Kemenangan Demokrat Ancam Ekspansi Pusat Data dan Saham AI di AS



KONTAN.CO.ID - NEW YORK.  Kemenangan besar Partai Demokrat dalam pemilihan sela Amerika Serikat (AS) membuka risiko pengetatan regulasi pembangunan pusat data (data center).

Hasil pemilu ini mencerminkan meningkatnya penolakan masyarakat terhadap ekspansi pusat data yang selama ini menjadi salah satu penopang pesatnya industri kecerdasan buatan (AI).

Sejumlah kandidat Demokrat yang mengusung moratorium pembangunan pusat data berhasil memenangkan pemilihan gubernur di Texas dan Georgia.


Kemenangan tersebut memperkuat posisi politik kelompok penentang pusat data, terutama karena fasilitas ini membutuhkan listrik dan air dalam jumlah besar serta dinilai membebani masyarakat melalui kenaikan tagihan listrik.

Baca Juga: Telkom (TLKM) Ekspansi Pusat Data AI, BRI Danareksa Targetkan Harga Saham Rp 3.500

Dampak hasil pemilu langsung terasa di pasar saham. Saham Core Scientific anjlok 11,6% dan Iren turun 12,5%.

Saham perusahaan infrastruktur AI lainnya, seperti Applied Digital, Hut 8 Corp, dan Cipher Digital, turut melemah. Tekanan juga melanda perusahaan energi GE Vernova, Constellation Energy, dan Vistra.

Investor khawatir perubahan peta politik akan memicu regulasi lebih ketat dan menghambat ekspansi infrastruktur AI. Risiko ini muncul ketika industri tersebut juga menghadapi kekhawatiran mengenai besarnya belanja modal dan potensi kelebihan kapasitas.

Aidan Yao, Senior Investment Strategist Amundi Investment Institute, menilai hasil pemilu tersebut lebih mencerminkan referendum terhadap perkembangan AI ketimbang sekadar penilaian terhadap Presiden AS Donald Trump.

"Pemilu sela ini lebih menyerupai referendum terhadap AI daripada referendum terhadap Trump," ujar Yao.

Menurut dia, pembatasan industri AI dapat meningkatkan ketidakpastian ekonomi AS, inflasi, hingga arah kebijakan moneter.

Baca Juga: DSSA Gelontorkan Rp 3,1 Triliun untuk Ekspansi Pusat Data, Cermati Prospeknya

Texas menjadi wilayah yang paling disorot karena menyumbang sekitar 25% dari kapasitas pusat data AS yang diperkirakan beroperasi hingga 2030, menurut estimasi GLJ Research.

Namun, kandidat Demokrat Gina Hinojosa berhasil mengalahkan Greg Abbott dalam pemilihan gubernur dan mengakhiri dominasi Partai Republik selama tiga dekade. Kandidat Demokrat James Talarico juga terpilih sebagai senator.

Di Georgia, Keisha Lance Bottoms turut memenangkan pemilihan gubernur dan mengakhiri dominasi Partai Republik selama lebih dari dua dekade. Atlanta sendiri merupakan pasar konstruksi pusat data paling aktif di AS menurut CBRE.

Goldman Sachs memperkirakan kemenangan Demokrat di tingkat negara bagian dan daerah berpotensi memicu penghentian sementara proyek yang memengaruhi sekitar 45% rencana ekspansi kapasitas pusat data AS. Namun, dampaknya diperkirakan hanya berlangsung sementara.

Analis HSBC Max Kettner dan Duncan Toms memperkirakan pengetatan kebijakan bisa berupa pengawasan dan regulasi lebih ketat, bukan moratorium secara luas. Perusahaan juga berpeluang memindahkan proyek dari Texas ke negara bagian lain.

Risiko penundaan proyek turut membayangi Ohio setelah kandidat Demokrat Amy Acton terpilih sebagai gubernur.

Baca Juga: Ancaman Terselubung di Balik Maraknya Data Center di Indonesia

Morgan Stanley menilai hasil tersebut meningkatkan risiko tertundanya proyek pusat data berkapasitas 10 gigawatt yang melibatkan Nvidia.

belumnya, Ohio telah memberlakukan moratorium pengajuan baru pembebasan pajak untuk pusat data.

Tekanan Menjalar ke Saham Teknologi

Ketidakpastian ekspansi pusat data turut membayangi saham teknologi global. Selama ini, pembangunan infrastruktur AI mendorong permintaan cip, investasi, dan pertumbuhan ekonomi AS.

Pada perdagangan Rabu (4/11), saham produsen cip di Asia seperti TSMC, Samsung Electronics, SK Hynix, dan Kioxia ikut melemah. Imbal hasil obligasi juga turun.

Meski demikian, perlambatan pembangunan pusat data tidak otomatis berarti permintaan AI dan daya komputasi ikut menurun.

Baca Juga: New York Larang Pembuatan Pusat Data Baru dan Terapkan Moratorium Selama Satu Tahun

Sebagian analis bahkan melihat koreksi sekitar 8% pada Nasdaq selama sebulan terakhir sebagai peluang membeli saham teknologi.

Tommaso Leodari, Chief Investment Officer hedge fund Index & Cie, menilai pembatasan pusat data masih sulit terjadi secara luas mengingat peran strategis infrastruktur AI dalam persaingan AS dengan China.

Ia memperkirakan penolakan politik lebih mungkin diarahkan kepada Trump dan pemerintahannya daripada terhadap industri AI yang dinilai penting bagi daya saing AS.