KONTAN.CO.ID -
JAKARTA. Kementerian Pariwisata (Kemenpar) menyebut penutupan Taman Nasional Gunung Bromo akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak serta-merta menurunkan minat wisatawan untuk berkunjung. Faktor keamanan dan persepsi terhadap destinasi dinilai menjadi kunci dalam menjaga minat wisatawan. Staf Ahli Bidang Manajemen, khususnya Manajemen Krisis Kepariwisataan Kemenpar Fadjar Hutomo mengatakan, persepsi wisatawan terhadap keamanan destinasi turut memengaruhi keputusan untuk berkunjung kembali. Menurut dia, destinasi yang dipersepsikan aman akan tetap memiliki daya tarik bagi wisatawan, termasuk destinasi wisata alam yang sempat menghadapi gangguan seperti bencana atau kebakaran.
"Pariwisata itu adalah tentang persepsi. Ketika sebuah destinasi wisata alam dipersepsikan aman untuk dikunjungi, minat wisatawan untuk datang kembali akan tinggi," ujar Fadjar dalam keterangan resminya, Minggu (20/9/2026). Ia mencontohkan kondisi Taman Nasional Gunung Bromo yang sempat ditutup akibat karhutla. Menurut Fadjar, kejadian tersebut tidak menurunkan minat wisatawan secara signifikan karena Bromo masih dipersepsikan sebagai destinasi yang aman untuk dikunjungi.
Baca Juga: Traveloka: Permintaan Wisatawan Indonesia Bergeser ke Destinasi yang Murah "Awareness wisatawan terhadap kelestarian Bromo tinggi. Meski mengalami kebakaran hutan dan lahan (karhutla), wisatawan mempersepsikan Bromo aman untuk dikunjungi," katanya. Fadjar menambahkan, aspek keselamatan menjadi salah satu program prioritas Kemenpar dalam pengembangan sektor pariwisata. Menurut dia, pengelolaan destinasi tidak hanya berkaitan dengan daya tarik wisata, tetapi juga keamanan, kenyamanan, dan pelestarian lingkungan. Khusus di kawasan Bromo, Kemenpar menilai kebakaran dapat dipicu oleh faktor manusia maupun kondisi alam. Beberapa aktivitas wisatawan seperti penggunaan
flare untuk foto prewedding, membuang puntung rokok, serta sisa api unggun yang tidak dipadamkan dapat meningkatkan risiko kebakaran. Di sisi lain, kondisi musim kemarau dengan suhu tinggi dan angin kencang juga dapat membuat api cepat menyebar di kawasan savana yang kering. Karena itu, Kemenpar mendorong peningkatan pengawasan serta penerapan standar operasional prosedur (SOP) bagi wisatawan dan masyarakat di kawasan destinasi wisata alam.
Baca Juga: Investasi Pariwisata Tumbuh 16,64% di Semester I, PHRI: Ekspansi Hotel Masih Seret "Kemenpar berkolaborasi dengan media mengedukasi wisatawan agar tercipta persepsi positif terhadap destinasi wisata," kata Fadjar. Sementara itu, Direktur Jawa Timur Park Group Rio Imam Sendjojo mengatakan pengelola destinasi wisata juga perlu memperhatikan aspek keselamatan dalam operasional. Jatim Park Group yang menggabungkan unsur edukasi, hiburan, rekreasi, dan konservasi telah memasuki usia 25 tahun. Direktur Jawa Timur Park 3 Suryo Widodo menambahkan, pengelola secara berkala melakukan simulasi kebencanaan untuk meningkatkan kesiapan petugas. "Namun demikian, sesuai SOP dan standar Disnaker, Jatim Park secara periodik senantiasa melakukan simulasi kebencanaan untuk meningkatkan kewaspadaan dan kesiapan para petugas," ujar Suryo.
Dari sisi komunikasi, Manager Marketing & PR Jawa Timur Park Group Titik S. Ariyanto mengatakan pengelola juga memantau respons wisatawan di media sosial. Menurut dia, pengelola menyiapkan tim yang bekerja selama 24 jam untuk memonitor keluhan, saran maupun informasi yang beredar terkait destinasi. "Krisis komunikasi di sosial media sangat luar biasa. Saya punya tim yang harus bekerja keras memantau setiap komentar dan postingan melalui early warning system dalam 24 jam," kata Titik.
Baca Juga: Kemenpar: 259 Akomodasi Tak Berizin Sudah Dihapus dari Platform OTA per Agustus 2026 Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News