara itu, dolar AS melemah seiring penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS atau US Treasury di tengah meningkatnya kekhawatiran investor terhadap saham-saham berbasis kecerdasan buatan (AI).

Baca Juga: Ekspor Vietnam Melonjak 27,4%, Nilainya Diperkirakan Tembus US$ 499 Miliar


Pasar memperkirakan BOJ akan mempertahankan suku bunga acuannya di level 1,25%. Meski demikian, pelaku pasar mencermati kemungkinan bank sentral Jepang tersebut memberikan sinyal kebijakan yang lebih hawkish atau ketat.

Saat ini, pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga BOJ pada Desember mencapai sekitar 80%, di tengah tekanan inflasi yang masih tinggi.

Yen tercatat melemah tipis ke kisaran 157,815 per dolar AS. Sepanjang Oktober, mata uang Jepang tersebut berada di jalur pelemahan sekitar 0,2% terhadap greenback.

Keputusan BOJ akan menutup rangkaian pertemuan sejumlah bank sentral utama dunia pekan ini. Bank Sentral Eropa (ECB), Federal Reserve (The Fed), dan Reserve Bank of New Zealand (RBNZ) sebelumnya memilih mempertahankan suku bunga acuannya.

Meski mengambil sikap menahan suku bunga, bank-bank sentral tersebut belum sepenuhnya mengakhiri siklus pengetatan moneter.

Baca Juga: Saham Bank dan Energi Naik, Bursa Australia Sentuh Level Tertinggi 7 Pekan

Harga energi yang masih tinggi dan ketidakpastian konflik di Timur Tengah menjadi faktor yang berpotensi menjaga tekanan inflasi.

Kepala Riset Asia ANZ Khoon Goh menilai, jeda kenaikan suku bunga saat ini kemungkinan hanya bersifat sementara.

"Saya pikir ini hanya jeda sementara. Siklus pengetatan moneter global masih akan berlanjut dan tetap menjadi salah satu faktor penggerak pasar valuta asing," ujar Goh.

Menurut dia, perhatian pasar juga akan tertuju pada arah kebijakan moneter memasuki 2027, terutama jika tekanan inflasi tetap tinggi dan mendorong bank sentral kembali menaikkan suku bunga.

Di pasar valuta asing lainnya, euro bergerak stagnan di US$ 1,1185 setelah sempat menyentuh level terendah sejak Mei 2025 pada perdagangan sebelumnya. Euro tercatat berpotensi melemah 1,2% sepanjang Oktober.

Poundsterling menguat 0,1% ke US$ 1,3390 dan mencatatkan kenaikan sekitar 1% sepanjang bulan ini. Dolar Australia relatif stabil di US$ 0,7030, sedangkan dolar Selandia Baru melemah tipis ke US$ 0,5626.

Baca Juga: Korea Selatan Peringatkan Ancaman Rudal Korut di Forum Pertahanan ASEAN

Kekhawatiran AI Picu Perburuan Aset Aman

Indeks dolar AS yang mengukur kekuatan greenback terhadap sejumlah mata uang utama dunia melemah tipis ke level 101,77.

Namun, indeks tersebut masih berada di jalur penguatan sekitar 0,3% sepanjang Oktober dan berpotensi mencatatkan kenaikan bulanan selama dua bulan berturut-turut.

Tekanan terhadap dolar AS antara lain berasal dari penurunan imbal hasil US Treasury. Obligasi pemerintah AS kembali diburu investor sebagai aset lindung nilai setelah kekhawatiran terhadap belanja perusahaan teknologi untuk pengembangan AI memicu aksi jual saham.

Hasil kinerja Alphabet pada awal pekan ini kembali memunculkan kekhawatiran pasar mengenai besarnya belanja investasi untuk teknologi AI.

Sentimen tersebut menekan pasar saham secara lebih luas dan mendorong investor beralih ke aset yang dinilai lebih aman, termasuk obligasi pemerintah AS.

Imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun tercatat sebesar 4,8958%, sedangkan tenor 30 tahun turun ke 5,2623%. Keduanya berada di level terendah dalam lebih dari satu bulan.

Baca Juga: Korea Selatan Peringatkan Ancaman Rudal Korut di Forum Pertahanan ASEAN

Strategis valuta asing OCBC Sim Moh Siong menilai, respons pasar kali ini berbeda dari pola pelemahan aset berisiko yang biasanya dipicu kenaikan harga energi.

Menurut dia, kekhawatiran terhadap sektor AI di AS justru diikuti penurunan imbal hasil US Treasury dan pelemahan atau pergerakan terbatas dolar AS.

Kondisi ini berbeda dengan situasi ketika kenaikan harga energi biasanya mendorong penguatan dolar AS sekaligus kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS.

Di sisi lain, harga minyak masih bertahan di level tinggi. Kontrak berjangka Brent bahkan berada di jalur kenaikan 11,5% sepanjang Oktober dan berpotensi mencatatkan kenaikan bulanan selama empat bulan berturut-turut. Ini menjadi tren kenaikan terpanjang dalam lebih dari dua tahun.