KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Pemerintah berencana menerbitkan Surat Berharga Negara (SBN) berdenominasi valuta asing (valas) pada 2026. Penerbitan tersebut menjadi bagian dari strategi pembiayaan utang pemerintah, termasuk optimalisasi pasar domestik. Plt Direktur Surat Utang Negara (SUN) Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan, Novi Puspita Wardani, mengatakan penerbitan SBN valas di pasar domestik masih menunggu terbitnya regulasi terkait Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA). “Yang pasar domestik itu nanti akan kami umumkan. Itu dalam rangka DHE SDA, jadi kita masih menunggu peraturannya. Setelah itu baru kami sampaikan jadwalnya,” ujar Novi saat ditemui di Kantor Kementerian Keuangan, Senin (26/1/2026).
Baca Juga: Harga Pangan Januari 2026 Stabil, Ayam dan Telur Jadi Fokus Antisipasi Ramadan Novi menjelaskan, skema SBN valas domestik yang akan diterbitkan pada 2026 nantinya akan mirip dengan penerbitan SBN valas domestik yang pernah dilakukan pemerintah pada 2022. Pemerintah akan menyampaikan pengumuman resmi kepada publik setelah seluruh aspek regulasi siap. Terkait waktu penerbitan, Novi belum merinci secara pasti. Namun, ia mengindikasikan penerbitan bisa dilakukan setelah peraturan pemerintah (PP) terkait diterbitkan, dengan peluang masuk pada salah satu kuartal di 2026. “Setelah PP-nya keluar, nanti kita detailkan,” katanya. Sementara itu, untuk strategi penerbitan surat utang secara keseluruhan pada 2026, pemerintah membuka opsi baik
front loading maupun
back loading. Menurut Novi, strategi tersebut akan disesuaikan dengan dinamika risiko ke depan serta pandangan pimpinan. “Bisa fleksibel, bisa
front loading atau
back loading. Kalau faktor risiko ke depan cukup berat, bisa saja dilakukan front loading,” ujar Novi. Ia menambahkan, saat ini kondisi likuiditas masih relatif ample sehingga memberikan peluang bagi pemerintah untuk melakukan penerbitan lebih awal. Meski demikian, keputusan final tetap akan mempertimbangkan kondisi pasar dan manajemen risiko pembiayaan negara secara menyeluruh. Sebelumnya, pemerintah telah menerbitkann Surat Utang Negara (SUN) valas dengan target nilai sekitar US$ 2,7 miliar pada Januari 2026, sebagai bagian dari strategi pemenuhan kebutuhan pembiayaan APBN Transaksi penerbitan SUN dalam mata uang dolar Amerika Serikat (AS) tersebut diterbitkan dalam format SEC-registered dilakukan pada 13 Januari 2026. Transaksi ini sekaligus menandai keberhasilan Pemerintah dalam menerbitkan Global Bonds dengan format SEC-registered untuk kesembilan belas kalinya. Adapun obligasi diterbitkan dalam tiga seri berbeda, yakni seri RI0231, seri RI 0236, dan seri RI0256. Ketiga seri obligasi tersebut diterbitkan pada 21 Januari 2026. Hal itu dilakukan setelah membuka transaksi pada sesi Asia pagi hari tanggal 12 Januari 2026. Menurut pemerintah, penerbitan tersebut telah mempertimbangkan kondisi likuiditas yang kuat di awal tahun serta mempertimbangkan dinamika pasar dan prospek ke depan yang semakin menantang. Penawaran tersebut berhasil menarik minat investor global, dengan total orderbook melebihi US$ 7,7 miliar. Dengan orderbook yang cukup solid tersebut, Pemerintah dapat menurunkan tingkat imbal hasil untuk seluruh tenor yang ditawarkan kepada investor. Final yield untuk tenor dolar AS Long 5 tahun, 10 tahun dan 30 tahun adalah sebesar 4,400%, 5,000% dan 5,500%. DJPPR menyebut, hasil penerbitan ini secara umum akan digunakan untuk pembiayaan APBN tahun 2026.
Baca Juga: Pemerintah Akan Terbitkan 8 Seri SBN Ritel Pada 2026 Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News