Kementan Gali Potensi Lahan Rawa Sebagai Alternatif Tingkatkan Produksi Padi



KONTAN.CO.ID - JAKARTA - Kementerian Pertanian (Kementan), melalui Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), kembali menyoroti potensi lahan rawa sebagai alternatif untuk meningkatkan produksi padi, khususnya di Provinsi Kalimantan Selatan. Program ini merupakan bagian dari upaya pemerintah dalam mencapai swasembada pangan.

Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, telah menegaskan pentingnya optimalisasi lahan rawa sebagai salah satu strategi untuk mencapai swasembada pangan. Untuk mewujudkan hal tersebut, perlu adanya dukungan dari berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah, penyuluh, dan petani muda.

Dalam rangka mendukung program ini, Kementan melalui BPPSDMP menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) dengan tema 'Agribisnis di Lahan Rawa Berbasis Pertanian Modern dan Kunjungan Lapang'. FGD ini melibatkan berbagai pihak, seperti lembaga penelitian, lembaga pendidikan, serta pakar mekanisasi pertanian lahan rawa.


Baca Juga: Anggaran Tambahan untuk Pupuk Subsidi Belum Cair, Mentan: Tinggal Tunggu SK

Kegiatan ini dilaksanakan selama dua hari. Hari pertama berfokus pada diskusi, yang digelar di Aula SMK-PP Negeri Banjarbaru, Kalsel, pada Kamis [14/3]. Sedangkan hari kedua adalah kunjungan lapangan ke Kabupaten Barito Kuala.

Kepala BPPSDMP Kementan, Dedi Nursyamsi, menekankan bahwa swasembada beras merupakan komitmen penting pemerintah. Dia juga menyoroti bahwa optimalisasi lahan rawa berbasis pertanian modern memiliki peran signifikan dalam mengatasi krisis pangan yang terjadi, "terutama sejak adanya konflik dan fenomena El Nino sejak Februari 2023," ujar Dedi dalam siaran pers,  Jumat (15/3).

Dampak dari El Nino telah menyebabkan penurunan stok beras secara signifikan. Hal ini menjadi perhatian serius mengingat kebutuhan beras yang terus meningkat. Indonesia memiliki potensi besar dalam memanfaatkan lahan rawa, dengan sekitar 33,3 juta hektar lahan tersebut, di mana sekitar 9,5 juta hektar di antaranya memiliki potensi untuk pertanian produktif. 

Dalam tahap awal, optimalisasi lahan rawa akan dilakukan di 11 provinsi di Indonesia, termasuk Kalimantan Selatan dengan luas lahan sekitar 46,3 ribu hektar.

Baca Juga: Produksi Padi Turun, Imbas Berkurangnya Luas Tanam Padi hingga 26,2%

Keunggulan spesifik lahan rawa adalah kemampuannya untuk menghasilkan padi saat musim kemarau, yang mana agroekosistem lain mungkin mengalami kekeringan. Namun, karakteristik fisik lahan rawa yang tidak subur dan sulit dikendalikan air memerlukan penerapan teknologi tepat guna.

FGD ini juga menghadirkan sejumlah narasumber yang membahas berbagai aspek terkait, seperti keandalan agribisnis padi di lahan rawa, pengolahan tanah, persiapan sumber daya manusia, dan rencana pelibatan petani milenial.

Harapannya dari FGD ini adalah adanya tinjauan kebijakan yang komprehensif, strategi pengembangan agribisnis yang efektif, serta pembagian peran yang jelas bagi setiap stakeholder yang terlibat dalam pengembangan agribisnis lahan rawa berbasis pertanian modern.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Noverius Laoli