KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga minyak mentah dunia kembali naik di tengah meningkatnya risiko gangguan pasokan akibat ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah. Melansir Trading Economics pada 16.36 WIB, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) berada di level US$ 84,4 per barel atau naik 2,7% secara harian dan 11,2% dalam tujuh hari terakhir. Seturut, harga minyak mentah Brent juga turut melonjak. Saat ini Brent dihargai US$ 89,6 per barel, naik 2,6% secara harian dan 13% dalam sepekan.
Analis komoditas dan founder Traderindo.com Wahyu Laksono mengatakan, rebound harga minyak tersebut merupakan respons wajar setelah mengalami koreksi dan konsolidasi seiring dengan meredanya isu geopolitik Iran. Menurutnya, kenaikan harga minyak saat ini lebih banyak didorong faktor geopolitik dan supply-disruption premium dibandingkan fundamental permintaan. Salah satu faktor utama adalah risiko geopolitik dan jalur logistik kritis. “Ketidakpastian pasokan akibat konflik di Timur Tengah, khususnya terkait akses Selat Hormuz serta ancaman keamanan pelayaran di Laut Merah dan Bab el-Mandeb, meningkatkan kekhawatiran terhadap potensi gangguan rute ekspor. Kondisi tersebut juga berpotensi meningkatkan biaya pengiriman dan premi asuransi kapal tanker,” jelas Wahyu kepada Kontan, Selasa (11/8/2026).
Baca Juga: Harga Emas Masih Bullish, Cek Level Resistance Berikutnya Di sisi lain, meskipun OPEC+ secara bertahap mulai meningkatkan kuota produksi sekitar 188.000 barel hingga 3,5 juta barel per hari, realisasi pasokan fisik di lapangan tidak serta-merta mengalir dengan lancar. Menurut Wahyu, kendala teknis dan logistik pada rute ekspor sejumlah produsen utama masih menjadi faktor yang perlu diperhatikan. Persediaan fisik yang relatif terbatas juga dapat memicu aksi short-covering pelaku pasar berjangka ketika terjadi eskalasi isu keamanan pasokan. “Fundamental demand global sebenarnya masih mengalami penurunan moderat, seperti terlihat dari revisi proyeksi konsumsi dari OPEC. Namun, faktor geopolitik dan ketakutan atas potensi gangguan pasokan atau supply shock memegang kendali dominan,” jelasnya.
Masih Akan Bergerak Volatil
Ke depan, Wahyu memperkirakan harga minyak masih akan bergerak volatil dengan potensi kenaikan yang terbatas, tetapi tetap rentan mengalami koreksi tajam. Dari sisi penahan kenaikan, salah satu faktor yang perlu dicermati adalah proyeksi permintaan global yang melambat. Kekhawatiran terhadap pelemahan pertumbuhan ekonomi di kawasan konsumen utama, seperti China dan Eropa, dapat menekan permintaan minyak. Selain itu, peningkatan produksi dari negara non-OPEC seperti AS melalui produksi shale oil, Brasil, dan Guyana berpotensi membendung kenaikan harga minyak yang terlalu ekstrem. Ekspektasi deeskalasi konflik juga menjadi risiko bagi harga minyak. Setiap kemajuan diplomasi atau pembukaan kembali jalur pelayaran yang aman dapat mengikis geopolitical risk premium sekitar US$ 5-US$ 10 per barel dengan cepat. Sebaliknya, eskalasi militer secara tiba-tiba di jalur pelayaran vital Timur Tengah dapat kembali menjadi katalis positif bagi harga minyak.
Baca Juga: Harga Minyak Memanas, Brent Berpeluang Tembus US$ 120 per Barel Kembali Selain itu, pemangkasan suku bunga lanjutan oleh bank sentral AS atau The Fed juga berpotensi menopang harga komoditas. Penurunan suku bunga yang menekan indeks dolar AS (USD) dan meningkatkan likuiditas dapat memberikan dorongan bagi harga minyak. Untuk sisa tahun 2026, Wahyu memperkirakan, harga minyak Brent berada dalam kisaran US$ 65-US$ 105 per barel. Area resistance Brent berada di sekitar US$ 90-US$ 100 per barel, sedangkan support berada di sekitar US$ 80 per barel. Sementara itu, harga WTI diproyeksikan bergerak dalam rentang US$ 60-US$ 100 per barel. Area resistance WTI berada di sekitar US$ 88-US$ 95 per barel, dengan support di sekitar US$ 75 per barel. Dengan kondisi tersebut, Wahyu menyarankan investor pasar berjangka untuk menerapkan strategi taktis jangka pendek, seperti short-term swing trading atau scalping, dengan memanfaatkan volatilitas harga harian.
Baca Juga: Rupiah Terus Tertekan ke Rp 17.820 Per Dolar AS di Tengah Hari Ini (11/8) Ia mengingatkan investor untuk tidak menahan posisi beli (long) dalam waktu lama tanpa disiplin stop-loss yang ketat. Pasalnya, premi risiko geopolitik dapat runtuh sewaktu-waktu apabila kondisi geopolitik kembali mereda. “Memanfaatkan momentum penguatan untuk melakukan aksi realisasi keuntungan atau take profit on strength jauh lebih aman dibandingkan memegang posisi pasif,” imbuhnya. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News