Kemtan dorong pengembangan kualitas sapi Bali



JAKARTA. Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Kementerian Pertanian (Kemtan) terus mendorong pengembangan kualitas sapi asal Bali.

Hal itu dilakukan melalui uji performan sapi potong yang diselenggarakan oleh Balai Pembibitan Ternak Unggul dan Hijauan Pakan Ternak (BPTU-HPT) Denpasar.

Bibit unggul sapi Bali ini akan diserahkan kepada sejumlah provinsi untuk dikembangkan agar dapat menghasilkan kualitas sapi unggulan lokal yang lebih baik.


Direktur Jenderal PKH Muladno bilang, pelaksanaan uji performan diharapkan membuahkan hasil akhir yang menjanjikan. Dimana sapi jantan akan digunakan untuk menghasilkan semen beku di Balai Inseminiasi Buatan atau sebagai penjantan kawin alam.

Sementara yang betina akan digunakan ke arah pembibitan dan budidaya yang baik melalui penyebaran ke seluruh Indonesia. Tujuannya adalah untuk meningkatkan mutu genetik dan meningkatkan populasi ternak sapi di sejumlah daerah yang defisit jumlah sapinya.

"Kami harapkan dampak dari uji performance ini dapat meningkatkan kesejahteraan petani peternak sapi asli atau lokal di sejumlah daerah di Indonesia," ujar Muladno akjir pekan lalu.

Muladno menegaskan, pembibitan sapi bali unggulan menjadi kewenangan pemerinah pusat. Maka dalam pengembangan pembibitan sapi unggulan ini, selain dikembangkan di masyarakat, juga dikembangkan sendiri oleh Ditjen PKH melalui Unit Pelaksana Teknis (UPT).

Ada sejumlah UPT yang akan menjadi tempat pembibitan bibit unggul sapi Bali tersebut. Di antaranya Sapi Bali di Pulukan Bali, HPT Sembawa dengan jenis ternak Sapi Brahman, Sapi Peranakan Ongole (PO) dan ayam di Sembawa Sumatera Selatan.

Lalu BPTU-HPT Indrapuri dengan jenis ternak Sapi Aceh di Indrapuri Aceh, BPTU-HPT Siborong-Borong dengan jenis ternak Babi dan Kerbau di Siborong-borong Sumatera Utara, BPTU-HPT Pelaihari dengan jenis ternak Kambing, Itik dan Sapi Madura di Pleihari Kalimantan Selatan, dan BPTU-HPT Padang Mangatas dengan jenis ternak sapi pesisir, di Padang Mangatas Sumatera Barat, serta bebeberapa bali yang dikelola pemerintah daerah. Muladno meminta agar sejumlah UPT yang ada itu tidak hanya memelihara, memproduksi, melestarikan, dan mengembangkan serta menyebarkan distribusi bibit ternak unggul, melainkan juga membantu pengawalan kegiatan pembibitan yang dilakukan di masyarakat.

Khususnya dalam aspek transfer tenologi dan menjadi pusat data hasil recording. "Dengan begitu, terbangun hubungan sinergis dalam mengembangkan pembibitan sapi secara nasional," terangnya.

Guru Besar IPB ini berharap kegiatan pembibitan sapi potong nasional dapat dimaksimalkan dalam satu wajah, yaitu Sentra Peternakan Rakyat (SPR) untuk mendukung kegiatan pembibitan sapi potong.

Ia optimistis bila proses pembibitan sapi unggulan dilakukan dengan standar yang sama di semua daerah, niscaya hasilnya akan memuaskan dan produksi sapi lokal akan terus meningkat dengan kualitas yang terus meningkat pula.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News