Kemenpar Bidik Kunjungan Wisatawan ASEAN-Korea Tembus 20 Juta



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kementerian Pariwisata (Kemenpar) mendorong peningkatan kunjungan wisatawan antara negara-negara ASEAN dan Korea Selatan dari sekitar 13 juta menjadi lebih dari 20 juta wisatawan.

Untuk mencapai target tersebut, pemerintah mendorong penguatan konektivitas, pengurangan hambatan perjalanan, serta peningkatan kerja sama pariwisata antara kedua kawasan.

Deputi Bidang Sumber Daya dan Kelembagaan Kemenpar Diah M. Paham mengatakan, peningkatan pertukaran wisatawan ASEAN-Korea menjadi salah satu agenda utama konferensi ASEAN-Korea Roundtable in Tourism (AK-RT) 2026 yang berlangsung pada 4–7 November 2026 di Jakarta.


Baca Juga: Oversupply Global Bayangi Industri Petrokimia Indonesia pada 2027

“Salah satu misi utama dari kolaborasi regional ini adalah memperluas pertukaran pariwisata dua arah antara Republik Korea dan negara-negara ASEAN. Targetnya adalah meningkatkan jumlah kunjungan dari 13 juta menjadi lebih dari 20 juta orang, sembari menjaga keseimbangan arus perjalanan di seluruh kawasan kita,” kata Diah dalam keterangan resmi, Kamis (5/11/2026).

Menurut Diah, pengembangan kerja sama pariwisata tersebut sejalan dengan Rencana Strategis Kemenpar 2025–2029 dan visi Indonesia Emas 2045.

Pemerintah mengarahkan sektor pariwisata pada peningkatan kualitas, keberlanjutan, dan inklusivitas, dengan tetap memberdayakan masyarakat lokal serta melestarikan warisan budaya.

Sekretaris Jenderal ASEAN Kao Kim Hourn menyebutkan, kawasan ASEAN menerima sekitar 147 juta kunjungan wisatawan internasional sepanjang 2025. Hampir 42% di antaranya merupakan perjalanan antarnegara ASEAN.

Baca Juga: Kembangkan 119 Inovasi, INALUM Bidik Efisiensi Produksi Aluminium

Sementara itu, jumlah kunjungan wisatawan di kawasan ASEAN Plus Tiga mencapai sekitar 244 juta. Korea Selatan menjadi salah satu pasar sumber wisatawan utama bagi ASEAN, dengan lebih dari 9,6 juta wisatawan Korea mengunjungi kawasan tersebut setiap tahun.

Kao menilai, besarnya potensi pasar tersebut perlu didukung konektivitas yang lebih luas agar manfaat ekonomi pariwisata tidak hanya terkonsentrasi di destinasi utama.

Selain konektivitas, ia mendorong percepatan transformasi digital melalui pengembangan pariwisata pintar, pembayaran digital, dan layanan berbasis kecerdasan buatan (AI).

Pemanfaatan teknologi tersebut juga diharapkan dapat memperluas akses pasar bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

“Melalui kemitraan, inisiatif percontohan, dan komitmen Korea yang kuat, diharapkan dapat mempererat hubungan sekaligus menciptakan peluang nyata bagi masyarakat setempat,” ujarnya.

Baca Juga: Pemerintah Perluas Relaksasi DHE SDA ke Jepang, Korsel dan Uni Eropa

Direktur International Passage to ASEAN (P2A) Lim Sang Taek turut menyoroti ketimpangan arus perjalanan wisatawan antara kedua kawasan.

Menurut dia, jumlah wisatawan Korea yang berkunjung ke ASEAN masih jauh lebih besar dibandingkan wisatawan ASEAN yang bepergian ke Korea Selatan.

“Oleh karena itu, kita perlu mengatasi hambatan perjalanan guna mendorong arus pariwisata yang lebih seimbang dan saling menguntungkan,” kata Lim.

Persoalan tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam AK-RT 2026 yang mempertemukan pembuat kebijakan, pelaku industri, akademisi, pakar, dan media.

Konferensi ini mengangkat empat agenda utama, yakni keamanan dan kemudahan perjalanan, penguatan sistem untuk membangun kepercayaan wisatawan, peningkatan kompetensi sumber daya manusia (SDM) pariwisata, serta pemahaman terhadap keberagaman budaya.

Baca Juga: Rupiah Melemah, Ongkos Logistik Industri Mamin Naik 3 Kali Lipat

Ketua Dewan AI ASEAN Ethel Agnes Pascua-Valenzuela juga menekankan pentingnya kesiapan SDM dalam menghadapi perubahan teknologi. Menurut dia, institusi pendidikan perlu menyesuaikan kurikulum pariwisata, perhotelan, manajemen, dan kewirausahaan dengan perkembangan AI.

“Mari kita manfaatkan peluang ini semaksimal mungkin. Mari kita optimalkan kolaborasi yang ada melalui inisiatif P2A, kami akan menjadi mitra aktif dalam pendidikan pariwisata,” kata Agnes.

Hasil pembahasan AK-RT 2026 diharapkan menghasilkan rekomendasi kebijakan yang dapat ditindaklanjuti oleh institusi terkait.

Rekomendasi tersebut juga akan melengkapi Rencana Kerja Kerja Sama Pariwisata ASEAN Plus Tiga periode 2026–2030.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News