Kelas Menengah Menyusut, Andalkan Pendapatan Tambahan untuk Bertahan Hidup



KONTAN.CO.ID - JAKARTA.  Beberapa tahun terakhir, jumlah kelas menengah di Indonesia menunjukkan tren penurunan. Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) mencatat, proporsi kelas menengah turun dari 21,5% pada tahun 2019 menjadi 16,9% pada tahun 2024.

Di saat yang sama, kelompok menuju kelas menengah (aspiring middle class) meningkat hingga mencapai 48,8% pada 2024. Padahal, Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) sebelumnya memperkirakan Indonesia berpeluang menjadi negara maju pada tahun 2045 jika proporsi kelas menengah mencapai 70% dari total penduduk.

Kelas menengah memiliki peran krusial dalam perekonomian nasional. Pada 2024, kelompok ini menyumbang 81,5% dari total konsumsi rumah tangga. Sementara konsumsi rumah tangga menjadi kontributor utama terhadap produk domestik bruto (PDB) dengan porsi 58,8%. Kelas menengah memang selalu menarik perhatian. Maka, Katadata Insight Center kembali merilis laporan flagship Katadata Indonesia Middle Class Insight (KIMCI), "Middle class merupakan kunci perubahan negara dan society," ujar Co Founder & CEO Katadata Indonesia, Metta Dharmasaputra, dalam keterangannya, Rabu (15/4).


Hasil riset juga menunjukkan perubahan perilaku di kalangan kelas menengah. Banyak dari mereka kini tidak lagi mengandalkan satu sumber pendapatan.

Baca Juga: Lapangan Kerja Susut Tekan Kelas Menengah, Ini Langkah Pemerintah

Bagi kelas menengah, satu sumber pendapatan tidak lagi cukup untuk memberikan kepastian. Pekerjaan sampingan bukan sekadar tambahan, melainkan lapisan pengaman.

Kondisi tersebut mencerminkan upaya kelas menengah dalam membangun strategi hidup yang lebih adaptif terhadap ketidakpastian ekonomi.

Pada saat yang sama, pola konsumsi semakin bijak. Keputusan belanja tidak semata-mata ditentukan harga yang paling murah, tetapi nilai. 

Dari sisi kebijakan, peran pemerintah dinilai tetap krusial dalam menjaga keberlanjutan kelas menengah. Mulai dari menjaga daya beli, mengendalikan biaya hidup, memperluas akses pekerjaan, hingga menghadirkan perlindungan sosial yang adaptif.

Kelas menengah bukan hanya tentang perlindungan, tetapi memastikan mereka tetap tumbuh dan berkontribusi secara berkelanjutan.

Riset tersebut juga menyoroti sejumlah strategi yang mulai ditempuh kelas menengah untuk bertahan. Mulai dari memanfaatkan teknologi seperti kecerdasan buatan (AI) guna meningkatkan produktivitas, hingga mempelajari keterampilan baru.

Secara keseluruhan, laporan ini memotret kondisi kelas menengah Indonesia dari sisi perilaku konsumsi hingga sentimen ekonomi, sekaligus menjadi gambaran dinamika kelompok ini di tengah tekanan ekonomi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News