Kenaikan 10% harga rokok Wismilak dinilai berisiko



JAKARTA. Demi mengangkat margin perusahaan tahun 2015, PT Wismilak Inti Makmur (WIIM) berniat mengerek harga jual produknya sebesar 10%. Kenaikan ini dianggap perlu meskipun tidak menjamin akan berefek positif terhadap angka penjualan produk. Pada kuartal I-2015, emiten dengan kode WIIM ini telah menaikkan harga jual antara 3-4% setiap bulannya dengan kenaikan bervariasi. Akibat adanya regulasi baru tentang kenaikan cukai pada tahun ini, WIIM berencana untuk menjaga gross margin di posisi 30%. Berdasarkan keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia, di kuartal I-2015, laba WIIM menyusut 7,38% YoY menjadi Rp 33,4 miliar. Penurunan laba ini sangat berlawanan dengan penjualan yang tumbuh 18% YoY menjadi 419,57 miliar.

WIIM juga baru menyerap belanja modal (capex) senilai Rp 9 miliar atau 12-15% terhadap proyeksi capex tahun ini. Yang sebesar Rp 60-70 miliar. Reza Priyambada analis Woori Korindo Securities menuturkan WIIM memang perlu menaikkan margin labanya pada tahun ini, setelah pada tahun 2014 yang lalu perusahaan membukukan penurunan margin laba akibat dari kenaikan cukai rokok. Langkah perseroan yang menaikkan harga jual rokok sebesar 10% dirasa cukup realistis jika ingin pendapatan bersih tahun 2015 ini naik. Antusiasme masyarakat Indonesia untuk membeli rokok tergolong besar, sekitar 58,35 juta penduduk di atas 15 tahun adalah perokok aktif. Reza menilai market untuk produk rokok masih akan kuat meskipun daya beli masyarakat saat ini sedang melemah. “Antusiasme masyarakat untuk membeli rokok masih besar meskipun daya beli secara umum menurun. Produk rokok memiliki pasarnya tersendiri. Langkah perusahaan menaikkan harga 10% masih wajar untuk mengangkat margin,” ujar Reza. Kendati demikian, Ia sedikit pesimis dengan langkah ini. Menurutnya, masyarakat secara umum masih memilih produk rokok dari merek Gudang Garam dan Sampoerna dibandingkan dengan Wismilak.

Oleh karena itu, Ia menyarankan WIIM untuk berhati-hati dalam menaikkan besaran harga produk rokoknya. Jika dengan kenaikan harga jual tersebut produk rokok WIIM masih bisa bersaing dengan produk rokok lainnya, maka pendapatan bersih perseroan akan terkerek naik karena masih menjadi pilihan masyarakat. Namun, jika tidak, lanjutnya, akan menjadi bumerang. “Harga produk rokok kelas premium WIIM, Diplomat 16, di pasaran Rp 20.000. Jika nanti harga jual naik 10%, maka harganya menjadi Rp 22.000. Kalau dibandingkan dengan rokok lain, harga rokok WIIM sedikit lebih mahal. Produk rokok Sampoerna Mild dijual Rp 20.000, bahkan harga Djarum Travo saja Rp 18.000. Mereka semua berada di kelas rokok premium,” jelas Reza. Ia menjelaskan jika perusahaan tetap menaikkan harga sebesar 10%, maka diperlukan promosi yang lebih gencar lagi untuk menarik minat masyarakat membeli produk rokok WIIM dibandingkan produk pesaingnya. Tentu saja, hal ini menurut Reza akan berdampak pada membengkaknya pengeluaran biaya promosi. Meskipun volume penjualan pada tahun 2015 ini tinggi, tapi biaya promosi juga ikutan naik, maka Ia memprediksi pertumbuhan laba bersih perusahaan akan sulit tercapai. Pada kuartal I-2015 ini, WIIM berhasil membukukan kenaikan pendapatan menjadi Rp 420 miliar. Reza memproyeksikan hingga akhir tahun nanti WIIM dapat membukukan Rp 1,8 triliun atau naik tipis sebesar 5,8% YoY. Prediksi ini diambil dengan asumsi ketika harga jual produk naik, tidak terjadi penurunan daya beli oleh masyarakat. Sedangkan laba bersih, Ia memprediksi akan naik 19,3% YoY atau mencapai Rp 133 miliar. Pertumbuhan laba bersih ini juga diprediksi dengan asumsi tidak terjadi lonjakan biaya promosi, cukai, serta bahan baku. “Kalau tidak ada kenaikan biaya apapun hingga akhir tahun kinerja WIIM akan stabil,” ujarnya. Reza Nugraha analis MNC Securities mengamini kenaikan harga jual memang diperlukan untuk mempertahankan margin. Namun, dirinya tidak yakin bahwa langkah WIIM ini akan berefek positif ke angka penjualan produk pada tahun 2015. Ia mengkhawatirkan akan ada penurunan pembelian produk rokok oleh masyarakat jika harga jual dinaikkan 10%. Ia pun mengakui manajemen WIIM sedang menghadapi masa sulit dengan adanya beberapa tekanan yang menerpa industri rokok Tanah Air, seperti kenaikan cukai dan bahan baku cengkeh yang mau tidak mau memaksa perusahaan untuk menaikkan harga jual produk. “Tekanan terhadap industri rokok memang besar tahun ini, ada kenaikan cukai dan cengkeh. Mau tidak mau harus menaikkan harga jual. Tapi ini belum tentu membawa efek positif ke angka penjualan,” terang Nugraha. Meskipun begitu. Ia menilai kinerja perseroan pada kuartal I-2015 cukup bagus dengan memperoleh pendapatan bersih konsolidasian sebesar Rp 420 miliar atau naik 18,3% YoY dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 355 miliar. Sekitar 74% penjualan rokok perusahaan berasal dari rokok Sigaret Kretek Mesin (SKM) sementara rokok Sigaret Kretek Tangan (SKT) menyumbang 26% dari penjualan. Pada kuartal I-2015, penjualan SKM sebesar Rp 287 miliar, SKT sebesar Rp 100 miliar, rokok filter Rp 18 miliar, dan lain-lain sebesar Rp 15 miliar. Nugaraha memproyeksi pendapatan WIIM akan tumbuh sekitar 5-7% dibandingkan tahun 2014 yang membukukan pendapatan Rp 1,66 triliun. Menurutnya, pertumbuhan pendapatan perseroan yang kecil ini disebabkan kebijakan pemerintah yang tidak mendukung industri rokok, salah satunya kenaikan harga cukai. Untuk tahun 2015 ini, WIIM menargetkan angka penjualan untuk tumbuh 20-25% menjadi Rp 1,99 – 2,07 triliun. Pertumbuhan ini diperoleh dari investasi tenaga kerja yang melinting rokok. Reza merekomendasikan untuk Buy di target harga Rp 501. Sedangkan Nugraha merekomendasikan untuk Hold dengan target price Rp 505. Pada penutupan kemarin, saham WIIM mengalami penguatan 0,83% di level Rp 482.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Hendra Gunawan