KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kementerian Pariwisata (Kemenpar) mewaspadai dampak konflik geopolitik di Timur Tengah terhadap pergerakan wisatawan mancanegara ke Indonesia. Pemerintah pun mulai menyiapkan strategi diversifikasi pasar wisatawan untuk menjaga momentum pertumbuhan sektor pariwisata nasional. Menteri Pariwisata, Widiyanti Putri Wardhana mengatakan kondisi geopolitik global hingga tekanan ekonomi dunia membuat sektor pariwisata menghadapi tantangan yang semakin dinamis. “Dinamika geopolitik di Timur Tengah ini tidak dipungkiri dapat berdampak pada jumlah wisatawan mancanegara yang datang,” ujar Widiyanti dalam Rakornas Pariwisata 2026, Rabu (20/5/2026).
Menurut dia, pemerintah kini mulai melakukan repositioning pasar wisatawan dengan memperkuat promosi ke kawasan Asia Tenggara, Asia Timur, dan Oceania untuk mengantisipasi potensi penurunan wisatawan dari Timur Tengah. “Kami di Kementerian Pariwisata harus melakukan repositioning dan juga strategi-strategi untuk membuka pasar di Asia Tenggara, Timur dan Oceania untuk mengisi kekosongan dari Middle East,” katanya.
Baca Juga: Pemerintah Genjot Pariwisata Jadi Mesin Pertumbuhan, Targetkan Devisa US$ 39,4 Miliar Di tengah tantangan global tersebut, Widiyanti menyebut capaian sektor pariwisata Indonesia sepanjang 2025 justru mencatat rekor tertinggi sepanjang sejarah. Devisa pariwisata tercatat mencapai US$ 18,27 miliar atau setara Rp 305,47 triliun. Sementara perjalanan wisata nusantara mencapai 1,2 miliar perjalanan atau tumbuh 17,6% dibandingkan 2024. “Capaian devisa pariwisata bersejarah menembus angka 18,27 miliar dolar AS. Dalam segi perjalanan wisata Nusantara, tahun 2025 mencatat 1,2 miliar perjalanan,” ujarnya. Menurut Widiyanti, pemerintah kini fokus menjaga momentum pertumbuhan tersebut melalui penguatan sektor pariwisata yang lebih adaptif dan berkelanjutan. Ia menilai perubahan perilaku wisatawan global juga menjadi tantangan baru karena wisatawan kini lebih mencari pengalaman wisata yang unik, personal, berkualitas, dan berkelanjutan.
Baca Juga: Tren Short Trip Dorong Lonjakan Wisata Dalam Negeri di Tahun 2026 “Sekarang mereka melihat experience bukan hanya melihat beach atau pantai dan gunung, tapi juga bagaimana mereka bisa bertemu dengan komunitas dari Indonesia,” katanya. Untuk menjaga daya beli wisatawan di tengah kenaikan biaya perjalanan global, pemerintah juga menyiapkan sejumlah insentif. Di antaranya diskon tiket pesawat kelas ekonomi hingga pembebasan atau diskon biaya masuk ke sejumlah destinasi prioritas. “Kementerian Pariwisata bekerja sama dengan kementerian lainnya untuk memberikan insentif. Insentif diskon pesawat kelas ekonomi dan juga diskon atau pembebasan tiket masuk,” ujar Widiyanti. Selain menyasar wisatawan massal, pemerintah juga mulai memperkuat strategi menarik wisatawan premium yang dinilai lebih tahan terhadap tekanan kenaikan biaya perjalanan.
“Kita mulai mengstrategikan wisatawan premium yang tidak terdampak oleh peningkatan biaya,” katanya. Pemerintah berharap sektor pariwisata dapat terus menjadi salah satu penopang devisa nasional di tengah ketidakpastian ekonomi global. Bahkan, sektor ini diproyeksikan menjadi salah satu penyumbang devisa terbesar Indonesia dalam beberapa tahun ke depan.
Baca Juga: BPS: Mobilitas Masyarakat Kuartal I-2026 Naik 13,14%, Wisnus 319,51 Juta Perjalanan Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News