KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kenaikan suku bunga acuan yang berada di level 5,75% berpotensi meningkatkan biaya dana (cost of fund) sekaligus memicu kenaikan rasio pembiayaan bermasalah (non-performing financing/NPF) di industri multifinance. Meski demikian, sejumlah perusahaan pembiayaan masih optimistis dapat menjaga profitabilitas hingga akhir 2026 melalui berbagai strategi mitigasi risiko. Ambil contoh, Presiden Direktur PT CIMB Niaga Auto Finance (CNAF) Ristiawan Suherman mengatakan, peningkatan suku bunga acuan dan kualitas pembiayaan menjadi tantangan yang tidak bisa dihindari karena dapat memengaruhi biaya dana maupun kebutuhan pencadangan kerugian nilai.
Baca Juga: Harga Saham BBNI Turun, RHB Sekuritas Pangkas Target Harga Tapi Tetap Rekomendasi Buy Kendati begitu, CNAF menilai tekanan tersebut masih dapat dikelola melalui penerapan manajemen risiko yang disiplin, fokus pada segmen pembiayaan berkualitas, kemampuan beradaptasi terhadap dinamika pasar, serta diversifikasi sumber pendanaan. “CNAF optimistis dapat menjaga pertumbuhan bisnis dan profitabilitas hingga akhir tahun 2026,” ujar Ristiawan kepada Kontan, Rabu (24/6). Menurutnya, tekanan terhadap cost of fund dan risiko kredit bermasalah memang berpotensi memengaruhi margin pembiayaan maupun pertumbuhan laba. Namun, perusahaan telah menyiapkan berbagai langkah antisipatif untuk menjaga struktur permodalan dan kualitas pembiayaan tetap sehat. Ristiawan menyebut strategi diversifikasi sumber pendanaan yang dijalankan perseroan sejauh ini mampu menjaga cost of fund tetap terkendali. Karena itu, CNAF akan terus melakukan penyesuaian bisnis guna mengantisipasi berbagai tekanan yang muncul akibat perubahan kondisi ekonomi dan suku bunga. “Dengan strategi yang dijalankan, tekanan terhadap margin dapat diminimalkan dan pertumbuhan laba tetap tumbuh sehat dan berkelanjutan,” katanya. Untuk menjaga profitabilitas, CNAF akan memperkuat penyaluran pembiayaan yang lebih selektif dengan fokus pada segmen-segmen berkualitas. Selain itu, perusahaan memperketat manajemen risiko guna menjaga portofolio pembiayaan tetap pruden. Perusahaan juga berupaya meningkatkan produktivitas sumber daya manusia serta mendorong efisiensi operasional melalui digitalisasi proses bisnis. Hingga Mei 2026, CNAF telah menyalurkan pembiayaan sebesar Rp 3,19 triliun.
Baca Juga: Adu Kinerja Bank Buku IV Mei 2025: Himbara Melaju, Bank Swasta Melandai Senada, PT BRI Multifinance Indonesia (BRI Finance) juga memandang kenaikan cost of fund dan potensi peningkatan NPF dapat memberikan tekanan terhadap profitabilitas perusahaan. Corporate Secretary BRI Finance Aditia Fakhri Ramadhani mengatakan, kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri di tengah pasar yang masih dinamis. Namun, perusahaan tetap optimistis mampu mempertahankan kinerja melalui pengelolaan biaya dana dan peningkatan efisiensi. “Melalui pengelolaan biaya dana, peningkatan efisiensi operasional, serta ekspansi yang selektif dengan tetap mengedepankan kualitas aset dan prinsip kehati-hatian, BRI Finance optimistis dapat menjaga profitabilitas,” terangnya. Ia menjelaskan, kenaikan biaya dana berpotensi menekan margin atau spread pembiayaan yang pada akhirnya dapat memengaruhi pertumbuhan laba perusahaan. Untuk mengantisipasi hal tersebut, BRI Finance akan melakukan penyesuaian pricing pembiayaan dengan tetap mempertimbangkan kondisi pasar dan daya beli nasabah. Ramadhani menambahkan, kondisi cost of fund BRI Finance saat ini masih relatif terjaga. Meski struktur pendanaan perusahaan yang didominasi pinjaman bank dan obligasi berpotensi mengalami penyesuaian biaya dana seiring perubahan suku bunga acuan, perusahaan terus melakukan diversifikasi sumber pendanaan.
Baca Juga: RUPST KB Bank Putuskan Laba Ditahan dan Angkat Dua Direktur Baru Salah satu upaya yang dilakukan adalah memperkuat sinergi dengan induk usaha melalui skema joint financing bersama BRI, serta melakukan pengelolaan liabilitas guna menjaga stabilitas cost of fund, margin pembiayaan, dan profitabilitas. Di sisi lain, BRI Finance akan terus mengedepankan pertumbuhan yang berkualitas melalui ekspansi yang selektif, penguatan manajemen risiko, peningkatan efisiensi operasional, serta optimalisasi biaya dana. Perusahaan juga berfokus memperkuat kualitas aset dan menggarap segmen yang memiliki potensi pertumbuhan baik. Adapun hingga Mei 2026, penyaluran pembiayaan BRI Finance tercatat tumbuh 59,32% secara tahunan (year on year/yoy). Kinerja tersebut dinilai menjadi modal untuk menjaga pertumbuhan di tengah tantangan kenaikan suku bunga dan potensi peningkatan risiko kredit. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News