Kementerian ESDM Targetkan Stop Impor Avtur Mulai 2027



KONTAN.CO.ID - BALIKPAPAN. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkap bahwa Indonesia akan berhenti melakukan impor avtur atau bahan bakar pesawat terbang mulai 2027 mendatang.

Target ini menurut Bahlil didukung dengan beroperasinya proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) di Kilang Balikpapan milik PT Pertamina (Persero) tahun ini.

Dalam laporannya kepada Presiden RI, Prabowo Subianto, Bahlil menyebut, avtur menjadi komoditas selanjutnya yang akan dihentikan impor, setelah solar yang akan mulai dihentikan impornya tahun ini.


Baca Juga: Bahlil Setop Izin Impor Solar, Ini Dampaknya Bagi Bisnis SPBU Swasta

"Termasuk avtur Bapak Presiden. Jadi avtur juga 2027 insya Allah tidak lagi kita melakukan impor. Ke depan kita akan dorong atas perintah Bapak Presiden kita hanya mengimpor crude-nya saja," kata Bahlil dalam acara peresmian RDMP Balikpapan, di Kalimantan Timur, dikutip Selasa (13/1/2026).

Untuk diketahui, RDMP Balikpapan memiliki fasilitas utama, yakni Crude Distillation Unit (CDU) dan Residual Fluid Catalytic Cracking (RFCC).

Dengan CDU yang menjadi jantung dari kilang Balikpapan, kapasitas kilang yang semula 260 ribu barel, kini dapat ditingkatkan menjadi 360 ribu barel minyak per hari. Sementara itu, unit RFCC menjadi pengolah minyak mentah yang mampu mengubah residu menjadi produk yang bernilai tinggi.

“Yang (RDMP) sekarang kualitasnya sangat bagus sekali, sudah menuju setara dengan Euro 5, dan ini menuju kepada net zero emission,” tegas Bahlil.

Proyek ini juga telah terintegrasi dengan dua tangki penyimpanan raksasa Lawe-Lawe yang total kapasitasnya mencapai 2 juta barel, serta Terminal BBM Tanjung Batu berkapasitas 125 ribu kiloliter yang bisa melayani distribusi BBM untuk Indonesia bagian timur.

Baca Juga: Impor Solar Dihentikan, Menteri Bahlil Wajibkan SPBU Swasta Beli dari Pertamina

Sebelumnya dalam catatan Kontan, Bahlil berencana mengonversi perkiraan surplus solar tahun depan menjadi bahan bakar industri penerbangan atau avtur.

Menurut dia, Indonesia bakal mengalami surplus solar sekitar 4 juta ton mulai paruh kedua 2026.

“Jumlah solar yang surplus kurang lebih sekitar 4 juta ton itu kita akan konversi untuk membuat produksi avtur,” kata Bahlil kepada Presiden Prabowo Subianto saat sidang kabinet di Istana Negara, Jakarta, Senin (15/12/2025).

Selanjutnya: Aditya Farhan Arif Resmi Jadi Dirut IBC, Ini Rekam Jejaknya

Menarik Dibaca: Kolaborasi NIVEA–Grab Sabet Dua Penghargaan di MMA SMARTIES APAC 2025

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News