Kenaikan BI Rate Jadi Pedang Bermata Dua bagi Perbankan



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Kenaikan suku bunga acuan oleh Bank Indonesia (BI) mulai memunculkan tantangan baru bagi industri perbankan nasional.

Di satu sisi, kenaikan bunga membuka peluang peningkatan imbal hasil kredit, namun di sisi lain biaya dana atau cost of fund (CoF) juga ikut naik dan berpotensi menekan margin bunga bersih (net interest margin/NIM).

Seperti diketahui, BI memutuskan menaikkan BI-Rate sebesar 50 basis poin (bps) menjadi 5,25% pada April 2026.


Kebijakan ini ditempuh sebagai langkah menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tekanan global.

Baca Juga: NPL Properti Naik, OJK Wanti-Wanti Tekanan terhadap Asuransi Kredit

NIM Diprediksi Melandai

Ekonom Universitas Airlangga Rahma Gafmi memperkirakan, kenaikan BI Rate akan membuat NIM perbankan mengalami tekanan moderat hingga koreksi tipis dibandingkan tahun lalu.

Menurutnya, bunga deposito biasanya menyesuaikan lebih cepat dibandingkan bunga kredit ketika suku bunga acuan naik.

“Kemungkinan koreksi NIM sekitar 10 bps hingga 30 bps dibandingkan posisi tahun lalu,” ujar Rahma kepada Kontan.co.id, Minggu (24/5/2026).

Rahma menilai bank-bank milik negara atau Himbara cenderung menjaga NIM di level konservatif lantaran masih memiliki portofolio kredit program pemerintah dengan bunga yang ditetapkan khusus.

Sementara itu, bank swasta besar dinilai relatif lebih tahan terhadap tekanan karena memiliki basis dana murah atau CASA yang kuat.

Baca Juga: BTN Angkat Bicara Soal Dugaan Korupsi KPR PT BAS, Simak Penjelasannya

Risiko Likuiditas Mengintai

Selain tekanan terhadap margin, perbankan juga diperkirakan menghadapi pengetatan likuiditas pada kuartal III-2026.

Hal itu berkaitan dengan pengembalian dana saldo anggaran lebih (SAL) pemerintah oleh bank-bank Himbara.

Kondisi tersebut diperkirakan memicu persaingan penghimpunan dana yang lebih ketat, sehingga bank harus menawarkan bunga deposito lebih tinggi untuk menjaga dana pihak ketiga tetap bertahan.

Di sisi lain, kemampuan bank menaikkan bunga kredit tidak sepenuhnya fleksibel. Khususnya pada pembiayaan infrastruktur dan kredit program pemerintah yang tidak mudah di-repricing.

Akibatnya, selisih antara bunga kredit dan biaya dana berpotensi semakin menyempit.

Baca Juga: Prudential Bentuk Dewan Penasihat Medis untuk Perkuat Review Klaim Kesehatan

Strategi Menjaga Margin

Rahma menyebut perbankan masih memiliki sejumlah opsi untuk menjaga profitabilitas.

Salah satunya dengan mengalihkan penempatan likuiditas ke sektor kredit yang memiliki imbal hasil lebih tinggi seperti kredit pemilikan rumah (KPR), kredit kendaraan bermotor (KKB), dan kredit UMKM.

Selain itu, bank juga dapat melakukan penyesuaian bunga pada kredit korporasi non-penugasan melalui skema floating rate adjustment.

“Bank masih punya ruang untuk melakukan repricing pada debitur korporasi besar guna menjaga margin,” jelasnya.

Baca Juga: Ramai Isu Kebocoran Data Bank, Ini Kata Praktisi Keamanan

BCA: Tetap Perhatikan Daya Beli Masyarakat

Dari sisi industri, Corporate Secretary PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) atau BCA Hera F. Haryn mengatakan, pihaknya mempertimbangkan banyak faktor dalam menentukan kebijakan suku bunga.

Selain BI Rate, BCA juga memperhatikan kondisi likuiditas pasar, risiko kredit, hingga faktor permintaan dan penawaran.

“Pada dasarnya kenaikan BI-rate merupakan langkah strategis BI dalam merespons dinamika ekonomi global serta pergerakan nilai tukar rupiah,” ujar Hera kepada Kontan.

Ia memastikan BCA akan terus melakukan evaluasi berkala terhadap tingkat suku bunga dengan tetap mempertimbangkan daya beli masyarakat.

Baca Juga: OJK Catat 59,03 Juta Rekening Tabungan Pelajar pada Kuartal I-2026

CIMB Niaga Hitung Ulang Target NIM

Sementara itu, Presiden Direktur PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA) atau CIMB Niaga Lani Darmawan mengakui risiko penurunan NIM sulit dihindari setelah kenaikan BI Rate.

Menurutnya, kenaikan biaya dana belum sejalan dengan pertumbuhan permintaan kredit yang masih relatif lemah.

“Sedang kami hitung ulang,” ujar Lani terkait target NIM perseroan.

Untuk menjaga profitabilitas, CIMB Niaga akan memperkuat penghimpunan dana murah dan meningkatkan kontribusi pendapatan berbasis komisi atau fee based income, terutama dari bisnis wealth management.

Baca Juga: Ramai Isu Kebocoran Data Bank, Ini Kata Praktisi Keamanan

BTN Nilai Dampak Belum Langsung Terasa

Direktur Utama PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) atau BTN Nixon Napitupulu menilai, dampak kenaikan BI Rate terhadap biaya pendanaan bank tidak terjadi secara instan.

“Akan sesuai jatuh temponya deposito,” kata Nixon.

Menurutnya, transmisi kenaikan suku bunga acuan ke industri perbankan umumnya membutuhkan waktu sekitar tiga bulan.

Sementara transmisi ke bunga kredit cenderung lebih lambat, terutama karena portofolio BTN didominasi KPR dengan skema bunga tetap (fixed rate).

BTN sendiri sebelumnya telah memasukkan asumsi kenaikan bunga sebesar 25 bps dalam Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP).

Karena itu, meski BI Rate naik 50 bps, perseroan memperkirakan dampak efektif hingga akhir tahun masih sesuai dengan proyeksi internal perusahaan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News