Kementan Bakal Panggil Produsen DOC dan Pakan, Tekan Oversupply Ayam



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pemerintah melalui Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) akan memperkuat koordinasi dengan pelaku industri perunggasan, termasuk produsen DOC dan pakan, guna merespons tekanan harga ayam hidup akibat kelebihan pasokan.

Direktur Perbibitan dan Produksi Ternak Ditjen PKH Hary Suhada menjelaskan, kondisi pasar saat ini menunjukkan adanya tekanan di tingkat peternak seiring turunnya harga livebird di bawah biaya pokok produksi (HPP).

“Berdasarkan perhitungan tersebut, estimasi HPP nasional saat ini berada pada kisaran Rp19.500 hingga Rp21.000 per kilogram livebird, tergantung pada skala usaha dan tingkat efisiensi di masing-masing peternak,” ujarnya kepada Kontan, Kamis (16/4).


Baca Juga: BP BUMN Bersama Danantara Percepat Langkah Restrukturisasi BUMN Karya

Ia menambahkan, ketika harga pasar jatuh di bawah Rp19.000 per kilogram, kondisi tersebut mulai menekan margin usaha peternak, terutama peternak mandiri.

“Apabila situasi ini berlangsung lama, maka dapat berdampak pada keberlangsungan usaha, terutama bagi peternak mandiri,” katanya.

Dari sisi pasokan, Ditjen PKH mencatat adanya indikasi oversupply pasca Lebaran di kisaran 5% hingga 10% dari kebutuhan normal mingguan, khususnya di Pulau Jawa.

“Kondisi ini terutama disebabkan oleh penurunan serapan pasar pasca lebaran, dimana konsumsi masyarakat kembali ke pola normal setelah periode puncak,” jelasnya.

Selain itu, faktor siklus produksi turut memperparah kondisi, termasuk tingginya chick in sebelum Lebaran yang memicu panen bersamaan dalam waktu singkat.

“Kondisi ini semakin diperkuat dengan adanya ‘peternak musiman’ yang masuk pada periode menjelang lebaran untuk memanfaatkan tingginya permintaan,” ujarnya.

Untuk meredam tekanan tersebut, pemerintah mendorong pelaku usaha melakukan pengendalian produksi, terutama di sektor hulu seperti breeding farm dan hatchery.

“Implementasi dilakukan dalam waktu segera sebagai respon terhadap dinamika pasar, dengan target awal penurunan pasokan, khususnya DOC final stock, pada kisaran 5 hingga 7 persen dalam jangka pendek,” kata Hary.

Langkah pengendalian dilakukan melalui penyesuaian produksi DOC, pengaturan setting hatching egg (HE), serta afkir dini parent stock secara selektif.

Di sisi lain, pemerintah juga memperketat pengawasan terhadap produksi dari hulu melalui pengaturan pemasukan Grand Parent Stock (GPS) agar tidak terjadi lonjakan populasi breeding yang memicu overproduksi DOC.

“Penguatan pengawasan juga dilakukan melalui peningkatan pelaporan realisasi produksi, baik pada level GPS, PS, maupun DOC, serta sinkronisasi data antara pemerintah pusat dan pelaku usaha,” jelasnya.

Pemerintah menegaskan akan mengambil langkah pengendalian jika pelaku usaha tidak menyesuaikan produksi dengan kebutuhan pasar, mulai dari teguran administratif hingga evaluasi perizinan.

Dengan langkah tersebut, Kementan berharap keseimbangan supply-demand dapat segera pulih dan harga ayam hidup kembali berada di level yang menguntungkan peternak tanpa memberatkan konsumen.

Baca Juga: Harga Solar Industri Naik, Biaya Operasional Tambang Terancam Membengkak

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News