KONTAN.CO.ID - BATAM. Kementerian Transmigrasi (Kementrans) mendorong pengembangan pertanian dan wisata bahari untuk meningkatkan potensi ekonomi masyarakat di kawasan transmigrasi Tanjung Banon, Rempang, Batam, Kepulauan Riau. Peneliti Technical University of Munich (TUM), Jerman, merekomendasikan pengembangan agroforestri dan ekowisata sebagai strategi untuk mengoptimalkan potensi kawasan tersebut. Rekomendasi itu disusun berdasarkan pengamatan tim TUM di Tanjung Banon selama sekitar satu pekan. Tim melakukan pengamatan lapangan dan berdiskusi dengan masyarakat untuk mengidentifikasi persoalan serta peluang pengembangan kawasan. Profesor TUM Walter Timo de Vries mengatakan, timnya membagi penelitian ke dalam empat aspek, yakni ekonomi dan pariwisata, air dan lingkungan, agroforestri dan pertanahan, serta dimensi komunitas. Baca Juga: Bisnis Makloon Kosmetik Tumbuh Saat Merek Lokal Marak, VICI Fokus Kembangkan Produk “Selama satu pekan, kami mengamati kondisi kawasan, berdiskusi dengan masyarakat, dan melihat langsung lingkungannya. Kami membagi penelitian ke dalam empat aspek, yakni ekonomi dan pariwisata, air dan lingkungan, agroforestri dan pertanahan, serta dimensi komunitas,” ujar Walter dalam pemaparan di Festival Transmigrasi, Sabtu (10/10/2026). Dalam rekomendasinya, tim peneliti mengusulkan pengembangan ekonomi lokal melalui agroforestri dan ekowisata. Usulan tersebut mencakup pertanian komunal, wisata dengan pemandu lokal, pemberdayaan masyarakat, serta pelatihan bahasa Inggris untuk mendukung pariwisata bahari di kawasan mangrove dan pesisir. Dari sisi lingkungan dan infrastruktur, TUM merekomendasikan penguatan lereng menggunakan dinding hijau, penampungan dan pemanfaatan kembali air hujan, serta pengolahan limbah menggunakan mesin daur ulang. Tim juga mengusulkan pengembangan dasbor berisi peta dan informasi untuk memantau kemajuan pengembangan kawasan. Menanggapi rekomendasi tersebut, Menteri Transmigrasi Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara mengatakan, pemerintah akan mengembangkan sejumlah usulan itu bersama Tim Ekspedisi Patriot yang lebih dahulu melakukan kegiatan di Tanjung Banon. “Empat hal ini yang menurut kami sangat bagus sekali. Nanti akan kita kembangkan bekerja sama dengan teman-teman dari Tim Ekspedisi Patriot yang sudah lebih dulu hadir di sini,” ujar Iftitah dalam sesi wawancara di sela Festival Transmigrasi, Sabtu (10/10/2026). Iftitah menyebut tim dari sejumlah perguruan tinggi, yakni Universitas Indonesia (UI), Institut Pertanian Bogor (IPB), Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), dan Institut Teknologi Bandung (ITB), turut terlibat dalam kegiatan pengembangan kawasan tersebut. Baca Juga: Cadangan Nikel Tinggal 9 Tahun, Moratorium Smelter Pirometalurgi Perlu Direalisasikan Untuk mendukung kegiatan pertanian, Iftitah mengatakan Pemerintah Kota Batam dan Badan Pengusahaan (BP) Batam menawarkan sekitar 25 hektare lahan yang dapat dimanfaatkan sementara oleh warga sebelum kawasan tersebut digunakan untuk pengembangan industri. Pengembangan pertanian akan mempertimbangkan komoditas yang sesuai dengan kondisi setempat, termasuk kelapa yang direkomendasikan tim TUM. Pemerintah juga berencana mengembangkan peternakan sebagai pilihan usaha masyarakat. Selain pertanian, pemerintah menyiapkan pembangunan menara pandang untuk menarik pengunjung ke Tanjung Banon. Pemerintah juga telah memberikan 16 perahu kepada warga untuk mendukung aktivitas perikanan dan membuka peluang usaha wisata bahari. Berbagai upaya tersebut diarahkan untuk membuka peluang usaha dan meningkatkan pendapatan masyarakat setempat. Bagi warga yang berprofesi sebagai petani, pengembangan sektor pertanian di Tanjung Banon diharapkan dapat menjadi salah satu sumber penghidupan. Rencana pengembangan pertanian tersebut disambut dengan harapan oleh Senen (58), petani asal Lampung yang telah tinggal di kawasan transmigrasi Tanjung Banon sejak Agustus. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, ia kini bekerja di proyek pembangunan rumah di sekitar kawasan tersebut. “Untuk sementara ini saya ikut kerja di proyek sekitar sini,” ujar Senen. Ke depan, Senen berharap dapat kembali mengembangkan usaha pertanian dengan menanam sayuran yang relatif cepat menghasilkan. Ia ingin memilih komoditas dengan masa panen singkat agar hasilnya dapat segera dijual dan menambah pendapatan. “Kalau saya ya nanam sayur. Namanya bertani itu macam-macam, mana yang bisa cepat menghasilkan, itulah yang kita tanam,” katanya.
Kementrans Dorong Agroforestri dan Wisata Bahari untuk Kembangkan Ekonomi Rempang
KONTAN.CO.ID - BATAM. Kementerian Transmigrasi (Kementrans) mendorong pengembangan pertanian dan wisata bahari untuk meningkatkan potensi ekonomi masyarakat di kawasan transmigrasi Tanjung Banon, Rempang, Batam, Kepulauan Riau. Peneliti Technical University of Munich (TUM), Jerman, merekomendasikan pengembangan agroforestri dan ekowisata sebagai strategi untuk mengoptimalkan potensi kawasan tersebut. Rekomendasi itu disusun berdasarkan pengamatan tim TUM di Tanjung Banon selama sekitar satu pekan. Tim melakukan pengamatan lapangan dan berdiskusi dengan masyarakat untuk mengidentifikasi persoalan serta peluang pengembangan kawasan. Profesor TUM Walter Timo de Vries mengatakan, timnya membagi penelitian ke dalam empat aspek, yakni ekonomi dan pariwisata, air dan lingkungan, agroforestri dan pertanahan, serta dimensi komunitas. Baca Juga: Bisnis Makloon Kosmetik Tumbuh Saat Merek Lokal Marak, VICI Fokus Kembangkan Produk “Selama satu pekan, kami mengamati kondisi kawasan, berdiskusi dengan masyarakat, dan melihat langsung lingkungannya. Kami membagi penelitian ke dalam empat aspek, yakni ekonomi dan pariwisata, air dan lingkungan, agroforestri dan pertanahan, serta dimensi komunitas,” ujar Walter dalam pemaparan di Festival Transmigrasi, Sabtu (10/10/2026). Dalam rekomendasinya, tim peneliti mengusulkan pengembangan ekonomi lokal melalui agroforestri dan ekowisata. Usulan tersebut mencakup pertanian komunal, wisata dengan pemandu lokal, pemberdayaan masyarakat, serta pelatihan bahasa Inggris untuk mendukung pariwisata bahari di kawasan mangrove dan pesisir. Dari sisi lingkungan dan infrastruktur, TUM merekomendasikan penguatan lereng menggunakan dinding hijau, penampungan dan pemanfaatan kembali air hujan, serta pengolahan limbah menggunakan mesin daur ulang. Tim juga mengusulkan pengembangan dasbor berisi peta dan informasi untuk memantau kemajuan pengembangan kawasan. Menanggapi rekomendasi tersebut, Menteri Transmigrasi Muhammad Iftitah Sulaiman Suryanagara mengatakan, pemerintah akan mengembangkan sejumlah usulan itu bersama Tim Ekspedisi Patriot yang lebih dahulu melakukan kegiatan di Tanjung Banon. “Empat hal ini yang menurut kami sangat bagus sekali. Nanti akan kita kembangkan bekerja sama dengan teman-teman dari Tim Ekspedisi Patriot yang sudah lebih dulu hadir di sini,” ujar Iftitah dalam sesi wawancara di sela Festival Transmigrasi, Sabtu (10/10/2026). Iftitah menyebut tim dari sejumlah perguruan tinggi, yakni Universitas Indonesia (UI), Institut Pertanian Bogor (IPB), Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), dan Institut Teknologi Bandung (ITB), turut terlibat dalam kegiatan pengembangan kawasan tersebut. Baca Juga: Cadangan Nikel Tinggal 9 Tahun, Moratorium Smelter Pirometalurgi Perlu Direalisasikan Untuk mendukung kegiatan pertanian, Iftitah mengatakan Pemerintah Kota Batam dan Badan Pengusahaan (BP) Batam menawarkan sekitar 25 hektare lahan yang dapat dimanfaatkan sementara oleh warga sebelum kawasan tersebut digunakan untuk pengembangan industri. Pengembangan pertanian akan mempertimbangkan komoditas yang sesuai dengan kondisi setempat, termasuk kelapa yang direkomendasikan tim TUM. Pemerintah juga berencana mengembangkan peternakan sebagai pilihan usaha masyarakat. Selain pertanian, pemerintah menyiapkan pembangunan menara pandang untuk menarik pengunjung ke Tanjung Banon. Pemerintah juga telah memberikan 16 perahu kepada warga untuk mendukung aktivitas perikanan dan membuka peluang usaha wisata bahari. Berbagai upaya tersebut diarahkan untuk membuka peluang usaha dan meningkatkan pendapatan masyarakat setempat. Bagi warga yang berprofesi sebagai petani, pengembangan sektor pertanian di Tanjung Banon diharapkan dapat menjadi salah satu sumber penghidupan. Rencana pengembangan pertanian tersebut disambut dengan harapan oleh Senen (58), petani asal Lampung yang telah tinggal di kawasan transmigrasi Tanjung Banon sejak Agustus. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, ia kini bekerja di proyek pembangunan rumah di sekitar kawasan tersebut. “Untuk sementara ini saya ikut kerja di proyek sekitar sini,” ujar Senen. Ke depan, Senen berharap dapat kembali mengembangkan usaha pertanian dengan menanam sayuran yang relatif cepat menghasilkan. Ia ingin memilih komoditas dengan masa panen singkat agar hasilnya dapat segera dijual dan menambah pendapatan. “Kalau saya ya nanam sayur. Namanya bertani itu macam-macam, mana yang bisa cepat menghasilkan, itulah yang kita tanam,” katanya.
TAG: