Kemenangan Telak Takaichi Angkat Bursa Jepang, Pasar Jadi Penentu Arah Kebijakan



KONTAN.CO.ID - TOKYO. Kemenangan telak Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi dalam pemilu parlemen membuka jalan lebar bagi agenda pemulihan ekonomi yang lebih agresif. 

Namun di balik mandat politik terkuat dalam sejarah Jepang pascaperang, pelaku pasar menilai ruang gerak pemerintah tetap dibatasi oleh sensitivitas pasar obligasi dan nilai tukar yen.

Partai Demokrat Liberal (LDP) pimpinan Takaichi berhasil menguasai lebih dari dua pertiga kursi majelis rendah parlemen. 


Hasil ini memberi keleluasaan penuh bagi pemerintah untuk meloloskan kebijakan tanpa perlu berkompromi dengan partai oposisi maupun majelis tinggi.

Respons pasar saham langsung positif. Indeks Nikkei dan Topix masing-masing melonjak ke level tertinggi sepanjang masa, ditopang ekspektasi stimulus fiskal yang mengalir ke rumah tangga dan sektor korporasi. 

Baca Juga: Pemilu Jepang Diguyur Salju Tebal, Koalisi PM Sanae Takaichi Diprediksi Menang Telak

Pada perdagangan Senin, Nikkei melonjak 3,9% sementara Topix naik 2,3%.

Sebaliknya, pasar obligasi dan nilai tukar bergerak lebih hati-hati. Yen yang sempat tertekan dalam beberapa bulan terakhir relatif stabil di kisaran 156,35 per dolar AS. Imbal hasil obligasi pemerintah Jepang (JGB) tenor 10 tahun naik terbatas ke 2,28%, kembali ke level dua pekan lalu.

Pelaku pasar menilai fokus utama kini bukan lagi hasil pemilu, melainkan detail kebijakan fiskal yang akan diambil pemerintah. Jepang saat ini memikul rasio utang tertinggi di antara negara maju, sehingga tambahan belanja berisiko memicu tekanan baru di pasar keuangan.

“Kebijakan fiskal akan menjadi batas utama bagi pemerintah,” kata ekonom HSBC Fred Neumann, menegaskan pasar akan sangat sensitif terhadap sinyal pelebaran defisit, pelemahan yen, maupun respons kebijakan moneter terhadap inflasi.

Kekhawatiran itu muncul seiring rencana ekspansif Takaichi, termasuk janji menangguhkan pajak konsumsi 8% untuk bahan pangan. Kebijakan tersebut diperkirakan memangkas penerimaan negara hingga 5 triliun yen per tahun, memunculkan tanda tanya besar soal sumber pendanaannya.

Di sisi lain, stabilitas politik justru membuka ruang bagi Bank of Japan (BOJ) untuk lebih fleksibel dalam kebijakan suku bunga. 

Baca Juga: Trump Dukung Penuh Takaichi Jelang Pemilu Jepang, Pasar Tetap Waspada

Sejumlah pelaku pasar mulai meningkatkan taruhan kenaikan suku bunga, meski tetap berhati-hati mengingat reputasi awal Takaichi yang dinilai cenderung menekan bank sentral agar menahan normalisasi kebijakan.

Tekanan eksternal juga menjadi faktor penting. Pemerintah Amerika Serikat disebut mendorong Jepang untuk menstabilkan pasar obligasi dan memperkuat yen. Pelemahan mata uang Jepang selama ini telah memperparah inflasi impor dan biaya hidup domestik.

Meski pasar untuk sementara menyambut kemenangan politik Takaichi, arah jangka menengah yen dan obligasi dinilai masih rapuh. Investor menilai tren pelemahan yen dan kenaikan imbal hasil obligasi berpotensi berlanjut jika kebijakan fiskal dinilai tidak disiplin.

Ujian awal bagi pemerintahan baru akan terlihat dari bagaimana rencana pemotongan pajak konsumsi dijalankan, bagaimana pembiayaannya dijelaskan, dan seberapa meyakinkan narasi fiskal pemerintah di mata pasar.

Baca Juga: Bursa Jepang Dibuka Menguat Senin (5/1), Nikkei Naik Lebih dari 2%

Ketidakpastian kebijakan fiskal diperkirakan masih akan membayangi, meski Jepang kini memasuki fase stabilitas politik yang jarang terjadi dalam satu dekade terakhir.

Selanjutnya: 9 Drakor Rating Tertinggi Minggu Pertama Februari 2026, Ada Our Universe

Menarik Dibaca: Promo Alfamart Paling Murah Sejagat 8-15 Februari 2026, Sambal Indofood Beli 2 Hemat