Kemtan luncurkan kurikulum nasional dan modul pelatihan budi daya kakao



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Dalam upaya meningkatkan produksi dan mutu kakao Indonesia, Kementerian Pertanian melalui Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Cocoa Sustainability Partnership (CSP), dan Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia (Puslitkoka) berinisiatif untuk membuat pedoman pelatihan budi daya kakao berkelanjutan. Petani kakao diharapkan semakin berdaya dengan adanya pelatihan budi daya berkelanjutan dan pasca panen dengan menggunakan kurikulum dan manual pelatihan yang standar. Dengan produksi dan mutu yang meningkat, maka diharapkan petani bisa memperoleh peningkatan harga pula. Beberapa waktu terakhir, produksi kakao di Indonesia terus mengalami penurunan. Musdalifah, Deputi II Bidang Pertanian dan Pangan, Kementerian Koordinator Perekonomian mengatakan, penurunan produksi yang ada saat ini karena banyak petani kakao yang membiarkan tanamannya begitu saja. "Jadi penyuluhan harus kita tingkatkan lagi. Penyuluhan itu salah satu faktor yang bisa meningkatkan perekonomian di wilayah pertanian," ujar Muzdalifah. Sementara itu, Widi Hardjono, Kepala Pusat Pelatihan Petanian menyampaikan, kakao merupakan salah satu komoditas ekspor perkebunan terbesar ketiga setelah kelapa sawit dan karet. Widi menambahkan, berdasarkan data statistik perkebunan Indonesia, produksi kakao Indonesia pada tahun 2016 sebesar 656.817 ton biji kakao. Sedangkan total area perkebunan kakao di Indonesia seluas 1,7 juta hektare (ha), dengan komposisi perkebunan didominasi oleh perkebunan rakyat. Dalam hal ini, perkebunan rakyat mencapai 97% dari total area. "Data tersebut menunjukkan kakao sebagai satu sumber pendapatan petani rakyat dan berperan penting dalam menyediakan lapangan kerja dalam sektor perkebunan dan perdagangan," terang Widi. Karena itu Widi berharap, adanya kurikulum budidaya dan modul pelatihan ini ini dapat diketahui oleh para pemangku kepentingan. Selain itu, penyuluhan dan pendampingan secara terpadu diharapkan dapat mewujudkan sinergitas keterampilan petani dalam budidaya kakao dan pengelolaannya. Lebih lanjut Widi menjelaskan, sebelumnya pendampingan dan pelatihan kepada petani kakao tidak terlalu besar lantara prioritas utama lebih diarahkan pada padi, jagung, dan kedelai. Meski begitu, saat ini pemerintah tengah berupaya menghimpun penyuluh swadaya sehingga petnai kakao dapat didampingi untuk memperbaiki cara budi dayanya. Menurut Widi, dengan semakin baiknya kualitas dan harga kakao di tingkat petani. Maka petani akan beralih menanam kakao sehingga produksinya akan terus meningkat. "Petani berhak menanam apa aja yg dia mau. Jadi bisa beralih menanam apa saja. Namun, bila harganya bagus, dia akan memilih menanam tanaman tersebut," tutur Widi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Editor: Sofyan Hidayat