KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kementerian Pertanian (Kementan) memperkuat program kemitraan tembakau di Jawa Tengah yang kini telah menjangkau lebih dari 10.000 petani di Kabupaten Rembang, Grobogan, dan Wonogiri. Program ini menjadi salah satu upaya Kementan meningkatkan produktivitas dan kualitas tembakau sekaligus memberi kepastian bagi petani dalam menjalankan usaha tani hingga penyerapan hasil panen. Direktur Tanaman Semusim dan Tahunan Kementan, Abdul Roni Angkat, mengatakan, kemitraan dilakukan melalui pendampingan berkelanjutan sejak tahap pembibitan hingga panen.
Baca Juga: Kontribusi Industri Hasil Tembakau ke Ekonomi Terancam Tekanan Regulasi Pendampingan tersebut juga digunakan untuk memetakan kendala petani di lapangan dan memastikan hasil panen memenuhi standar industri. “Pendampingan dilakukan secara berkelanjutan dari pembibitan hingga panen,” kata Abdul Roni dalam keterangannya, Sabtu (22/8/2026). Kemitraan tersebut dijalankan melalui Sistem Produksi Terpadu yang telah dikembangkan sejak 2009. Skema ini mencakup penerapan Good Agricultural Practices (GAP), pendampingan teknis, transfer pengetahuan budidaya, serta dukungan untuk menekan biaya usaha tani. Menurut Kementan, pola kemitraan juga membantu petani menghadapi berbagai tantangan, mulai dari perubahan cuaca, keterbatasan informasi dan sarana produksi hingga ketidakpastian tata niaga.
Baca Juga: Holding UMi Telah Jangkau Lebih dari 33,7 Juta Nasabah per Maret 2026 Di sisi lain, kegiatan budidaya tembakau ikut menggerakkan ekonomi pedesaan melalui penyerapan tenaga kerja serta mendorong usaha sarana pertanian dan UMKM di wilayah sentra produksi. Bagi petani, program tersebut juga membuka peluang memanfaatkan lahan pada musim kemarau. Arifin, salah satu petani mitra di Rembang, mengatakan pendampingan membuatnya dapat tetap menggarap lahan saat komoditas lain sulit tumbuh akibat cuaca panas. Dengan pola tersebut, Arifin tidak lagi harus pergi ke kota untuk mencari pekerjaan serabutan saat musim kemarau. Ia cukup menanam tembakau dengan mengikuti panduan budidaya yang diberikan dalam program kemitraan. Kementan juga membuka peluang pengembangan kapasitas petani melalui program pertukaran petani muda ke luar negeri. Program ini diharapkan memberi kesempatan bagi petani Indonesia mempelajari praktik budidaya dari negara lain sekaligus membagikan pengalaman mereka di tingkat global. Selain pendampingan, Kementan mendorong modernisasi budidaya melalui mekanisasi, termasuk penyaluran alat mekanisasi panen untuk meningkatkan efisiensi kerja petani.
Baca Juga: Confluent Percepat Ekspansi Mitra ke Pasar Data Streaming US$100 Miliar Abdul Roni menegaskan, penguatan kemitraan tidak hanya diarahkan pada peningkatan produksi, tetapi juga memastikan kebijakan di sektor hulu dan hilir berjalan selaras agar manfaat ekonomi dari komoditas tembakau kembali dirasakan petani. Sumber:
https://money.kompas.com/read/2026/08/22/111300526/kementan-perkuat-kemitraan-tembakau-sudah-jangkau-10.000-petani-di-jateng?page=all#page2. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News