KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Masyarakat menengah bawah masih saja terhimpit, ini terlihat dari kemampuan masyarakat untuk menabung di perbankan masih lesu. Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mencatat, simpanan rata-rata simpanan masyarakat di bawah Rp 100 juta pada Januari 2026 hanya tumbuh 3,6% secara tahunan atau year on year (yoy) dari Januari 2025 yang tumbuh 4,8%. Tapi pertumbuhannya terlihat mulai membaik dari Desember 2025 yang tumbuh 3,4%. Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira, mengungkapkan setidaknya ada empat faktor yang membuat simpanan masyarakat lesu.
Pertama, pendapatan riil masyarakat tergerus inflasi pangan. Kedua, lapangan pekerjaan formal semakin terbatas. Ketiga, dampak efisiensi anggaran di daerah mulai dirasakan masyarakat. Keempat, beban cicilan rumah tangga mulai dari kendaraan bermotor, rumah, hingga pinjaman online yang semakin besar.
Baca Juga: Investor Domestik Ambil Alih Saham Perbankan, Asing Justru Keluar “Tren penurunan menabung bisa berlanjut. Ada juga kekhawatiran biaya kesehatan naik pasca perubahan data PBI BPJS, sehingga masyarakat menengah bawah mengeluarkan lebih banyak uang, sebagian dari tabungan,” ujar Bhima kepada kontan.co.id, Senin (23/2). Ia menyarankan perbankan lebih agresif menawarkan produk deposito kepada nasabah giro serta memperluas kerja sama dengan berbagai platform untuk pembukaan tabungan secara online guna menjaga basis dana. Di sisi perbankan, Head of Deposit Product Management Bank Mandiri, Mega Ekaputri Pujianto, mengakui simpanan masyarakat kelas menengah bawah di Bank Mandiri masih tumbuh positif, meskipun lajunya cenderung melambat dibandingkan periode sebelumnya. Ia mengatakan, di tengah tekanan daya beli dan meningkatnya kebutuhan konsumsi rumah tangga, pertumbuhan DPK dari segmen ritel tetap terjaga di kisaran di atas 6% secara tahunan. "Kondisi ini menunjukkan bahwa meskipun terdapat tekanan pada kemampuan menabung, kepercayaan masyarakat terhadap perbankan, khususnya Bank Mandiri, masih cukup baik," kata Mega. Menurutnya, sentimen yang memengaruhi terutama berasal dari faktor daya beli yang belum pulih sepenuhnya serta kecenderungan masyarakat menggunakan simpanan untuk kebutuhan konsumsi. Untuk 2026, Bank Mandiri menargetkan pertumbuhan simpanan secara keseluruhan di kisaran 8%–9%. Strategi yang ditempuh antara lain memperkuat basis dana murah (CASA), mengoptimalkan fitur digital melalui super app Livin’ by Mandiri, menghadirkan produk tabungan yang relevan, serta mendorong literasi dan akuisisi nasabah ritel.
Baca Juga: BCA Catat Outstanding Pinjaman Konsumer Lainnya Rp 20,3 triliun pada Desember 2025 Senada, Direktur Network and Retail Funding Bank Tabungan Negara (BTN), Rully Setiawan, mengakui tren industri simpanan masyarakat menengah bawah mengalami tekanan. Namun di BTN, perkembangan dinilai relatif stabil. Untuk simpanan dengan saldo di bawah Rp 500 juta, secara tahunan produk tabungan dan giro masih mencatatkan peningkatan. Sementara deposito mengalami penurunan di seluruh segmen akibat penyesuaian suku bunga. "Meski begitu, Januari 2026 mulai menunjukkan peningkatan dibandingkan Desember 2025, meski belum signifikan. Hal ini menandakan adanya sentimen positif yang mulai tumbuh,” kata Rully.
BTN pada 2026 fokus memperkuat CASA yang berbiaya rendah dan berkelanjutan, dengan menyasar segmen gaya hidup, payroll, dan UMKM. Strategi lain meliputi kemudahan pembukaan rekening, perluasan layanan digital, program literasi keuangan, kampanye menabung sejak dini, hingga program reward dan bundling dengan produk pembiayaan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News