Kenaikan Biaya Bahan Baku Tekan Laba Unilever India, Saham Tertekan 5%



KONTAN.CO.ID - Kenaikan biaya bahan baku dan tekanan geopolitik kembali membebani kinerja perusahaan barang konsumsi. Hindustan Unilever Ltd (HUL), unit bisnis Unilever di India, mencatat penurunan laba kuartalan karena margin keuntungan tertekan oleh lonjakan biaya komoditas. 

HUL melaporkan laba bersih sebesar 26,31 miliar rupee atau sekitar US$ 274,92 juta pada kuartal I yang berakhir 30 Juni 2026. Angka tersebut turun 4% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Tekanan terutama berasal dari kenaikan harga bahan baku serta peningkatan biaya operasional yang sebagian dipicu oleh ketidakpastian global dan konflik di kawasan Timur Tengah.


Baca Juga: Laba Tahun 2025 Melesat Ratusan Persen, Unilever (UNVR) Incar Pertumbuhan Pada 2026

Kondisi tersebut membuat margin perusahaan menyusut meski permintaan konsumen masih terjaga. "Volatilitas komoditas masih berlanjut, dengan tekanan inflasi diperkirakan bertahan dalam jangka pendek," kata manajemen Hindustan Unilever dalam laporan kinerjanya seperti dilansir Reuters, Selasa (28/6/2026).

Penurunan laba tersebut langsung mendapat respons negatif dari pasar. Saham HUL sempat melemah hingga 5% dan menjadi saham dengan penurunan terbesar di indeks acuan Nifty 50. Pada perdagangan terakhir, saham perusahaan turun 4,3% ke level 2.082 rupee.

Dari sisi pendapatan, kinerja HUL masih menunjukkan pertumbuhan. Penjualan meningkat 10% menjadi 165,14 miliar rupee, didorong kenaikan volume penjualan dasar sebesar 5%.

Permintaan terhadap produk kebutuhan sehari-hari tetap menjadi penopang utama, seiring pemulihan konsumsi di wilayah pedesaan India dan meningkatnya minat terhadap produk premium.

Namun, tekanan biaya membuat margin laba inti perusahaan turun 40 basis poin secara tahunan menjadi 22,8%. Meski demikian, HUL tetap mempertahankan target margin laba inti konsolidasi dalam kisaran 22,5% hingga 23,5% untuk jangka menengah.

Baca Juga: Saham ASII Melawan Arus; Saat Investor Asing Getol Jualan, Harganya Malah Mendaki

Direktur Utama dan CEO Hindustan Unilever Priya Nair mengatakan ekonomi India masih menunjukkan daya tahan di tengah ketidakpastian global. Menurut dia, kondisi permintaan domestik tetap stabil sepanjang kuartal tersebut.

Kinerja HUL mencerminkan tantangan yang dihadapi industri barang konsumsi India, yakni menjaga pertumbuhan penjualan di tengah tekanan biaya produksi.

Meski demikian, sejumlah perusahaan konsumer lain masih mencatat hasil positif.

Pekan lalu, Nestle India membukukan kenaikan laba kuartalan 48%, sementara Tata Consumer Products mencatat pertumbuhan laba 28% berkat permintaan yang tetap kuat terhadap makanan dan minuman kemasan.