KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Aman Agrindo Tbk (
GULA) tengah mengubah arah bisnis dari semula mengandalkan perdagangan gula menuju produsen gula terintegrasi. Strategi tersebut ditempuh dengan membangun kapasitas manufaktur sekaligus memperkuat bisnis perkebunan tebu. Emiten dengan kode saham GULA berdiri pada 2013 dan mulai menjalankan perkebunan tebu pada 2016. Setahun kemudian, GULA mulai menjual hasil panen tebu dari perkebunan seluas 50 hektare kepada pabrik gula. Langkah GULA berlanjut dengan masuk ke perdagangan gula pada 2020, sebelum memperluas produk melalui perdagangan gula cair pada 2021. Pada 2022, GULA mulai memperdagangkan gula merah dari pemasok.
Baca Juga: Rupiah Ditutup Menguat ke Rp 17.642 Per Dolar AS Hari Ini (4/9), Mayoritas Asia Naik Kegiatan utama GULA berupa perkebunan tebu, industri gula, serta perdagangan besar makanan dan minuman. Perusahaan asal Semarang ini juga menjalankan perdagangan eceran hasil pertanian sebagai kegiatan penunjang. Untuk bisnis perdagangan, GULA memperjualbelikan sejumlah jenis gula, mulai dari gula pasir, gula cair hingga gula merah. Pasokan gula berasal dari pemasok, sementara pasokan tebu berasal dari perkebunan yang dikelola GULA. Bisnis perdagangan masih menjadi penopang utama GULA hingga saat ini. Melansir laporan keuangan per 30 Juni 2026, GULA hanya mencatatkan satu segmen yaitu perdagangan, dengan penjualan mencapai Rp 144,32 miliar. Penjualan tersebut melonjak 121,6% dibandingkan Rp 65,13 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Ini menunjukkan kuatnya aktivitas perdagangan GULA memasuki paruh pertama 2026. Namun, pertumbuhan pendapatan belum sepenuhnya mengalir menjadi laba bersih. Per 30 Juni 2026, GULA membukukan laba bersih Rp 34,84 juta setelah periode sama tahun sebelumnya mencatat rugi Rp 1,62 miliar. Perbaikan juga terlihat pada laba usaha yang meningkat menjadi Rp 5,77 miliar dari Rp 2,40 miliar. Namun, beban keuangan yang mencapai Rp 5,35 miliar masih menjadi tekanan terhadap profitabilitas GULA. Di tengah bisnis perdagangan yang masih dominan, GULA mulai menyiapkan babak baru melalui manufaktur gula. Perubahan tersebut diarahkan untuk meningkatkan nilai tambah sekaligus memperbesar margin dibandingkan hanya mengandalkan aktivitas perdagangan. Direktur Utama PT Aman Agrindo Tbk GULA Andreas Utomo mengatakan transformasi menuju manufaktur menjadi bagian dari strategi jangka panjang. GULA menargetkan kontribusi bisnis manufaktur terus meningkat seiring penambahan kapasitas produksi. “Rencana kami ke depan yaitu untuk menambah terus kapasitas produksi sehingga kontribusi dari manufaktur sendiri bisa meningkat dari tahun ke tahun,” jelas dia dalam sesi diskusi virtual belum lama ini. Salah satu fokus manufaktur GULA ialah produksi
brown sugar atau gula merah. Produk tersebut menyasar kebutuhan industri, terutama produsen kecap, sekaligus memperoleh peluang dari berkembangnya penggunaan gula merah pada produk makanan dan minuman.
Baca Juga: CUAN Negosiasi Akuisisi SINI, Incar Jadi Pengendali Andreas melihat konsumsi brown sugar semakin luas karena digunakan pada berbagai produk makanan dan minuman. Penggunaan tersebut tidak lagi terbatas pada kebutuhan tradisional, tetapi mulai berkembang mengikuti tren minuman dan makanan modern. Pabrik
brown sugar GULA di Banten ditargetkan mulai berproduksi secara komersial pada kuartal IV 2026. GULA memperkirakan tingkat utilisasi mencapai 90%–95% pada tahun pertama operasional karena menggunakan mesin baru. Dengan beroperasinya fasilitas tersebut, GULA memproyeksikan pendapatan dapat tumbuh sekitar 25%–30%. Kontribusi manufaktur diperkirakan mencapai sekitar 25% pendapatan dalam dua hingga tiga tahun mendatang. “Kalau kami proyeksikan pertumbuhan pendapatan kami sebesar sekitar 25%–30% dengan penambahan pabrik gula baru tersebut,” kata Andreas. Ekspansi GULA tidak berhenti pada pembangunan fasilitas baru. GULA juga membidik akuisisi pabrik gula yang sudah beroperasi di Sragen untuk mempercepat penambahan kapasitas tanpa harus menunggu pembangunan fasilitas dari awal. Andreas bilang pembangunan pabrik gula baru membutuhkan waktu panjang karena mencakup perizinan, kajian teknis, pengadaan lahan, sosialisasi masyarakat, pembiayaan hingga konstruksi. Akuisisi dinilai menjadi opsi lebih cepat untuk memperbesar kapasitas. Pabrik yang dibidik di Sragen memiliki akses terhadap pasokan tebu dari perkebunan sekitar. Ketersediaan bahan baku menjadi pertimbangan utama GULA karena pasokan tebu merupakan salah satu tantangan terbesar dalam pengembangan industri gula nasional.
Baca Juga: Ambisi Pemeirntah Ingin Jadi Penentu Harga Komoditas Global dan Tantangannya “Kami melihat produsen pabrik gula di Sragen ini sudah berjalan beberapa tahun dan mendapat pasokan tebu dalam jumlah cukup,” tuturnya
Melalui akuisisi tersebut, GULA membidik tambahan kapasitas sekitar 1.000 ton giling tebu per hari. Tambahan tersebut setara hampir 200% dari kapasitas terpasang pabrik gula merah GULA di Banten. Dari ekspansi tersebut, GULA memperkirakan tambahan pendapatan sekitar 35%–40% atau setara Rp 175 miliar. GULA juga menargetkan tambahan EBITDA sekitar Rp 50 miliar per tahun setelah proses akuisisi selesai. Peralihan menuju manufaktur juga menjadi upaya GULA membangun bisnis gula dari hulu hingga hilir. Strategi tersebut telah menjadi bagian dari rencana usaha GULA sejak IPO, dengan tujuan meningkatkan daya saing dan pangsa pasar. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News