KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melalui Direktorat Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) bersama para pemangku kepentingan (stakeholder) sektor energi bersih resmi meluncurkan penyelenggaraan The 12th IndoEBTKE ConEx 2026. Mengusung tema “Turning Ambition into Action: Accelerating Clean Energy Transition in Indonesia and ASEAN", forum ini akan berlangsung pada 2 - 4 September 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta. The 12th IndoEBTKE ConEx 2026 menegaskan komitmen Indonesia untuk mempercepat implementasi transisi energi bersih melalui kolaborasi regional, inovasi teknologi, dan penguatan investasi hijau. Direktur Jenderal EBTKE Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi menekankan pentingnya sinergi berbagai pihak dalam mempercepat transisi energi. “Kami berharap penyelenggaraan IndoEBTKE ConEx tahun ini dapat berlangsung lebih besar, sekaligus menjadi ruang kolaborasi bagi seluruh pemangku kepentingan untuk terus mendorong pengembangan energi baru terbarukan di Indonesia,” kata Eniya, Jumat (13/3/2026).
Di samping pengembangan EBT, Eniya menegaskan bahwa aspek konservasi energi juga harus terus diperkuat sebagai bagian dari upaya transisi energi yang berkelanjutan. "Kita juga perlu memperkuat upaya konservasi energi melalui penerapan manajemen energi dan efisiensi energi di berbagai sektor, sehingga penggunaan energi menjadi lebih hemat, efisien, dan berkontribusi pada penurunan emisi,” tambah Eniya.
Baca Juga: Beroperasi 2030, PGE Eksekusi Proyek PLTP Lumut Balai Unit 3 Berkapasitas 55 MW Ketua Umum Masyarakat Konservasi dan Efisiensi Energi Indonesia (MASKEEI) Andhika Prastawa sepakat, efisiensi energi akan menjadi salah satu pilar penting dalam pencapaian Net Zero Emission. MASKEEI mendorong penguatan implementasi efisiensi energi melalui berbagai inisiatif, termasuk pengembangan platform Energy Efficiency as a Service. "Diharapkan dapat mempercepat adopsi teknologi hemat energi di sektor industri maupun komersial," kata Andhika. Sementara itu, Ketua Umum Masyarakat Energi Terbarukan Indonesia (METI) Zulfan Zahar turut menyoroti pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam mempercepat pengembangan energi terbarukan. Zulfan berharap The 12th IndoEBTKE ConEx 2026 akan menjadi katalis penting bagi percepatan transisi energi di Indonesia dan kawasan ASEAN. "Tidak hanya menjadi forum diskusi, tetapi juga ruang kolaborasi nyata yang mempertemukan inovasi teknologi, pembiayaan hijau, dan kebijakan progresif. Kami ingin memastikan ambisi transisi energi di kawasan benar-benar diwujudkan melalui aksi nyata dan kemitraan strategis,” ujar Zulfan. Direktur Manajemen Proyek dan EBT PT PLN (Persero), Suroso Isnandar menegaskan bahwa PLN mendorong kerja sama berbagai pihak. Terutama pemangku kebijakan, pelaku industri, investor, lembaga keuangan dan penyedia teknologi untuk bersama-sama mewujudkan pencapaian Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025 - 2034, yang diklaim sebagai RUPTL paling hijau dengan sekitar 76% rencana penambahan kapasitas pembangkit berasal dari EBT.
Baca Juga: Pertamina Geothermal (PGEO) Mulai Tahap Lanjutan PLTP Lumut Balai Unit 3 55 MW "Peningkatan target EBT dalam RUPTL 2025-2034 menjadi 76% menunjukkan arah dukungan PLN pada transisi energi. Kami berharap Indo EBTKE Conex dapat menjadi forum strategis untuk ajang diskusi, kolaborasi, konsensus berbagai pihak dan bahkan kesepakatan investasi untuk percepatan EBT," ujar Suroso. Direktur Proyek dan Operasi Pertamina New Renewable Energy (NRE), Norman Ginting sepakat, pengembangan portofolio dan realisasi target besar proyek-proyek EBT membutuhkan kolaborasi dan dukungan dari banyak pihak. Norman menyoroti, transisi energi bersih menjadi sangat penting melihat situasi saat ini yang penuh ketidakpastian akibat eskalasi konflik geopolitik. Norman mengingatkan, gangguan pasokan energi dapat dengan cepat memicu lonjakan harga energi. Situasi ini harus menjadi pelajaran yang penting bahwa ketahanan energi tidak boleh bergantung pada satu sumber dan satu kawasan saja.
"Oleh karena itu transisi energi bukan sekadar agenda lingkungan. Tapi ini adalah tentang strategi agenda untuk memastikan kedaulatan energi nasional. Negara yang mampu menguasai energi bersih akan memiliki kedaulatan energi yang lebih kuat di tengah geopolitik dunia yang tidak stabil," terang Norman. The 12th IndoEBTKE ConEx 2026 akan menghadirkan berbagai sesi strategis yang melibatkan pembicara dari lembaga internasional, pemerintah, perusahaan energi global, serta lembaga keuangan internasional. Berbagai topik utama akan dibahas, mulai dari percepatan investasi energi terbarukan, pengembangan teknologi energi bersih, integrasi sistem energi kawasan, hingga strategi pembiayaan inovatif untuk mendukung transisi energi di negara berkembang.
Baca Juga: Target Bauran EBT 2026: Kementerian ESDM Incar Kenaikan 2% Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News