Kekuatan Partai Buruh dan Konservatif Seimbang



SIDNEY. Sabtu (21/8), Australia kembali menyelenggarakan pemilihan umum (Pemilu) untuk memilih pemerintahan baru. Ada kemungkinan Partai Konservatif yang didukung oleh koalisi partai minoritas memenangi Pemilu. Jika hal ini terjadi, investor harus siap menghadapi skenario terburuk.

Jajak pendapat Reuters menunjukkan dukungan untuk Partai Buruh dan Partai Konservatif seimbang 50:50. Wakil Menteri Keuangan Chris Bowen, yang merupakan anggota senior Partai Buruh, menilai persaingan dalam Pemilu kali ini semakin ketat. "Persaingannya sedemikian dekat sehingga keduanya memiliki peluang yang sama," tutur Bowen, Jumat (20/8).

Ketidakpastian mengenai siapa calon pemenang Pemilu ini membuat pelaku pasar resah. "Faktanya, sekitar 40% saham di bursa Australia dimiliki oleh investor asing, ketidakpastian ini bisa berdampak buruk ke pasar," ujar Savanth Sebastian, Analis Saham CommSec. Jika koalisi minoritas yang dipimpin Partai Konservatif menang, Sebastian memperkirakan nilai tukar dolar Australia (aussie) terhadap mata uang utama dunia bakal tertekan. Begitu pula harga saham di bursa.


Jika Perdana Menteri Julia Gillard -yang merupakan kandidat dari Partai Buruh- menang tipis, rencananya untuk melanjutkan penerapan pajak tambang 30% bisa batal. Senat pasti tidak akan mudah menyetujui usulan pajak tersebut.

Gillard, yang terpilih menggantikan Kevin Rudd pada 24 Juni lalu, harus berjuang untuk meraih simpati dari calon pemilih. Rabu (18/8) lalu, jajak pendapat Reuters menunjukkan Partai Buruh masih berpeluang menang tipis. Dukungan untuk Gillard sebagai kandidat perdana menteri sedikit lebih tinggi ketimbang dukungan untuk Tony Abbot, kandidat dari Partai Konservatif. Survei lain yang diselenggarakan Galaxy juga menunjukkan dukungan untuk Gillard mencapai 52%, sisanya untuk Abbot.