Kementerian BUMN: Perkuat modal, BNI bakal rights issue hingga Rp 11,7 triliun



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kementerian BUMN melihat rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR) PT Bank Negara Indonesia (Persero) tertekan. Wakil Menteri BUMN Kartiko Wirjoatmodjo mengatakan, CAR BNI sejak 2016 hingga 2020 berada di level 19,7% hingga 16,7%. 

“BNI menjadi yang terendah di antara peers, demikian pula untuk CAR tier 1 di kisaran 16%. Dimana memang pertumbuhan aset maupun pinjaman BNI dalam beberapa tahun terakhir tidak didukung dengan aktiva tertimbang menurut risiko (ATMR) yang memadai,” ujar Tiko panggilan akrab Kartika di Rapat Kerja Komisi VI DPR RI, Kamis (8/7).

Ia menambahkan, dengan status BNI sebagai bank sistemik, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah meminta untuk memperkuat modal tier 1 BNI. Ia juga yakin, BNI tengah dalam proses transformasi dan restrukturisasi. Kementerian BUMN pun berharap, permasalahan non performing loan (NPL) bisa diselesaikan. 


“Harapannya 2022, seiring penyelesaian aset maupun yang terdampak Covid-19, BNI bisa tumbuh optimal. Dalam jangka pendek, memang BNI berencana menerbitkan perpetual bond. Ini dalam proses. Namun tetap kami ajukan rights issue dengan total size Rp 11,7 triliun,” jelasnya. 

Baca Juga: Utang 4 BUMN Karya ini capai puluhan triliun jadi alasan pemerintah beri PMN

Tiko bilang, agar pemerintah tetap menjadi pemilik saham pengendali, porsi pemerintah pada right issue BNI ini senilai Rp 7 triliun dengan skema penyertaan modal negara (PNM). Lewat langkah ini, Kementerian BUMN memproyeksi CAR BNI di level 21,8% pada 2025.

Adapun perpetual bond dengan skema sub debt yang akan diterbitkan BNI direncanakan pada pada kuartal ketiga 2021 senilai US$ 500 juta. Surat utang ini memiliki tenor 5 tahun atau 5,5 tahun dengan perkiraan imbal hasil 4% hingga 5%.

Sebelumnya, Direktur Utama BNI Royke Tumilaar mengatakan, rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR) perseroan per Maret 2021 tercatat sebesar 18% dimana modal intinya ada di level 15%.

"Modal inti sudah dekat dengan batas yang dicanangkan regulasi yakni di level 14%. Kalau lihat Bank Himbara lainnya ada di kisaran 19%-20%. Itu sebabnya kami mencoba mengajukan untuk melakukan rights issue untuk menambah modal itu supaya bisa mendekati modal tier di level 18%-19%," ungkap Royke belum lama ini. 

Angka tersebut sebetulnya bisa dicapai BNI dengan mengandalkan pertumbuhan organik. Hanya saja, lanjut Royke, itu bakal membutuhkan waktu lama dan baru akan dicapai  pada tahun 2024-2025.

Sementara dalam beberapa tahun ke depan ini, BNI membutuhkan modal untuk melakukan ekspansi. "Butuh capital yang cukup sebagai buffer baik untuk ekspansi kredit maupun anorganik," kata Royke.

Selanjutnya: Perkuat modal, Kementerian BUMN sebut BTN bakal rights issue hingga Rp 5 triliun

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Herlina Kartika Dewi