Kenaikan bunga BI dianggap tepat hadapi defisit neraca yang memburuk



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Di tengah kondisi ekonomi domestik yang solid menurut Bank Indonesia (BI), bank sentral Tanah Air menaikkan suku bunga acuan 25 basis poin menjadi 6%.

"Saya pikir sudah tepat karena kemarin banyak yang berekspektasi ditahan, tapi neraca perdagangan di luar ekspektasi," ungkap David Sumual, Ekonom Bank Cetral Asia (BCA)  kepada Kontan.co.id, Kamis (15/11).

Hari ini, Badan Pusat Statistik (BI) melaporkan neraca dagang Oktober defisit US$ 1,82 miliar. Padahal, ekonom memperkirakan defisit membesar tak jauh dari bulan September yang hanya US$ 230 juta.


Menurut David, BI tepat menaikkan bunga untuk menjaga defisit transaksi berjalan atau current account defisit (CAD) tetap di bawah 3% dari Produk Domestik Bruto (PDB) tahun ini, serta 2,5% dari PDB untuk tahun 2019.

Melebarnya defisit neraca perdagangan akan memperburuk CAD.

"Ini di luar ekspektasi," ungkapnya.

Apalagi, jelang akhir tahun, ada pola peningkatan konsumsi. Bukan tidak mungkin, impor makin tinggi, dan neraca perdagangan akhir tahun mempertahankan defisit.

"Neraca perdagangan kurang baik karena harusnya setelah yang dilakukan pemerintah untuk jaga defisit, tapi masih besar," ungkapnya.

Pemerintah telah melakukan kebijakan pembatasan impor hingga kebijakan B20. Rupanya, kebijakan tersebut tak cukup efektif menekan laju impor. Ditambah, impor infrastruktur yang dilakukan pemerintah cukup deras.

Meskipun demikian, BI tetap bertahan bahwa belanja pemerintah pada investasi infrastruktur bangunan dan non bangunan dapat menstimulus pertumbuhan ekonomi Tanah Air ke depannya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Sanny Cicilia