KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Persaingan di sektor ritel, khususnya segmen
home improvement, diperkirakan akan semakin sengit setelah jenama Ace Hardware kembali hadir di Indonesia melalui PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI). Sebagai langkah awal ekspansi, MAPI resmi membuka dua gerai perdana Ace Hardware di Indonesia pada awal Agustus 2026. Kedua gerai tersebut berlokasi di Sunter Mall, Jakarta Utara, serta AEON BSD, Serpong, Tangerang Selatan, Banten. Kembalinya jenama yang sebelumnya di bawah naungan PT Aspirasi Hidup Indonesia Tbk (ACES) itu dinilai berpotensi mengubah dinamika kompetisi pada sektor ritel.
Baca Juga: Meningkat 24,2%, Transaksi Aset Kripto Capai Rp 28,58 Triliun pada Juni 2026 Investment Analyst Infovesta Utama Ekky Topan mengatakan kembalinya ACE Hardware melalui MAPI akan membuat persaingan di segmen ritel
home improvement semakin ketat, terutama untuk konsumen menengah hingga atas. "Kembalinya merek Ace Hardware tetap menjadi ancaman karena memiliki
brand awareness yang masih kuat di Indonesia," kata Ekky kepada Kontan, Selasa (4/8/2026). Menurut Ekky, MAPI memiliki keunggulan dari sisi pengelolaan jenama internasional, jaringan pusat perbelanjaan, serta basis konsumen MAP Club. Namun, dari sisi skala, posisi ACES masih lebih unggul karena lewat jenama AZKO, perusahaan sudah memiliki jaringan gerai yang luas, pengalaman operasional, merek produk sendiri, serta ekosistem omnichannel yang lebih matang. "Jadi, dalam jangka pendek, kehadiran ACE Hardware lebih menjadi tambahan kompetisi di sejumlah lokasi, belum langsung mengubah posisi pasar AZKO secara nasional," kata Ekky kepada Kontan, Selasa (4/8/2026). Ekky menambahkan pada tahap awal, pembukaan gerai baru juga berpotensi menarik rasa penasaran konsumen dan meningkatkan trafik. Namun, ancaman terhadap ACES masih relatif terbatas dalam jangka pendek. Pasalnya, ACES tidak membangun bisnis dari awal karena seluruh jaringan, hubungan dengan pemasok, produk private label, serta basis konsumennya tetap berada di bawah AZKO. "Ancaman baru akan lebih besar apabila MAPI mampu menunjukkan produktivitas gerai yang baik dan kemudian melakukan ekspansi secara lebih agresif," tambah Ekky. Dari sisi kinerja, Ekky menyarankan investor mencermati sejumlah indikator operasional kedua emiten, mulai dari pertumbuhan
same store sales, trafik pengunjung, nilai belanja rata-rata, produktivitas gerai baru hingga perkembangan marjin. Untuk ACES, perhatian utama tertuju pada keberhasilan memperkuat identitas merek AZKO, menjaga loyalitas pelanggan serta mempertahankan marjin di tengah kenaikan biaya impor dan pelemahan rupiah. Sementara bagi MAPI, investor perlu memperhatikan besarnya biaya pembukaan gerai baru, kebutuhan modal kerja, serta seberapa cepat bisnis Ace Hardware dapat memberikan kontribusi terhadap pendapatan dan laba perseroan. Mengingat portofolio bisnis MAPI sangat terdiversifikasi, kontribusi dari Ace Hardware diperkirakan belum akan signifikan dalam waktu dekat. Secara terpisah, Analis sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas Elandry Pratama melihat dampak dari kehadiran Ace Hardware tidak akan langsung mengubah peta pasar secara signifikan. ACES melalui transformasi menjadi AZKO sudah memiliki jaringan toko yang luas, basis pelanggan loyal, serta pengalaman operasional yang kuat. Sementara itu, MAPI memiliki keunggulan dalam mengelola merek global dan eksekusi ritel premium. Dalam jangka pendek, kompetisi kemungkinan lebih banyak terjadi pada strategi promosi, pembukaan gerai, dan upaya menarik kembali pelanggan, sehingga market sentimen terhadap kedua emiten cenderung tetap positif tetapi dengan tingkat kompetisi yang lebih tinggi. "Potensi ancaman terhadap ACES kami nilai lebih bersifat terbatas dibandingkan struktural," ucap Elandry. Rebranding menjadi AZKO memang sempat menjadi tantangan, namun di sisi lain perusahaan juga telah membangun identitas baru yang lebih independen dan tidak lagi bergantung pada lisensi Ace Hardware. Di sisi lain, MAPI juga membutuhkan waktu untuk membangun kembali jaringan toko,
supply chain, serta
awareness konsumen terhadap kembalinya Ace Hardware di Indonesia. Maka dari itu, risiko terbesar kemungkinan berada pada fase awal berupa peningkatan biaya promosi dan tekanan margin, sementara dampak terhadap pangsa pasar secara keseluruhan kemungkinan baru terlihat dalam jangka menengah apabila ekspansi MAPI berlangsung agresif. Selain persaingan merek, investor sebaiknya lebih mencermati faktor fundamental. Pertama, kecepatan ekspansi gerai dan produktivitas penjualan per toko (
same store sales growth/SSSG). Kedua, kemampuan menjaga margin di tengah potensi perang promosi.
Ketiga, efektivitas pengelolaan inventori dan efisiensi
supply chain karena segmen h
ome improvement sangat bergantung pada ketersediaan produk. Terakhir, daya beli masyarakat juga tetap menjadi faktor utama karena akan memengaruhi permintaan produk rumah tangga dan renovasi. "Pada akhirnya, emiten yang mampu menjaga profitability, memperkuat ekosistem pelanggan, dan mengeksekusi ekspansi secara disiplin akan memiliki posisi yang lebih unggul dalam persaingan jangka panjang," jelas Elandry.
Rekomendasi Saham Untuk MAPI, Ekky memberikan rekomendasi
buy on weakness. Secara teknikal, tren sahamnya masih bullish kuat. Target terdekat berada di kisaran Rp2.000–Rp2.100, selama momentum kenaikan dan pertumbuhan kinerja tetap terjaga. Untuk ACES, rekomendasinya juga
buy on weakness. Target awal berada di kisaran Rp380–Rp400, dengan target lanjutan Rp450–Rp460 apabila pertumbuhan penjualan, produktivitas gerai, dan margin terus membaik. "Secara keseluruhan, MAPI lebih menarik untuk eksposur ritel yang terdiversifikasi, sedangkan ACES memberikan eksposur yang lebih langsung terhadap segmen
home improvement. Kembalinya ACE Hardware meningkatkan persaingan, tetapi dalam jangka pendek posisi AZKO masih relatif kuat," tutup Ekky.
Baca Juga: Rupiah Tembus Rp 18.027 per Dolar, Ini Prediksi Penggerakan dan Katalisnya Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News