Kemendag Dorong Fasilitasi Perdagangan, Ekspor Gula Kelapa Tumbuh ke Pasar Global



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kementerian Perdagangan (Kemendag) terus mendorong pemanfaatan berbagai fasilitas perdagangan untuk memperluas ekspor komoditas unggulan daerah. Langkah tersebut dinilai penting untuk meningkatkan daya saing produk nasional sekaligus memperluas akses pasar di tengah persaingan perdagangan global.

Salah satu implementasinya ditunjukkan melalui pelepasan ekspor 20 ton gula kelapa produksi PT Integral Mulia Cipta (IMC) asal Banyumas, Jawa Tengah, ke Chicago, Amerika Serikat (AS). Pengiriman senilai US$46.000 atau sekitar Rp822,48 juta tersebut memanfaatkan Surat Keterangan Asal (SKA) Form B untuk memperoleh fasilitas perdagangan di negara tujuan.

Menteri Perdagangan, Budi Santoso mengatakan, pelaku usaha perlu mengoptimalkan berbagai instrumen fasilitasi yang disediakan pemerintah, seperti business matching, pemanfaatan SKA, hingga jaringan perwakilan perdagangan Indonesia di luar negeri.


Baca Juga: Aturan Ekspor Baru Berlaku, Kemendag Bisa Bekukan Izin Secara Cepat

"Kami ingin tumbuh bersama-sama dan meningkatkan ekspor komoditas unggulan daerah. Pelaku usaha silakan memanfaatkan berbagai fasilitas perdagangan untuk memperoleh keuntungan dan mengembangkan usaha," ujar Budi dalam keterangan resmi, Jumat (26/6/2026).

Menurut Budi, keberhasilan PT IMC menembus pasar internasional menjadi contoh bagaimana pemanfaatan fasilitas perdagangan dapat memperluas pasar ekspor. Perusahaan tersebut sebelumnya mengikuti program business matching virtual dengan pembeli asal Amerika Serikat, memperoleh calon pembeli melalui Indonesian Trade Promotion Center (ITPC) Hamburg, serta berpartisipasi dalam Trade Expo Indonesia (TEI) 2024.

PT IMC yang beroperasi sejak 2012 kini telah mengekspor gula kelapa ke 56 negara di kawasan Amerika, Asia, Eropa, Afrika, dan Australia. Perusahaan juga bermitra dengan sekitar 5.000 pemasok bahan baku, termasuk petani dari Banyumas, Purbalingga, Kebumen, dan Cilacap.

Selain Form B, perusahaan memanfaatkan sejumlah fasilitas SKA lainnya seperti Form AANZ untuk kawasan ASEAN, Australia, dan Selandia Baru, Form D untuk perdagangan intra-ASEAN, serta Form IJEPA untuk ekspor ke Jepang guna memperoleh tarif bea masuk yang lebih rendah.

Untuk memperkuat layanan ekspor, Kemendag juga telah meresmikan tujuh Instansi Penerbit Surat Keterangan Asal (IPSKA) baru, termasuk satu di Banyumas. Dengan penambahan tersebut, jumlah IPSKA di Indonesia mencapai 103 unit yang diharapkan mempermudah pelaku usaha mengakses layanan ekspor.

Baca Juga: Kemendag Bidik Pasar Ekspor Non Tradisional, Ada Hong Kong, Mozambik hingga Laos

Sepanjang Januari hingga Mei 2026, Kemendag mencatat telah memfasilitasi 621 pelaku usaha melalui 333 kegiatan business matching, yang terdiri dari 168 sesi presentasi bisnis (pitching) dan 165 temu bisnis dengan pembeli dari berbagai negara. 

Dari kegiatan tersebut, potensi transaksi yang dihasilkan mencapai US$193,88 juta. Produk yang diminati antara lain makanan olahan, rempah-rempah, kopi, kakao, produk dekorasi rumah, hingga minyak kelapa sawit (CPO).

Direktur PT IMC Mario Ngensowidjaja mengatakan hampir seluruh produksi gula kelapa perusahaan ditujukan untuk pasar ekspor. Menurutnya, permintaan dari pasar Amerika Serikat dan Eropa masih terus meningkat.

"Sebanyak 98% gula kelapa Indonesia diperuntukkan untuk ekspor. Permintaan gula kelapa di luar negeri sangat besar dan komoditas ini menjadi salah satu produk unggulan Indonesia untuk mendukung devisa negara," katanya.

Data Kemendag menunjukkan prospek ekspor gula kelapa masih cukup positif. Dalam periode 2021–2025, ekspor produk gula (HS 170290) tumbuh rata-rata 9,61%. Sementara pada Januari–April 2026, nilai ekspor produk gula Indonesia mencapai US$42,67 juta atau meningkat 45,97% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Baca Juga: Kemendag Perluas Jaringan Bisnis Pasar Ekspor, Targetkan Enam Negara Mitra

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News