Kembali Bergejolak, Harga Minyak Brent Sudah Tembus US$ 100 Per Barel



KONTAN.CO.ID - SINGAPURA. Harga minyak dunia kembali bergejolak. Bahkan, harga kontrak berjangka minyak mentah Brent yang menjadi acuan global naik melampaui level US$ 100 per barel pada Rabu (9/9/2026).

Mengutip Reuters, harga minyak Brent menembus batas psikologis tersebut untuk pertama kalinya sejak 24 Juli 2026, karena konflik yang kian memanas di Timur Tengah memicu kekhawatiran mengenai pasokan minyak dari kawasan tersebut.

Rabu (9/9/2026), kontrak berjangka minyak mentah Brent naik US$ 2,15, atau 2,2%, menjadi US$ 100,07 per barel pada pukul 07.21 GMT. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik US$ 1,70, atau 1,83%, menjadi US$ 94,73 per barel.


Harga minyak mentah Brent telah melonjak sekitar seperempat nilainya sejak awal bulan lalu seiring memudarnya harapan akan penyelesaian permanen bagi konflik AS-Iran yang telah berlangsung selama enam bulan.

Baca Juga: Morgan Stanley Borong Saham GOTO di Harga Rp 25, Nilai Transaksinya Rp 547 Miliar

Pekan ini, serangan oleh kelompok Houthi yang didukung Iran terhadap fasilitas energi Arab Saudi menyebabkan kebakaran pada instalasi minyak, sehingga memicu kekhawatiran akan meluasnya konflik secara signifikan.

Serangan Houthi tersebut dapat mengancam pengiriman minyak mentah melalui Laut Merah, yang selama ini menjadi jalur alternatif utama selain Selat Hormuz yang krusial—di mana arus minyak mentah telah sangat terganggu sejak dimulainya perang Iran pada 28 Februari.

Sejumlah bank, termasuk Goldman Sachs, Bank of America, dan HSBC, telah menaikkan perkiraan harga minyak mentah mereka dalam beberapa hari terakhir.

Pada pekan sebelum pertempuran kembali pecah pada 30 Agustus, sekitar 8 juta hingga 9 juta barel per hari (bpd) minyak mengalir melalui Selat Hormuz—dua kali lipat dari volume pekan sebelumnya—menurut Kepala Ekonom Rystad Energy, Claudio Galimberti; meskipun belakangan ini angka tersebut telah turun hingga di bawah 2 juta bpd.

Kendati produsen minyak non-OPEC—termasuk Amerika Serikat, Kanada, dan Guyana—telah meningkatkan produksi, Badan Energi Internasional (IEA) bulan lalu memperkirakan pasokan minyak global akan turun sebesar 4,3 juta barel per hari (bpd) tahun ini, atau sekitar 4%.

Baca Juga: Batas Harga Minimum BEI Dihapus, Begini Prospek Kinerja Saham GOTO

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News