Kemenperin Dorong Penambahan Sapi Perah untuk Kurangi Impor Susu



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Peningkatan populasi sapi perah dan produktivitas peternak lokal menjadi salah satu langkah strategis pemerintah untuk memperkuat industri pengolahan susu nasional. Upaya ini diharapkan dapat meningkatkan pasokan susu segar dalam negeri sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap bahan baku impor.

Menteri Perindustrian Muhammad Sarmuji mengatakan, pemerintah mendorong penambahan populasi sapi perah yang nantinya dipelihara oleh peternak lokal. Langkah tersebut juga perlu disertai pelatihan dan edukasi untuk meningkatkan produktivitas serta kualitas susu yang dihasilkan.

“Kita berharap susu bisa diproduksi semaksimal mungkin di dalam negeri. Kalau bisa, sapinya diimpor, dipelihara oleh peternak Indonesia, dilatih, diedukasi menghasilkan susu yang banyak dan berkualitas, itu akan lebih baik,” kata Sarmuji saat mengunjungi pabrik PT Cisarua Mountain Dairy Tbk (CMRY) di Sentul, Jawa Barat, Kamis (22/10/2026).


Menurut Sarmuji, penguatan industri susu dari sisi hulu membutuhkan kolaborasi lintas kementerian dan sektor. Upaya tersebut mencakup peningkatan populasi sapi perah, produktivitas peternak, hingga kualitas susu yang dihasilkan.

Baca Juga: Indonesia Bidik Rantai Pasok Chip Global, Ini Langkah Awalnya

Di sisi lain, pemerintah tetap membuka peluang impor bahan baku untuk menjaga kelancaran produksi industri. Relaksasi impor akan diberikan selama bahan baku yang dibutuhkan belum tersedia atau belum dapat dipenuhi dari produksi dalam negeri.

“Sepanjang impor untuk kepentingan bahan baku kita akan beri relaksasi, akan beri kelonggaran. Kecuali bahan bakunya sudah tersedia dan bisa diproduksi di Indonesia, kita akan utamakan bahan baku yang tersedia dan diproduksi oleh Indonesia,” ujarnya.

Keterbatasan pasokan susu segar lokal turut menjadi tantangan bagi industri pengolahan susu, termasuk CMRY. Direktur Manufacturing PT Cisarua Mountain Dairy Tbk Pamungkas Bayu Triprasetyo mengatakan, perusahaan saat ini baru menyerap sekitar 20%–30% kebutuhan susu dari peternak dalam negeri.

Pasokan susu segar tersebut berasal dari peternak di Jawa Barat dan Jawa Timur. Sementara itu, kebutuhan bahan baku yang belum dapat dipenuhi dari produksi domestik masih ditopang oleh susu bubuk impor.

“Karena dari industri menyerap susu lokal itu adalah suatu kewajiban. Kebetulan kita menyerap susu sekitar 20% sampai 30% dari total kebutuhan kita. Dan itu sudah maksimal karena suplai susu segar di Indonesia cukup sangat terbatas,” kata Pamungkas.

Adapun kebutuhan susu segar CMRY mencapai sekitar 1.000 ton per bulan. Besarnya kebutuhan tersebut menunjukkan pentingnya peningkatan produksi susu segar nasional untuk mendukung keberlanjutan pasokan bahan baku bagi industri pengolahan susu.

Baca Juga: Pemerintah Perketat Impor Skrap Baja, Industri Waspadai Kenaikan Biaya Produksi

Selain menyoroti ketersediaan bahan baku, Sarmuji juga menyinggung tingkat utilisasi industri nasional yang masih berada di kisaran 70%. Menurutnya, kapasitas produksi yang sudah tersedia masih dapat dimanfaatkan secara lebih optimal untuk meningkatkan kontribusi sektor industri terhadap perekonomian.

“Utilisasi industri kita baru mendekati 70%, belum ideal. Kalau kita bisa maksimalkan utilisasi industri itu misalkan sampai 80%, 85% dengan yang ada saja, itu bisa meningkatkan kontribusi industri ke PDB lebih signifikan lagi,” tutur Sarmuji.

Untuk meningkatkan utilisasi tersebut, ketersediaan bahan baku dalam jumlah memadai dengan harga kompetitif menjadi salah satu faktor penting. Pasokan yang lebih terjamin diharapkan dapat membantu industri meningkatkan produksi dan memaksimalkan kapasitas yang tersedia.

Di sisi hilir, Kemenperin juga mendorong CMRY memperluas diversifikasi produk olahan susu. Pemerintah menantang perusahaan untuk mengembangkan produk turunan, seperti keju dengan cita rasa khas Indonesia dan es krim, guna memperkuat nilai tambah industri pengolahan susu nasional.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News