Kelebihan Pasokan Menekan Industri, Raksasa Panel Surya China Pangkas Jumlah Pekerja



KONTAN.CO.ID - BEIJING. Industri panel surya China masih menghadapi tekanan keuangan meskipun permintaan energi terbarukan terus meningkat.

Lima produsen panel surya terbesar di negara tersebut memangkas jumlah tenaga kerja hingga 21% sepanjang 2025, di tengah upaya pemerintah mengatasi kelebihan kapasitas produksi yang belum berhasil memulihkan profitabilitas industri.

Mengutip laporan Reuters, Rabu (14/10/2026), perusahaan Longi Green Energy, Trina Solar, Jinko Solar, JA Solar, dan Tongwei mempekerjakan total 154.061 orang pada akhir 2025. Jumlah tersebut berkurang 40.589 orang dibandingkan dengan tahun sebelumnya, berdasarkan penelaahan Reuters terhadap laporan perusahaan.


Pengurangan tenaga kerja tersebut melanjutkan tren yang terjadi pada 2024, ketika jumlah karyawan kelima perusahaan itu telah menyusut 31%. Dengan demikian, sepanjang 2024–2025, kelima produsen tersebut kehilangan sekitar separuh dari total tenaga kerja mereka.

Tidak satu pun dari perusahaan tersebut secara terbuka mengumumkan pemutusan hubungan kerja (PHK) selama periode tersebut. Kelimanya juga tidak memberikan tanggapan atas permintaan komentar dari Reuters.

Fenomena ini mencerminkan paradoks industri energi surya China. Di satu sisi, permintaan energi surya terus berkembang, terutama ketika krisis di Selat Hormuz memperkuat urgensi ketahanan energi dan mendorong perhatian terhadap sumber energi terbarukan. Namun, di sisi lain, produsen panel surya China masih bergulat dengan kerugian finansial.

Baca Juga: Impor Batubara China Turun 6% pada September, Pasokan Indonesia Terkendala

Kapasitas produksi industri panel surya China bahkan diperkirakan telah mencapai sekitar dua kali lipat dari kebutuhan pasar global. Kondisi kelebihan pasokan tersebut membuat perusahaan terus merugi, baik secara individual maupun kolektif, selama bertahun-tahun meskipun pemasangan panel surya global mencatat rekor.

Kelebihan kapasitas menekan harga panel surya China

Upaya untuk mengatasi persoalan kelebihan kapasitas sebenarnya telah dilakukan. Pada 2025, sekelompok produsen polisilikon terkemuka China meluncurkan rencana konsolidasi sektor hulu dengan tujuan mengurangi kapasitas produksi dan meningkatkan harga di sepanjang rantai industri.

Namun, menurut para analis, rencana tersebut tidak berjalan sesuai harapan akibat terbatasnya dukungan dari pelaku industri.

Analis Jefferies, Alan Lau, mengatakan bahwa penyelesaian masalah kelebihan kapasitas secara cepat membutuhkan langkah konsolidasi yang signifikan.

"Satu-satunya cara untuk menyelesaikan masalah ini dengan cepat adalah menjalankan rencana tahun lalu, yakni mengakuisisi perusahaan lain, atau tiba-tiba terjadi gempa bumi atau bencana alam sehingga separuh kapasitas produksi langsung hilang," kata Lau kepada Reuters.

Sementara itu, analis Morningstar, Cheng Wang, menilai pengurangan tenaga kerja kemungkinan masih berlanjut setelah 2025. Data yang tersedia dalam laporan perusahaan baru mencakup periode hingga akhir tahun lalu.

Tekanan terhadap industri juga meningkat pada 2026 akibat perubahan kebijakan penetapan harga energi terbarukan di China. Pemerintah mengganti skema imbal hasil yang dijamin bagi energi terbarukan dengan mekanisme lelang berbasis pasar. Perubahan tersebut turut meredam permintaan pemasangan panel surya.

Jefferies memperkirakan China akan memasang kapasitas pembangkit listrik tenaga surya sebesar 150 gigawatt (GW) hingga 200 GW pada 2026. Proyeksi ini jauh di bawah rekor pemasangan sebesar 315 GW pada 2025.

Baca Juga: Netflix Kantongi Hak Siar Piala Dunia 2030 di Spanyol dan Andorra

Pasar global juga belum menunjukkan pertumbuhan yang cukup untuk menyerap kelebihan produksi. Volume ekspor sel dan panel surya China turun 10% secara tahunan selama Januari–Agustus 2026.

Harga jual panel surya anjlok, margin perusahaan negatif

Pemangkasan tenaga kerja membantu produsen mengurangi biaya operasional. Namun, langkah tersebut belum cukup untuk menyelesaikan persoalan mendasar industri, yakni harga jual produk yang berada di bawah biaya produksi.

Menurut perusahaan konsultan riset teknologi energi Thunder Said Energy, harga jual rata-rata modul surya dari lima produsen terbesar China turun menjadi US$ 130 per kilowatt pada 2025, dari US$ 350 per kilowatt pada 2019.

Pada saat yang sama, rata-rata margin EBIT kelima produsen tersebut memburuk menjadi minus 13% pada 2025, dibandingkan minus 8% pada 2024.

Margin EBIT atau laba sebelum bunga dan pajak mengukur kemampuan perusahaan menghasilkan keuntungan operasional setelah memperhitungkan biaya dan beban operasional. Angka negatif menunjukkan bahwa perusahaan mengalami kerugian pada tingkat operasional.

Lau menegaskan bahwa penghematan biaya tidak akan banyak membantu apabila perusahaan belum mampu menghasilkan margin kotor yang positif.

"Jika Anda tidak menghasilkan margin kotor, sebanyak apa pun biaya yang dipangkas, pada dasarnya hal itu hanya mengurangi kerugian," ujar Lau.

Laporan perusahaan juga menunjukkan bahwa penyusutan tenaga kerja terkonsentrasi pada fungsi produksi, penelitian dan pengembangan (R&D), serta administrasi.

Trina Solar melaporkan tingkat pergantian karyawan secara sukarela sebesar 18% hingga 19% pada 2025. Sementara itu, jumlah tenaga kerja teknis Tongwei turun 21%, sedangkan Longi Green Energy memangkas belanja penelitian dan pengembangan sebesar 15% pada tahun yang sama.

Data tersebut menunjukkan bahwa tekanan industri tidak hanya berdampak pada kapasitas produksi, tetapi juga pada tenaga kerja dan investasi untuk pengembangan teknologi.

Standar baru China berpotensi mengurangi kelebihan pasokan

Meski tekanan terhadap industri masih berlangsung, Morningstar menilai sektor panel surya China mungkin mulai mendekati titik terendah dari siklus penurunannya.

Cheng Wang mengatakan kelebihan kapasitas memburuk pada 2026 karena permintaan menyusut dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Meski demikian, kondisi tersebut dinilai berpotensi menjadi fase akhir dari tekanan terburuk yang dialami industri.

Baca Juga: IMF Mendesak Negara Anggota untuk Menambah Dana Bagi Negara Berpenghasilan Rendah

Salah satu faktor yang dapat memengaruhi keseimbangan pasar adalah penerapan standar baru efisiensi energi untuk produksi polisilikon dan wafer, serta aturan efisiensi modul surya di China.

Standar tersebut dijadwalkan mulai berlaku pada 1 Januari 2027. Persyaratan yang lebih ketat berpotensi mengurangi kapasitas berlebih karena proyek yang tidak memenuhi ketentuan baru dapat dipaksa menghentikan operasinya.

Kebijakan tersebut diharapkan membantu menyingkirkan fasilitas produksi yang tidak efisien dan memperbaiki keseimbangan antara pasokan dan permintaan.

Namun, pemulihan industri diperkirakan tidak berlangsung seketika. Kelebihan kapasitas masih berpotensi bertahan sepanjang 2027, meskipun tekanan terburuk diperkirakan mulai mereda.

"Meski kelebihan kapasitas diperkirakan masih berlanjut pada 2027, kami meyakini bahwa fase terburuk dari penurunan industri ini akan segera berlalu," kata Wang kepada Reuters.