KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kementerian Transmigrasi menjajaki kerja sama dengan empat perusahaan asal Tiongkok untuk mengembangkan industri pengolahan komoditas pertanian dan kelautan di kawasan transmigrasi. Penjajakan ini mencakup akses pasar kacang hijau dan rumput laut, teknologi pascapanen, mekanisasi pertanian, hingga pengolahan produk berbasis bioteknologi kelautan. Menteri Transmigrasi, M. Iftitah Sulaiman Suryanagara bertemu dengan China National Township Enterprises Co., Ltd. (CNTEC), FAMSUN Group, Shenzhen DJI Innovations Co., Ltd. (DJI), dan Beijing Leili Marine Bioindustry Inc. di Beijing dalam rangkaian kunjungan kerja ke Tiongkok pada 12–18 Oktober 2026. Iftitah mengatakan, kerja sama tersebut diarahkan untuk meningkatkan nilai tambah komoditas di dalam negeri sekaligus memperluas kesempatan ekonomi bagi masyarakat di kawasan transmigrasi. “Kita ingin lebih banyak produk diolah di Indonesia, lebih banyak nilai tambah tinggal di daerah, dan lebih banyak masyarakat memperoleh pekerjaan,” ujar Iftitah dalam keterangan resmi, Selasa (13/10/2026). Baca Juga: Kementrans Terjunkan Problem Solver Muda ke 53 Kawasan Transmigrasi Dalam pertemuan dengan CNTEC, Kementerian Transmigrasi membahas peluang perdagangan kacang hijau dan rumput laut. Berdasarkan paparan perusahaan, kontrak perdagangan pada 2026 meliputi 7.900 ton kacang hijau senilai US$ 9,86 juta atau sekitar Rp 163,68 miliar dan 6.100 ton rumput laut bahan baku karagenan senilai US$ 9,73 juta atau sekitar Rp 161,52 miliar. Total volume kedua komoditas tersebut mencapai 14.000 ton dengan nilai kontrak US$ 19,59 juta atau sekitar Rp 325,19 miliar. Nilai itu merupakan kontrak perdagangan yang dipaparkan CNTEC, bukan investasi baru yang disepakati dalam pertemuan dengan Kementerian Transmigrasi. Peluang pasar tersebut perlu didukung oleh kapasitas produksi, standar mutu, pengelolaan pascapanen, dan kepastian pasokan agar petani serta pelaku usaha lokal dapat memenuhi kebutuhan pasar secara konsisten. Selain akses pasar, Kementerian Transmigrasi menjajaki kerja sama dengan FAMSUN Group untuk melihat peluang pemanfaatan teknologi penyimpanan biji-bijian, logistik pertanian, serta pengolahan pangan dan pakan ternak. Teknologi tersebut berpotensi mendukung pengembangan fasilitas pengeringan, penyimpanan, dan pengolahan hasil pertanian di kawasan transmigrasi. Baca Juga: Kementrans Dorong Revisi UU untuk Optimalkan Potensi Lahan Transmigrasi Sementara itu, pembahasan dengan DJI berfokus pada pemanfaatan drone untuk kegiatan pertanian, seperti penyemprotan serta penebaran benih dan pupuk. Penggunaan teknologi tersebut perlu diikuti kesiapan operator, dukungan teknis, dan perhitungan biaya agar dapat diterapkan secara berkelanjutan. Adapun dengan Beijing Leili Marine Bioindustry Inc., penjajakan mencakup peluang pengolahan rumput laut menjadi produk turunan, termasuk biostimulan pertanian. Pengembangan industri ini membutuhkan kesesuaian bahan baku, kepastian pasokan, teknologi pengolahan, dan permintaan pasar terhadap produk akhir. Kementerian Transmigrasi menyatakan hasil penjajakan dengan keempat perusahaan akan ditindaklanjuti melalui pemetaan potensi komoditas, kesiapan lokasi, kebutuhan infrastruktur, serta calon mitra. Realisasi kerja sama tersebut diharapkan dapat memperluas kegiatan pengolahan di daerah, meningkatkan peluang usaha, dan membuka lapangan kerja bagi masyarakat setempat.
Kementrans Buka Peluang Hilirisasi Komoditas Pertanian &Kelautan lewat Mitra Tiongkok
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kementerian Transmigrasi menjajaki kerja sama dengan empat perusahaan asal Tiongkok untuk mengembangkan industri pengolahan komoditas pertanian dan kelautan di kawasan transmigrasi. Penjajakan ini mencakup akses pasar kacang hijau dan rumput laut, teknologi pascapanen, mekanisasi pertanian, hingga pengolahan produk berbasis bioteknologi kelautan. Menteri Transmigrasi, M. Iftitah Sulaiman Suryanagara bertemu dengan China National Township Enterprises Co., Ltd. (CNTEC), FAMSUN Group, Shenzhen DJI Innovations Co., Ltd. (DJI), dan Beijing Leili Marine Bioindustry Inc. di Beijing dalam rangkaian kunjungan kerja ke Tiongkok pada 12–18 Oktober 2026. Iftitah mengatakan, kerja sama tersebut diarahkan untuk meningkatkan nilai tambah komoditas di dalam negeri sekaligus memperluas kesempatan ekonomi bagi masyarakat di kawasan transmigrasi. “Kita ingin lebih banyak produk diolah di Indonesia, lebih banyak nilai tambah tinggal di daerah, dan lebih banyak masyarakat memperoleh pekerjaan,” ujar Iftitah dalam keterangan resmi, Selasa (13/10/2026). Baca Juga: Kementrans Terjunkan Problem Solver Muda ke 53 Kawasan Transmigrasi Dalam pertemuan dengan CNTEC, Kementerian Transmigrasi membahas peluang perdagangan kacang hijau dan rumput laut. Berdasarkan paparan perusahaan, kontrak perdagangan pada 2026 meliputi 7.900 ton kacang hijau senilai US$ 9,86 juta atau sekitar Rp 163,68 miliar dan 6.100 ton rumput laut bahan baku karagenan senilai US$ 9,73 juta atau sekitar Rp 161,52 miliar. Total volume kedua komoditas tersebut mencapai 14.000 ton dengan nilai kontrak US$ 19,59 juta atau sekitar Rp 325,19 miliar. Nilai itu merupakan kontrak perdagangan yang dipaparkan CNTEC, bukan investasi baru yang disepakati dalam pertemuan dengan Kementerian Transmigrasi. Peluang pasar tersebut perlu didukung oleh kapasitas produksi, standar mutu, pengelolaan pascapanen, dan kepastian pasokan agar petani serta pelaku usaha lokal dapat memenuhi kebutuhan pasar secara konsisten. Selain akses pasar, Kementerian Transmigrasi menjajaki kerja sama dengan FAMSUN Group untuk melihat peluang pemanfaatan teknologi penyimpanan biji-bijian, logistik pertanian, serta pengolahan pangan dan pakan ternak. Teknologi tersebut berpotensi mendukung pengembangan fasilitas pengeringan, penyimpanan, dan pengolahan hasil pertanian di kawasan transmigrasi. Baca Juga: Kementrans Dorong Revisi UU untuk Optimalkan Potensi Lahan Transmigrasi Sementara itu, pembahasan dengan DJI berfokus pada pemanfaatan drone untuk kegiatan pertanian, seperti penyemprotan serta penebaran benih dan pupuk. Penggunaan teknologi tersebut perlu diikuti kesiapan operator, dukungan teknis, dan perhitungan biaya agar dapat diterapkan secara berkelanjutan. Adapun dengan Beijing Leili Marine Bioindustry Inc., penjajakan mencakup peluang pengolahan rumput laut menjadi produk turunan, termasuk biostimulan pertanian. Pengembangan industri ini membutuhkan kesesuaian bahan baku, kepastian pasokan, teknologi pengolahan, dan permintaan pasar terhadap produk akhir. Kementerian Transmigrasi menyatakan hasil penjajakan dengan keempat perusahaan akan ditindaklanjuti melalui pemetaan potensi komoditas, kesiapan lokasi, kebutuhan infrastruktur, serta calon mitra. Realisasi kerja sama tersebut diharapkan dapat memperluas kegiatan pengolahan di daerah, meningkatkan peluang usaha, dan membuka lapangan kerja bagi masyarakat setempat.