Kemenkeu proyeksi pembayaran bunga utang di tahun ini naik Rp 40 triliun



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah memutuskan untuk memperlebar defisit APBN 2020 dari sebelumnya Rp 307,2 triliun atau 1,76% dari PDB menjadi Rp 853 triliun atau setara 5,07% PDB.  Dampaknya, Menteri Keuangan Sri Mulyani bilang, outlook pembiayaan defisit anggaran pun akan mengalami peningkatan sebesar Rp 545,7 triliun. 

Tambahan pembiayaan akan dilakukan melalui penerbitan Surat Berharga Negara (SBN), Pandemic Bond, dan pinjaman program.

Berdasarkan paparan Sri Mulyani dalam Rapat Kerja dengan Komisi XI DPR RI, Senin (6/4), outlook pembiayaan defisit anggaran yang meningkat turut mengerek outlook pembayaran bunga utang oleh pemerintah. 


Pembayaran bunga utang diproyeksi naik Rp 40 triliun dari sebelumnya dipatok sebesar Rp 295,2 triliun menjadi Rp 335,2 triliun. 

Baca Juga: Sri Mulyani: Perbaikan ekonomi diperkirakan baru terjadi di kuartal IV-2020

Selain disebabkan oleh pembiayaan defisit yang membengkak, naiknya bunga utang tahun ini juga dipicu oleh tren peningkatan tingkat imbal hasil (yield) Surat Utang Negara (SUN) tenor 10 tahun di pasar obligasi.

Pemerintah mencatat, yield SUN 10 Tahun per Senin (6/4)  sudah melonjak dan berada di level 8,14%. Setali tiga uang, tingkat yield pada lelang SUN  juga terus bergerak naik dalam beberapa lelang SUN dan Sukuk terakhir. 

“Sejak 18 Februari lalu hingga akhir Maret, yield pada lelang SUN 10 tahun sudah naik 130 bps menjadi 7,8% sehingga pemerintah menyerap dengan yield yang kami bayar menjadi lebih mahal,” tutur Sri Mulyani. 

Dengan yield sebesar 7,8%, Kemenkeu menghitung, penerbitan utang sebesar Rp 100 triliun dengan tenor 10 tahun akan menanggung biaya sebesar Rp 7,8 per tahunnya hingga jatuh tempo. 

Di samping itu, beban bunga utang pemerintah juga ditambah oleh kondisi nilai tukar rupiah yang mengalami depresiasi cukup signifikan yaitu telah menembus ke atas Rp 16.000 per dolar AS.

Asal tahu saja, Senin (6/4), rupiah di pasar spot ditutup menguat 0,10% ke level Rp 16.413 per dolar AS. Namun, secara year to date (ytd), rupiah sudah melemah 18,37%, mengingat di akhir 2019, mata uang Garuda masih berada di level Rp 13.866 per dolar AS.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Anna Suci Perwitasari