Keluarga korban kecewa prosedur penyerahan jenazah



JAKARTA. Keluarga korban pesawat Sukhoi Superjet 100 dengan nomor penerbangan RA 36801 merasa kecewa dengan aturan yang menyatakan bahwa jenazah korban tidak boleh dibuka petinya sebelum menandatangani surat keterangan identifikasi dan keterangan kematian. Menurut keluarga korban, hal tersebut tidak adil, karena keluarga tidak dapat mengetahui secara pasti apakah yang ada di peti jenazah tersebut merupakan bagian tubuh dari kerabat tercinta mereka atau bukan. Salah satu adik korban Edward Edo M. Panggabean, Marlin Kanter mengungkapkan bahwa pihaknya tidak terima jika keluarga tidak boleh melihat jenazah sebelum dimasukkan ke dalam peti, tanpa terlebih dahulu melakukan identifikasi sebagai anggota keluarga. "Saya tidak mau menerima jenazah di peti dalam keadaan tertutup, tanpa diperbolehkan melihat jenazah dengan alasan saya akan merasa shock," tutur Marlen di RS Kramat Jati, Jakarta, Menurut Marlen, merupakan standard operational procedure (SOP) setiap penerimaan jenazah akibat kecelakaan, pihak keluarga diperbolehkan untuk melihat jenazah terlebih dahulu, untuk memastikan apakah potongan jenazah merupakan anggota keluarganya yang menjadi korban."Tuntutan saya adalah keluarga bisa melihat jenazah keluarga meski sudah hancur lebur. Kami pasti bisa mengetahui apakah itu merupakan anggota keluarga kami. Kami tidak ingin seperti membeli \'kucing dalam karung," tandasnya. Marlen mengaku, jika keluarga tidak bisa melihat atau mengidentifikasi jenazah keluarga sebelum dimasukkan ke dalam peti, maka keluarga tidak lagi memiliki hak legalitas untuk menolak, jika memang yang di dalam peti jenazah bukanlah anggota keluarga. Masih belum jelas benar siapa yang bertanggungjawab untuk melakukan serah terima jenazah. “Kita coba melakukan konfirmasi kepada Pak Sunaryo (PT Trimarga Rekatama red), bahwa kami akan menerima keadaan tertutup dan jenazah tidak bisa dilihat. Kami baru diizinkan melihat jenazah, setelah berada dalam peti dan diterima keluarga di rumah. Mana kami tahu, kalau jenazah itu adalah keluarga kami," sesal Marlen. Selain keluarga Edward, kerabat keluarga korban Sukhoi lainnya Stephen Kamaci, yaitu Nanny Bradley menyayangkan lamanya proses identifikasi korban yang memakan waktu setidaknya selama dua pekan, serta tak diizinkan untuk memastikan korban merupakan anggota keluarga. Menurutnya, prosedur itu tidak wajar. "Kalau kami sampai tidak diperbolehkan untuk memastikan, maka penantian kami selama ini sia-sia saja. Prosedur seperti itu tidak wajar," protes Nanny. Menurutnya, berupa apa pun potongan korban, keluarga berhak untuk melihat dan memastikan bahwa korban tersebut merupakan anggota keluarganya. "Karena kalau nanti bukan keluarga kami, melainkan hanya berupa kucing, kami kan tidak tahu," tambahnya dengan emosi. Nanny menyebut bahwa keluarga akan ikhlas untuk menerima apa pun kondisi korban, dengan catatan dapat melihat dan memastikan sendiri bahwa korban merupakan anggota keluarga. "Kami siap menerima apa pun kondisinya baik itu kondisi buruk, hancur, dan sebagainya. Waktu dua minggu terlalu lama bagi kami. Kalau sudah ada yang bisa diidentifikasi, kenapa tidak langsung memberitahukan pihak keluarga tanpa harus menunggu waktu yang lama," paparnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News