KONTAN.CO.ID - JAKARTA.
Kementerian Pertanian (Kementan) mendorong penguatan sektor pertanian melalui peningkatan produksi, pemanfaatan teknologi, serta perluasan akses pasar dan pembiayaan bagi petani. Langkah tersebut dinilai penting untuk memastikan peningkatan produksi juga diikuti dengan perbaikan kesejahteraan pelaku usaha tani. Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian Suwandi mengatakan, pembangunan pertanian membutuhkan koordinasi antara pemerintah, penyuluh, dan petani agar kebijakan yang dijalankan dapat menjawab kebutuhan di lapangan. Selain peningkatan kapasitas petani, pemanfaatan teknologi juga perlu diperkuat untuk mendukung produktivitas. “Pentingnya akses terhadap pasar dan pembiayaan, termasuk dukungan bagi petani agar hasil produksi dapat memberikan manfaat ekonomi yang lebih baik,” ujar Suwandi dalam keterangannya, Selasa (22/9).
Baca Juga: Pencapaian Terbaru Bumi Resources (BUMI) Menurutnya, peran Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) juga menjadi penting sebagai wadah komunikasi dan penyampaian aspirasi petani. Forum tersebut dapat mempertemukan pengalaman pelaku usaha di lapangan dengan program dan kebijakan pembangunan pertanian. Rembug Paripurna KTNA Nasional dan KTNA Agro Expo 2026 berlangsung pada 18–21 September 2026 di Kota Batu. Kegiatan yang diselenggarakan PT Fery Agung Corindotama (Feraco) tersebut mempertemukan petani, nelayan, pemerintah, pelaku usaha, lembaga penelitian, hingga industri pendukung dalam satu ekosistem agribisnis. Direktur Feraco Ruslim mengatakan, kegiatan tersebut diarahkan untuk memperluas interaksi antarpelaku agribisnis sekaligus membuka ruang pertukaran pengetahuan dan pengenalan teknologi. “Bagi kami, penyelenggaraan event bukan hanya tentang bagaimana acara berjalan dengan baik secara teknis, tetapi juga bagaimana pesan dan identitas acara dapat tersampaikan kepada pengunjung. Kami berupaya membangun pengalaman yang mempertemukan petani, nelayan, pemerintah, pelaku usaha, teknologi, dan lembaga keuangan, sekaligus memberi ruang bagi produk dan inovasi agribisnis Indonesia untuk tampil,” kata Ruslim. KTNA Agro Expo 2026 menghadirkan 40 booth yang terdiri dari 30 booth perusahaan dan 10 booth UMKM. Pameran tersebut menargetkan sekitar 5.000 pengunjung di luar delegasi KTNA. Materi yang ditampilkan mencakup produk olahan pertanian, perikanan dan kehutanan, sarana produksi seperti benih, pupuk dan pakan, alat dan mesin pertanian, hasil riset, teknologi tepat guna, hingga jasa keuangan bagi pelaku agribisnis. Sejumlah perusahaan yang berpartisipasi antara lain PT Triangle Motorindo, PT Raja Ampat Indotim, PT Saprotan Utama Nusantara, PT Syngenta Indonesia, PT Delta Giri Wacana, PT Karya Delitama Prima Persada, PT Yanmar Diesel Indonesia, CV Phonna Raya Machinery, dan CropLife Indonesia. Dari unsur BUMN, turut berpartisipasi Perum Bulog dan Pupuk Indonesia. Kehadiran UMKM dan mitra KTNA juga menjadi bagian dari upaya memperkenalkan produk serta potensi usaha dari berbagai daerah. Di sisi lain, Wali Kota Batu Nurochman menilai peningkatan produksi pertanian perlu berjalan beriringan dengan kesejahteraan petani. Menurutnya, swasembada pangan tidak cukup hanya dilihat dari sisi produksi, tetapi juga perlu mempertimbangkan keberlanjutan lahan, regenerasi petani, hingga kepastian pasar. “Ketika kita berbicara tentang swasembada pangan, kita juga harus bertanya apakah petani sudah sejahtera, apakah lahannya tetap terjaga, apakah generasi muda mau meneruskan pertanian, dan apakah hasil pertanian memiliki pasar yang memberikan nilai layak bagi mereka,” ujar Nurochman. Ia mengatakan sektor pertanian saat ini menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari perubahan cuaca, risiko gagal panen, biaya produksi, perubahan harga hingga ketidakpastian pasar. Untuk menghadapi tantangan tersebut, Pemerintah Kota Batu mendorong pendekatan pertanian yang lebih adaptif melalui program Smart and Integrated Farming. Pemanfaatan teknologi, menurut Nurochman, perlu diarahkan untuk meningkatkan produktivitas dan membantu petani mengambil keputusan dengan lebih baik. “Teknologi harus kita manfaatkan bukan untuk menjauhkan petani dari pertanian, tetapi justru membantu mereka bekerja lebih efektif, meningkatkan produktivitas, menjaga kualitas, dan mengambil keputusan dengan lebih baik,” katanya.
Baca Juga: Kapasitas PLTA Menurun Imbas El Nino, Sungai di Papua Alami Pendangkalan Selain teknologi, regenerasi petani menjadi perhatian karena keberlanjutan sektor pertanian tidak dapat hanya mengandalkan petani yang saat ini telah berusia senior. “Pertanian kita harus tetap berakar pada pengalaman petani, tetapi pada saat yang sama berani menggunakan pengetahuan dan teknologi baru. Ketahanan pangan sesungguhnya juga berkaitan dengan regenerasi petani yang harus menjadi komitmen bersama,” ujar Nurochman. Sementara itu, Ketua Umum KTNA Nasional periode berjalan Muhammad Yadi Sofyan Noor mengatakan penguatan peran petani dan nelayan perlu dibarengi dengan penguatan organisasi sebagai wadah komunikasi, pembelajaran, dan kolaborasi. Menurut Yadi, perubahan di sektor pertanian dan perikanan membuat petani dan nelayan membutuhkan dukungan yang lebih kuat agar dapat beradaptasi terhadap perkembangan teknologi, pasar, serta kebijakan. “KTNA harus mampu menjawab tantangan zaman dengan memastikan petani dan nelayan tidak berjalan sendiri menghadapi berbagai perubahan. Rembug Paripurna menjadi momentum untuk menyatukan pandangan dan merumuskan langkah organisasi ke depan. Kami ingin KTNA semakin kuat sebagai wadah yang menyuarakan kepentingan petani dan nelayan,” kata Yadi. Agenda utama Rembug Paripurna berlangsung pada Minggu (20/9). Peserta membahas agenda dan kuorum, tata tertib, serta musyawarah tiga komisi yang mencakup Komisi Organisasi, Komisi Program, dan Komisi Rekomendasi. Forum juga membahas laporan pertanggungjawaban pengurus, proses demisioner, serta seleksi bakal calon Ketua Umum KTNA Nasional. Agenda puncak mencakup pemilihan dan penetapan Ketua Umum KTNA Nasional periode 2026–2031, pembentukan tim formatur, dan penyusunan kepengurusan baru. Selain pameran, KTNA Agro Expo 2026 diisi dengan talk show, demonstrasi dan presentasi produk serta teknologi, perlombaan, pagelaran seni budaya, hingga Festival Pangan Lokal.
Ketua Panitia Pelaksana KTNA Otong Wiranata mengatakan keterlibatan anggota KTNA dari tingkat pusat hingga daerah diperlukan untuk memperkuat hasil Rembug Paripurna maupun kegiatan pameran. “Kami mengajak seluruh anggota KTNA untuk bersama-sama menyukseskan Rembug Paripurna dan KTNA Agro Expo 2026. Kami berharap peserta aktif dalam musyawarah dan memanfaatkan kegiatan ini untuk berbagi pengetahuan serta pengalaman. Dari Kota Batu, kami berharap lahir semangat baru untuk memperkuat KTNA dan sektor agribisnis Indonesia,” ujarnya.
Baca Juga: ZYRX Tetap Kejar Target Pendapatan Rp450 Miliar di Tengah Tekanan Harga Komponen Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News