Kemenperin Gandeng Perusahaan China Garap Pilot Project Limbah di 5 Kawasan Industri



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menggandeng perusahaan asal China, Qiaoyin City Management Co., Ltd., untuk menyiapkan proyek percontohan pengolahan air baku dan air limbah di lima kawasan industri di Indonesia.

Kerja sama tersebut ditandai melalui penandatanganan nota kesepahaman antara Kemenperin, Qiaoyin, dan Himpunan Kawasan Industri Indonesia (HKI) di Jakarta, Senin (11/5/2026).

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengungkapkan, lima kawasan industri akan dipilih sebagai lokasi pilot project penerapan teknologi pengolahan air dan limbah terpadu.


“Kita tidak hanya mencari sistem pengolahan air yang baik, tetapi juga mencari model pengelolaan yang paling efektif dan mudah diterapkan,” ujarnya dalam keterangan resmi, dikutip Rabu (13/5/2026).

Baca Juga: SCG Bangun Empat Waste Station di Sukabumi, Dorong Pengelolaan Sampah

Kerja sama tersebut dilakukan di tengah meningkatnya kebutuhan pengelolaan air dan limbah industri seiring ekspansi kawasan industri nasional.

Kemenperin menilai pengembangan sistem pengolahan air terpadu menjadi salah satu infrastruktur penting untuk mendukung industri hijau dan target penurunan emisi sektor manufaktur.

Berdasarkan data Kemenperin, hingga 2025 terdapat 176 kawasan industri di Indonesia dengan total luas mencapai 98.291,68 hektare. Kawasan tersebut menampung sekitar 11.970 tenant industri dengan nilai investasi mencapai Rp 6.744,58 triliun serta menyerap 2,35 juta tenaga kerja.

Dalam proyek tersebut, Qiaoyin menawarkan teknologi Efficient Denitrogenation Integrated Airlift Loop Bioreactor (DIAB) untuk pengolahan limbah industri. Teknologi itu diklaim mampu menekan biaya pembangunan instalasi pengolahan limbah sekaligus mengurangi kebutuhan lahan dibandingkan sistem konvensional.

Perwakilan Qiaoyin City Management Co., Ltd. Wan Yiming mengatakan, teknologi DIAB dapat memangkas biaya pembangunan fasilitas pengolahan limbah hingga 20% dan menghemat kebutuhan lahan sampai 60%.

Selain itu, sistem prefabrikasi disebut dapat mempercepat pembangunan fasilitas pengolahan limbah industri.

Baca Juga: Krisis TPA Mengancam, Pemerintah Pacu Proyek Pengolahan Sampah Jadi Energi

Ketua Umum HKI Akhmad Ma’ruf Maulana menilai penerapan teknologi pengolahan air dan limbah menjadi semakin penting bagi kawasan industri, terutama untuk memenuhi standar keberlanjutan pasar global.

Sementara itu, Direktur Jenderal Ketahanan, Perwilayahan, dan Akses Industri Internasional Kemenperin Tri Supondy berharap proyek percontohan tersebut dapat berlanjut ke tahap investasi dan transfer teknologi.

“Kami berharap kerja sama ini tidak berhenti pada tahap pilot project saja, tetapi juga mampu mendorong investasi, transfer teknologi, peningkatan kapasitas sumber daya manusia nasional, serta pengembangan industri berbasis inovasi di Indonesia,” katanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News