JAKARTA. Terus naiknya harga beras membuat Menteri Perdagangan Rachmat Gobel mengevaluasi tata niaga beras. Khususnya untuk sistem pendistribusian. Menurutnya, ia telah meminta Bulog untuk mengevaluasi sistem distribusi. "Itu (distribusi) yang menciptakan harga naik," kata Rachmat usai jumpa pers Kinerja Ekspor Impor, di Jakarta, Selasa (17/2). Ia menjelaskan salah satu permasalahan yang pernah ditemui langsung adalah adanya temuan salah satu gudang yang menyimpan beras Bulog dan dioplos dengan beras lainnya kemudian didistribusikan ke luar Jakarta. Setelah melihat dan mengevaluasi distribusi beras melalui food station dinilai tidak mampu untuk menekan harga beras, karena itu satgas sudah diturunkan untuk mendistribusikannya agar bisa diterima langsung oleh masyarakat dengan harga yang sudah ditetapkan pemerintah. "Beras itu untuk masyarakat, kalau tidak ada maka ada short supply dan menyebabkan masyarakat tidak bisa mendapatkan harga yang seharusnya karena berasnya diperuntukkan ke daerah lain," kata Rachmat. Menurut Rachmat, operasi pasar yang dilakukan satgas akan diperluas, tak hanya di wilayah Jabodetabek, tetapi juga wilayah lainnya. Sebelumnya, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarmo menyatakan bahwa saat ini harga beras di pasar sudah tidak realistis karena dari gudang Bulog harga beras Rp 6.600 per kilogram, dan seharusnya harga di pasaran Rp7.400 per kilogram. Tetapi pada kenyataannya harga beras di pasaran saat ini Rp 8.200-8.300 per kilogram. "Kita harus langsung ke pasar-pasar yang memang membutuhkan beras, sehingga ini bisa menstabilkan harga kembali," kata Rini, usai melakukan pelepasan 2.200 ton beras untuk operasi pasar, di Jakarta, Senin (16/2) kemarin. Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Kemendag minta Bulog evaluasi tata niaga beras
JAKARTA. Terus naiknya harga beras membuat Menteri Perdagangan Rachmat Gobel mengevaluasi tata niaga beras. Khususnya untuk sistem pendistribusian. Menurutnya, ia telah meminta Bulog untuk mengevaluasi sistem distribusi. "Itu (distribusi) yang menciptakan harga naik," kata Rachmat usai jumpa pers Kinerja Ekspor Impor, di Jakarta, Selasa (17/2). Ia menjelaskan salah satu permasalahan yang pernah ditemui langsung adalah adanya temuan salah satu gudang yang menyimpan beras Bulog dan dioplos dengan beras lainnya kemudian didistribusikan ke luar Jakarta. Setelah melihat dan mengevaluasi distribusi beras melalui food station dinilai tidak mampu untuk menekan harga beras, karena itu satgas sudah diturunkan untuk mendistribusikannya agar bisa diterima langsung oleh masyarakat dengan harga yang sudah ditetapkan pemerintah. "Beras itu untuk masyarakat, kalau tidak ada maka ada short supply dan menyebabkan masyarakat tidak bisa mendapatkan harga yang seharusnya karena berasnya diperuntukkan ke daerah lain," kata Rachmat. Menurut Rachmat, operasi pasar yang dilakukan satgas akan diperluas, tak hanya di wilayah Jabodetabek, tetapi juga wilayah lainnya. Sebelumnya, Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarmo menyatakan bahwa saat ini harga beras di pasar sudah tidak realistis karena dari gudang Bulog harga beras Rp 6.600 per kilogram, dan seharusnya harga di pasaran Rp7.400 per kilogram. Tetapi pada kenyataannya harga beras di pasaran saat ini Rp 8.200-8.300 per kilogram. "Kita harus langsung ke pasar-pasar yang memang membutuhkan beras, sehingga ini bisa menstabilkan harga kembali," kata Rini, usai melakukan pelepasan 2.200 ton beras untuk operasi pasar, di Jakarta, Senin (16/2) kemarin. Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News