Kelola Armada Sendiri, Laba DEWA Naik 111%, Tapi Kenapa Target Harga Dipangkas?



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Rencana PT Darma Henwa Tbk (DEWA) untuk memiliki dan mengelola armadanya sendiri dinilai sudah tepat. Namun, dalam jangka pendek, perusahaan masih menghadapi kenaikan biaya depresiasi dan biaya pendanaan.

Analis BRI Danareksa Sekuritas Erindra Krisnawan dalam riset 20 Agustus 2026 mengatakan, hasil kinerja DEWA pada kuartal II 2026 mulai menunjukkan manfaat dari internalisasi armada di Bengalon. Langkah tersebut mendorong margin EBITDA meningkat menjadi 29,8% pada kuartal II 2026 dari 28,5% pada kuartal I 2026.

Pendapatan DEWA pada semester I 2026 juga tumbuh 3% secara tahunan (year on year/yoy) menjadi Rp 3,21 triliun.


Baca Juga: Saham Janu Putra Sejahtera (AYAM) Masuk Radar UMA, Ini Sebabnya

Meski demikian, laba bersih DEWA melonjak 111% yoy menjadi Rp 354 miliar pada semester I 2026. Kenaikan tersebut terutama ditopang keuntungan nilai wajar (fair value gain) sebesar Rp 229,4 miliar dari Pendopo Coal.

Jika tidak memperhitungkan keuntungan tersebut, laba inti DEWA justru turun 7% yoy menjadi Rp 158 miliar. Erindra menyebut penurunan laba inti dipengaruhi kenaikan depresiasi akibat belanja modal (capex) serta biaya keuangan yang lebih tinggi.

Biaya keuangan tersebut termasuk denda pembiayaan kembali (refinancing penalty) satu kali sebesar Rp 45,6 miliar atas fasilitas sindikasi BCA-Mandiri senilai Rp 4,54 triliun.

"Kami melihat tekanan terhadap laba tersebut bersifat sementara dan memperkirakan profitabilitas akan kembali pulih pada semester II 2026, seiring internalisasi penuh armada Bengalon selama satu kuartal dan peningkatan aktivitas proyek Sebuku," ujar Erindra.

RKAB jadi pelindung volume DEWA

Menurut Erindra, sektor kontraktor pertambangan saat ini menghadapi tekanan berat setelah kuota Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026 dipangkas menjadi sekitar 600 juta ton, dibandingkan 790 juta ton sebelumnya dan realisasi produksi 817 juta ton pada 2025.

Pemangkasan tersebut meningkatkan risiko armada menganggur serta tekanan terhadap neraca keuangan perusahaan kontraktor pertambangan.

Dalam kondisi tersebut, ruang DEWA untuk berekspansi secara eksternal dinilai relatif terbatas. Setelah SIS milik ADRO tetap menjadi kontraktor internal bagi grupnya, DEWA dengan net gearing 0,48 kali terutama bersaing dengan United Tractors (UNTR) yang memiliki posisi kas bersih serta ABM Investama (ABMM) dengan net gearing 0,78 kali.

Erindra menilai fokus DEWA terhadap aset-aset milik BUMI, yakni Kaltim Prima Coal (KPC) dan Arutmin Indonesia, menjadi semacam defensive moat bagi perseroan.

Pasalnya, perusahaan tambang di luar skema CCOW/IUPK disebut berhasil mendapatkan 100% dari proposal RKAB mereka. Kepastian volume tersebut menjadi keunggulan bagi DEWA dalam mempertahankan utilisasi armadanya.

"Didukung kepastian volume, DEWA menawarkan ASP yang kompetitif sebesar US$ 2,20 per bcm, sekitar 30%–40% lebih rendah dibandingkan estimasi tarif sejumlah pesaing utama," kata Erindra.

Baca Juga: Oxala Energy International (PIPA) Ungkap Progres Rencana Akuisisi Perusahaan Gas Alam

Keunggulan biaya tersebut didukung penggunaan armada asal China yang memiliki biaya sekitar 70%–80% dari armada merek Barat/Jepang, serta penggunaan unit hybrid seperti RTH100 di proyek Sebuku.

Strategi tersebut dinilai menempatkan DEWA pada posisi yang baik untuk menangkap permintaan terhadap jasa kontraktor pertambangan yang lebih efisien dari sisi biaya dan konsumsi bahan bakar.

BRI Danareksa Sekuritas mempertahankan rekomendasi buy untuk saham DEWA. Namun, target harga berbasis sum-of-the-parts (SOTP) diturunkan menjadi Rp 530 per saham dari sebelumnya Rp 550.

Penurunan target harga tersebut mencerminkan revisi proyeksi yang memperhitungkan belanja modal yang lebih besar di awal serta percepatan internalisasi armada.

Proyeksi capex DEWA untuk tahun buku 2026 dinaikkan menjadi Rp 2,55 triliun dari sebelumnya Rp 833 miliar. Kenaikan tersebut diperkirakan menekan laba bersih 2026 sebesar 9,7% menjadi Rp 676 miliar akibat peningkatan depresiasi dan biaya pendanaan.

Namun, percepatan penggunaan armada milik sendiri diperkirakan memberikan manfaat lebih besar dalam jangka menengah. Margin EBITDA DEWA diproyeksikan mencapai 30,1% pada 2026 dan meningkat menjadi 34,3% pada 2027.

Laba bersih 2027 juga diperkirakan mencapai Rp 1,64 triliun, naik 7,6% dari proyeksi sebelumnya dan melonjak 143% yoy.

"DEWA diperdagangkan pada 23,9 kali P/E berdasarkan estimasi 2026, dengan dukungan kepastian volume di KPC dan Arutmin serta opsi pertumbuhan GMR yang belum tercermin dalam valuasi," ujar Erindra.

Meski prospeknya positif, analis mewanti-wanti, sejumlah risiko tetap perlu diperhatikan investor, antara lain pembatasan RKAB, keterlambatan pengerahan armada, serta tekanan terhadap biaya operasional.

Baca Juga: Emtek (EMTK) Lepas Saham Abhimata Citra Abadi, Ini Alasan Dibalik Divestasi

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News