JAKARTA. Masyarakat Ekonomi ASEAN yang mulai berlaku akhir tahun ini mengharuskan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PU-PR) bersiap. Kini, Kementerian PU-PR tengah berfokus meningkatkan sertifikasi tenaga ahli yang terampil dan menyiapkan kontraktor serta konsultan yang mampu mengerjakan proyek dalam waktu singkat. Kepala Badan Pembinaan Konstruksi Kementerian PU-PR Hediyanto Husaini mengatakan, sebenarnya Indonesia sudah siap menghadapi MEA di bidang konstruksi. Hanya saja, "masih ada masalah di sumber daya manusia (SDM) yang tersertifikasi. Soal kemampuan membangun sudah ada, kualifikasi sudah ada, tapi standar ASEAN belum dimiliki," kata Hediyanto, Kamis kemarin (22/1). Kepala Pusat Pembinaan Kompetensi dan Pelatihan Konstruksi Kementerian PU-PR Masrianto menambahkan, saat ini jumlah tenaga kerja di bidang konstruksi mencapai 6,9 juta orang. Perinciannya, 620.000 orang tenaga ahli, 1,8 juta tenaga terampil, dan sisanya tenaga non terampil. Dari jumlah itu, baru sekitar 400.000 tenaga kerja yang tersertifikasi.
Kementerian PU siapkan tenaga ahli tersertifikasi
JAKARTA. Masyarakat Ekonomi ASEAN yang mulai berlaku akhir tahun ini mengharuskan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PU-PR) bersiap. Kini, Kementerian PU-PR tengah berfokus meningkatkan sertifikasi tenaga ahli yang terampil dan menyiapkan kontraktor serta konsultan yang mampu mengerjakan proyek dalam waktu singkat. Kepala Badan Pembinaan Konstruksi Kementerian PU-PR Hediyanto Husaini mengatakan, sebenarnya Indonesia sudah siap menghadapi MEA di bidang konstruksi. Hanya saja, "masih ada masalah di sumber daya manusia (SDM) yang tersertifikasi. Soal kemampuan membangun sudah ada, kualifikasi sudah ada, tapi standar ASEAN belum dimiliki," kata Hediyanto, Kamis kemarin (22/1). Kepala Pusat Pembinaan Kompetensi dan Pelatihan Konstruksi Kementerian PU-PR Masrianto menambahkan, saat ini jumlah tenaga kerja di bidang konstruksi mencapai 6,9 juta orang. Perinciannya, 620.000 orang tenaga ahli, 1,8 juta tenaga terampil, dan sisanya tenaga non terampil. Dari jumlah itu, baru sekitar 400.000 tenaga kerja yang tersertifikasi.