Kemenhaj Matangkan Fase Armuzna, Wukuf Dilaksanakan pada 26 Mei 2026



KONTAN.CO.ID – MAKKAH. Kementerian Haji dan Umrah terus mematangkan seluruh persiapan penyelenggaraan ibadah haji, khususnya menghadapi fase puncak haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna).

Juru Bicara Kementerian Haji, Maria Assegaf, mengatakan fase ini menjadi inti rangkaian ibadah haji sekaligus tahap paling krusial karena melibatkan pergerakan jutaan jemaah dari berbagai negara dalam waktu yang sangat terbatas.

Maria menjelaskan, kesiapan pada fase Armuzna dilakukan secara menyeluruh guna memastikan seluruh jemaah dapat menjalankan ibadah dengan aman, nyaman, tertib, dan khusyuk.


Baca Juga: Hingga Kini, 186.041 Jemaah Haji Indonesia Sudah Diberangkatkan Ke Arab Saudi

Menurut dia, pengaturan mobilitas, disiplin terhadap jadwal, kepatuhan pada arahan petugas, serta kesiapan fisik jemaah menjadi faktor utama yang menentukan kelancaran pelaksanaan puncak haji.

“Karena itu Kementerian Haji dan Umrah telah membentuk Satuan Operasional Armuzna untuk menyiapkan skema pergerakan jemaah secara bertahap, terukur, dan berbasis mitigasi kepadatan agar seluruh proses dapat berjalan lancar,” ujar Maria dalam keterangannya di Makkah,” tutur Maria dalam konferensi pers, Selasa (19/5/2026).

Ia memaparkan, proses pergerakan jemaah menuju Arafah akan dimulai pada 8 Zulhijjah 1447 Hijriah atau Senin, 25 Mei 2026. Seluruh jemaah akan diberangkatkan dari hotel masing-masing di Makkah secara bertahap dalam tiga gelombang, yakni pukul 06.00, 11.30, dan 17.30 waktu Arab Saudi.

Baca Juga: Dekat Masjidil Haram, Masjid Abu Bakar Ash-Shiddiq Jadi Pilihan Jemaah Beribadah

Pihaknya menargetkan seluruh jemaah sudah meninggalkan Makkah menuju Arafah paling lambat pukul 24.00 WAS. Untuk memastikan hal tersebut, petugas akan melakukan penyisiran menyeluruh di wilayah Makkah agar tidak ada jemaah yang tertinggal.

Setibanya di Arafah, jemaah akan bermalam dan mempersiapkan diri untuk melaksanakan wukuf keesokan harinya. Maria menyebut pelaksanaan wukuf pada 9 Zulhijjah 1447 Hijriah atau Selasa, 26 Mei 2026 dijadwalkan berlangsung mulai pukul 10.00 hingga 13.00 waktu Arab Saudi.

Ia mengajak seluruh jemaah memanfaatkan momen puncak ibadah haji tersebut dengan memperbanyak doa, zikir, membaca Al-Qur’an, mengikuti khutbah wukuf, serta memperbanyak ibadah sunnah.

“Kami mengimbau jemaah agar tidak berkumpul di lobi hotel sebelum jadwal keberangkatan masing-masing untuk menghindari penumpukan. Jemaah juga diminta tetap bersama rombongan kloter, membawa perlengkapan secukupnya, menjaga kesehatan, cukup istirahat, dan selalu membawa identitas,” katanya.

Selepas Magrib, jemaah akan diberangkatkan secara bertahap menuju Muzdalifah. Bagi jemaah dengan skema murur, perjalanan akan langsung dilanjutkan menuju Mina tanpa turun di Muzdalifah. Sementara jemaah lainnya akan menjalani mabit di Muzdalifah sesuai ketentuan syariat.

Maria menuturkan, seluruh jemaah ditargetkan telah meninggalkan Arafah dan berada di wilayah Muzdalifah paling lambat pukul 23.00 WAS. Petugas juga akan kembali melakukan sweeping untuk memastikan tidak ada jemaah yang tertinggal di tenda-tenda Arafah.

Adapun pergerakan jemaah non-murur dari Muzdalifah menuju Mina akan berlangsung sejak malam 9 Zulhijjah hingga pukul 07.00 WAS pada 10 Zulhijjah. Setibanya di Mina, jemaah dijadwalkan melaksanakan lontar jumrah aqabah mulai pukul 10.00 WAS sebelum kembali ke tenda untuk mabit.

Maria mengingatkan jemaah membawa air minum, makanan ringan, topi, serta payung saat bergerak ke lokasi lontar jumrah. Ia juga meminta jemaah tidak memaksakan diri jika kondisi kesehatan tidak memungkinkan, karena syariat memberikan keringanan melalui mekanisme badal lontar.

Selanjutnya pada 11 hingga 13 Zulhijjah, jemaah akan menjalani mabit di Mina dan melaksanakan lontar jumrah ula, wusta, dan aqabah sesuai jadwal. Jemaah yang mengambil nafar awal ditargetkan menyelesaikan rangkaian ibadah pada 12 Zulhijjah, sementara nafar tsani pada 13 Zulhijjah.

“Kami kembali mengingatkan jemaah untuk tidak bepergian sendirian, menjaga stamina, mengutamakan keselamatan, dan mematuhi seluruh arahan petugas. Kesuksesan fase Armuzna tidak hanya ditentukan kesiapan petugas, tetapi juga kedisiplinan seluruh jemaah,” tegasnya.

Ia menambahkan, Kementerian Haji akan melakukan monitoring dan pengendalian pergerakan jemaah selama 24 jam penuh, termasuk penguatan layanan kesehatan, transportasi, konsumsi, dan mitigasi kepadatan di seluruh titik Armuzna.

Maria berharap seluruh jemaah dapat menjalani setiap rangkaian ibadah dengan tenang, sehat, tertib, dan meraih haji yang mabrur serta mabruroh.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News