KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Eagle High Plantations Tbk (BWPT) terus memperkuat fokus bisnisnya di sektor perkebunan kelapa sawit guna mendorong produktivitas dan nilai tambah perseroan. Emiten dengan pengalaman lebih dari 25 tahun di industri kelapa sawit Indonesia ini mengoperasikan total luas kebun mencapai 84.000 hektar (ha). Aset perkebunan perseroan tersebar di berbagai wilayah strategis, meliputi 70.000 ha di Kalimantan, 12.000 ha di Papua, serta 2.000 ha di Sumatera.
Untuk mendukung kegiatan operasional hulu, BWPT didukung oleh 7 pabrik kelapa sawit (PKS) dengan total kapasitas pengolahan mencapai 400 ton tandan buah segar (TBS) per jam, kapasitas penyimpanan sebesar 94.000 metrik ton (MT), dan fasilitas pendukung berupa 4 jetty. Kinerja keuangan perseroan juga mencatatkan pertumbuhan yang solid sejalan dengan penguatan operasional. Pada semester I-2026, BWPT membukukan pendapatan sebesar Rp 3,25 triliun, naik 17% secara tahunan (year-on-year/YoY) dari Rp 2,77 triliun pada semester I-2025. Pencapaian ini mendorong laba kotor perseroan tumbuh 2% YoY menjadi Rp 799 miliar. Dari sisi bottom line, laba periode berjalan BWPT meningkat 16% YoY menjadi Rp 215 miliar dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 185 miliar. Pertumbuhan kinerja keuangan ini turut ditopang oleh efisiensi operasional serta stabilnya margin EBITDA di level yang sehat.
Baca Juga: Eagle High (BWPT) Akan Jual 402,92 Juta Saham Hasil Buyback, Saat Harga Melejit Sebagai bagian dari strategi ekspansi dan penciptaan nilai tambah, BWPT kini tengah memperkuat bisnis midstream melalui pembangunan Kernel Crushing Plant (KCP) di area Grup EHP, Kalimantan Tengah. Fasilitas yang dirancang memiliki kapasitas pengolahan hingga 200 ton per hari dan ditujukan untuk mengolah inti sawit menjadi produk bernilai tambah tinggi sekaligus memperkuat kapabilitas midstream perseroan. Pembangunan KCP tersebut diintegrasikan dengan Pembangkit Listrik Tenaga (PLT) Biogas berkapasitas 1,5 MW yang memanfaatkan
Palm Oil Mill Effluent (POME) sebagai sumber energi terbarukan. Total investasi untuk pengembangan KCP dan fasilitas pendukung tersebut mencapai sekitar Rp 100 miliar. Untuk mendukung agenda pertumbuhan operasional secara keseluruhan, perseroan mengalokasikan belanja modal (
capital expenditure/capex) sekitar 3% hingga 5% dari pendapatan setiap tahun atau sekitar Rp 300 miliar. Fokus capex mencakup peremajaan alat berat, peremajaan PKS, serta infrastruktur untuk memastikan kegiatan operasional tetap efisien.
Baca Juga: Eagle High Plantations (BWPT) Lunasi Sukuk Rp 38,29 Miliar Direktur BWPT Choong Kam Loong menjelaskan bahwa perseroan tetap optimistis mampu menjaga laju pertumbuhan kinerja meski berhadapan dengan dinamika tantangan biaya operasional di industri. "Kita memang mengalami kenaikan biaya akibat pupuk, tapi sejalan dengan kenaikan harga jual dan berjalannya efisiensi, pertumbuhan kinerja keuangan tetap berlanjut," terang Choong dalam pemaparan publik, Kamis (27/8/2026). Di tengah fokus ekspansi operasional, perseroan baru-baru ini juga memberikan klarifikasi resmi kepada Bursa Efek Indonesia (BEI) terkait isu investasi Federal Land Consolidation and Rehabilitation Authority (FELDA) melalui FIC Properties Sdn Bhd (FICP). BWPT menegaskan bahwa perseroan tidak memiliki hubungan korporasi maupun kontraktual dengan FELDA, serta tidak memiliki eksposur atas potensi kerugian yang dialami lembaga asal Malaysia tersebut. Perseroan beroperasi secara independen dan seluruh kegiatan operasional maupun bisnis tetap berjalan normal.
Baca Juga: Eagle High Plantations (BWPT) Laporkan Kesiapan Dana Bayar Pokok Surat Utang Corporate Secretary BWPT Rizka Dewi Sulistyorini menegaskan posisi perseroan atas isu hukum dan administrasi saham tersebut. “Mengingat pihak yang tercatat sebagai pemegang saham BWPT adalah FICP dan FICP merupakan badan hukum mandiri yang berbeda dan terpisah dengan FELDA, maka perseroan tidak berada dalam posisi untuk mengonfirmasi maupun memberikan penjelasan atas informasi atau isu yang bersumber dari, berkaitan dengan, atau merupakan urusan internal FELDA,” ujar Rizka dalam keterbukaan informasi, Kamis (27/8/2026). Rizka menambahkan bahwa perseroan juga tidak memiliki jaminan atau kewajiban finansial atas isu transaksi tersebut.
“Oleh karena itu, nilai potensi kerugian yang diberitakan tersebut bukan merupakan kewajiban atau tanggung jawab perseroan,” jelasnya. Langkah efisiensi, kelanjutan proyek strategis KCP, serta restrukturisasi neraca yang berhasil merampungkan kuasi reorganisasi menjadikan fundamental BWPT semakin solid. Di pasar sekunder, harga saham BWPT berada di level Rp 107 per saham dengan kapitalisasi pasar mencapai Rp 3,37 triliun.
Baca Juga: BWPT Berencana Hapus Defisit Rp 3,7 Triliun Lewat Kuasi Reorganisasi Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News