KONTAN.CO.ID – MADINAH. Kualitas asupan nutrisi turut menjadi perhatian utama pemerintah. Kementerian Haji dan Umroh menunjuk langsung salah satu perwakilan dari Politeknik Pariwisata NHI Bandung sebagai tim pengawas katering, melakukan pengawasan ketat dan berlapis terhadap seluruh proses penyediaan makanan di dapur-dapur penyedia layanan katering di Madinah. Pengawasan katering di Madinah dilakukan secara ketat untuk memastikan kualitas makanan tetap terjaga. Perwakilan tim pengawas di Madinah dari Politeknik Pariwisata NHI Bandung, Nova MH, menegaskan bahwa standar operasional prosedur (SOP) diterapkan tanpa kompromi. Ia menjelaskan, pengawasan dilakukan secara menyeluruh dalam tiga tahapan utama, mulai dari pra-produksi, proses produksi, hingga distribusi makanan ke hotel tempat jemaah menginap.
“Pengecekan rutin kami lakukan tiga kali dalam sehari mengikuti jadwal makan jemaah,” ungkapnya saat melakukan kunjungan ke salah satu penyedia katering di Madinah, Minggu (20/4/2026).
Baca Juga: 23 Dapur Siap Layani Jemaah di Madinah, Konsumsi Dijamin Bercita Rasa Indonesia Menurut Nova, tim pengawas bahkan mulai bekerja sejak dini hari, saat sebagian besar aktivitas di Madinah masih belum dimulai. Untuk menu sarapan, misalnya, pengawasan dilakukan sejak pukul 00.00 hingga 04.00 saat proses memasak berlangsung. Sementara untuk makan siang, pemantauan sudah dimulai sejak pukul 06.00. “Selain pengawasan itu, kami juga melakukan pemeriksaan berkala pada penyimpanan bahan segar dan kering. Ini untuk memastikan tidak ada bahan yang basi atau rusak sebelum diolah,” imbuhnya. Ia menambahkan, kondisi cuaca ekstrem di Arab Saudi menjadi tantangan tersendiri dalam menjaga kualitas makanan. Karena itu, suhu makanan saat keluar dari dapur menjadi perhatian penting. “Makanan yang baik itu berada di suhu 60-70 derajat Celcius saat mulai didistribusikan ke hotel. Ini sangat krusial untuk menjaga suhu ruang agar makanan tetap higienis, tidak mudah basi, dan tiba di tangan jemaah dalam kondisi prima,” ujar Nova.
Baca Juga: Jelang Kedatangan Jemaah, Petugas Haji Intensifkan Koordinasi dan Cek Lapangan Di sisi lain, jemaah yang telah menerima makanan juga diimbau untuk segera mengonsumsinya. Pasalnya, tidak sedikit jemaah yang menunda makan hingga beberapa jam karena menjalankan ibadah di Masjid Nabawi. Kondisi makanan yang tetap tertutup dalam waktu lama justru dapat menurunkan kualitas dan mempercepat proses pembusukan. Tak hanya keamanan pangan, kandungan gizi juga menjadi perhatian utama demi menjaga kondisi fisik jemaah. Kebutuhan protein, karbohidrat, hingga serat disusun sesuai standar. Sumber protein berasal dari daging sapi, ayam, ikan, telur, hingga tempe. Sementara karbohidrat dipenuhi dari nasi dengan porsi terukur, serta vitamin dan serat dari sayuran dan buah seperti kentang, wortel, apel, pir, dan pisang. Menu tambahan seperti puding juga disajikan saat makan siang untuk melengkapi asupan serat.
Dengan keterbatasan sayuran hijau di Arab Saudi, penyedia katering menyiasatinya dengan memanfaatkan bahan yang tersedia seperti wortel dan kentang, tanpa mengurangi nilai gizi. Bahkan, menu khas Indonesia seperti tempe tetap dihadirkan untuk menjaga selera makan jemaah. Melalui pengawasan yang berlapis ini, diharapkan seluruh jemaah haji Indonesia dapat menjalankan ibadah dengan kondisi fisik yang tetap prima, didukung oleh asupan makanan yang sehat, bergizi, dan higienis.
Baca Juga: Tempe Jadi Menu Andalan Penyedia Katering Jamaah Haji di Madinah Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News