Kenaikan Bunga Deposito Valas 4% Dorong Simpanan Valas Himbara Melonjak



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Kenaikan suku bunga deposito valuta asing (valas) dolar Amerika Serikat (AS) hingga level 4% yang dilakukan bank-bank milik negara (Himbara) mulai menunjukkan dampak positif terhadap penghimpunan dana valas.

Dalam dua bulan terakhir, simpanan deposito valas tercatat mengalami pertumbuhan signifikan, seiring tingginya minat nasabah memanfaatkan selisih bunga dan pelemahan nilai tukar rupiah.

PT Bank Mandiri misalnya, sejak bunga deposito valas USD dinaikkan ke level 4%, simpanan deposito valas Bank Mandiri tumbuh lebih dari 30% secara tahunan (year on year/yoy) hanya dalam satu bulan terakhir.


“Kenaikan terutama berasal dari nasabah existing yang melakukan rollover dengan penambahan nominal, serta dana baru dari segmen korporasi,” ujar Head of Deposit Product Management PT Bank Mandiri Tbk, Mega Ekaputri Pujianto kepada kontan.co.id, Kamis (15/1/2026).

Ia menambahkan, sentimen positif didorong oleh selisih bunga yang semakin menarik dibandingkan deposito rupiah, serta ekspektasi suku bunga global yang masih berada di level tinggi. Kondisi tersebut membuat kenaikan bunga deposito valas dinilai cukup efektif dalam menarik likuiditas valas ke dalam negeri.

Sekitar 60%–70% dana yang masuk merupakan dana jangka pendek hingga menengah dengan tenor 1–6 bulan. Dana tersebut sebagian berasal dari nasabah yang sebelumnya menempatkan dananya di luar negeri atau pada instrumen likuid valas lainnya.

Baca Juga: Himbara Kerek Bunga Deposito Valas hingga 4%, Begini Respons Bank Swasta

Lebih lanjut, Mega mengungkapkan bahwa pelemahan rupiah turut mendorong minat penempatan dana pada deposito valas. Saat rupiah melemah di kisaran 3%–5%, minat simpanan valas biasanya meningkat sekitar 5%–10%, terutama dari nasabah korporasi dan high net worth individual (HNWI) yang memanfaatkan deposito valas sebagai instrumen lindung nilai (hedging).

Ke depan, Bank Mandiri menargetkan pertumbuhan deposito valas dapat tumbuh di atas 20% secara tahunan, sejalan dengan kebutuhan likuiditas perseroan.

Strategi yang ditempuh antara lain dengan menawarkan bunga yang kompetitif dan terukur, fokus pada nasabah yang aktif bertransaksi valas, serta optimalisasi produk wholesale seperti KOPRA dan trade finance agar dana valas dapat mengendap lebih lama di bank.

Sementara itu, Retail Funding Division Head PT Bank Tabungan Negara (BTN), Frengky Rosadrian, menyampaikan bahwa kenaikan bunga deposito USD sejak November 2025 juga berdampak signifikan terhadap kinerja dana valas BTN. Dalam dua bulan terakhir, deposito valas BTN tumbuh masing-masing sebesar 84% untuk segmen individu dan 204% untuk segmen non-individu.

“Hal ini menjadi indikator adanya respon positif pasar terhadap kenaikan suku bunga valuta asing,” jelas Frengky.

Berdasarkan posisi Desember 2025, kinerja deposito ritel BTN masih mencatatkan pertumbuhan positif dengan kenaikan sebesar 14,10% secara yoy. Meski demikian, pada 2026 BTN akan lebih memfokuskan pertumbuhan dana murah atau CASA, dengan tetap mencermati kebijakan akuisisi deposito.

“Tingkat suku bunga deposito akan terus dikaji secara berkala dengan mempertimbangkan BI rate, kondisi pasar, serta cost of fund bank,” pungkas Frengky.

Tak berbeda, PT Bank Negara Indonesia (BNI) juga mencermati respons pasar yang positif atas kebijakan tersebut. Sejak penyesuaian dilakukan, BNI mencatat pertumbuhan volume simpanan valas yang sehat.

"Ini mencerminkan tingkat kepercayaan nasabah terhadap fundamental BNI sebagai mitra perbankan yang andal dalam pengelolaan dana," ujar Okki Rushartomo,  Corporate Secretary BNI.

Baca Juga: OJK Ingatkan Himbara Jika Ingin Naikkan Bunga Deposito Valas

Menurutnya, penyesuaian suku bunga deposito valas menjadi 4% merupakan langkah strategis BNI dalam merespons dinamika global. Kebijakan ini bertujuan menjaga daya saing penghimpunan dana valas sekaligus mendorong optimalisasi penempatan dana di dalam negeri.

Terkait dinamika nilai tukar, kebutuhan transaksi lindung nilai memang menjadi bagian dari aktivitas nasabah. Namun demikian, peningkatan simpanan valas di BNI saat ini disebut lebih mencerminkan kebutuhan transaksional dan operasional nasabah, termasuk untuk aktivitas bisnis dan investasi.

"Penyesuaian suku bunga deposito valas dilakukan dengan memperhatikan kondisi pasar global dan praktik di berbagai yurisdiksi, sehingga turut mendukung stabilitas likuiditas valas secara keseluruhan," katanya.

Ke depan, BNI akan terus memperkuat strategi penghimpunan dana valas melalui penyediaan solusi keuangan yang komprehensif. Optimalisasi layanan digital, seperti kemudahan pembukaan dan pengelolaan deposito valas melalui aplikasi wondr by BNI, serta pemanfaatan fitur BNI Multicurrency untuk penyimpanan dan transaksi dalam berbagai mata uang asing, menjadi bagian dari upaya BNI dalam meningkatkan kenyamanan dan efisiensi layanan bagi nasabah.

Di sisi lain, ekonom menilai dampak kenaikan bunga deposito valas tidak bisa dilihat semata dari sisi bunga. Direktur Ekonomi Digital Center of Economics and Law Studies (Celios) Nailul Huda mencatat bahwa pada November 2025 simpanan valas masyarakat meningkat sekitar 10%. Namun, ia mengingatkan bahwa kenaikan tersebut belum tentu sepenuhnya dipicu oleh kebijakan bunga 4%.

“Deposito valas di bank swasta juga naik meskipun lebih rendah. Artinya, ada faktor lain seperti sentimen global dan ekspektasi nilai tukar,” kata Huda.

Menurutnya, efektivitas kebijakan ini juga sangat bergantung pada bagaimana bank-bank BUMN atau Himbara mengelola dana tersebut. Ia menyoroti ekspektasi pasar bahwa pemerintah berpotensi semakin melirik dana simpanan di Himbara ketika ruang pembiayaan pembangunan dari APBN semakin terbatas.

“Ekspektasi ini harus dikelola dengan sangat hati-hati, karena bisa memengaruhi minat investor menempatkan dananya di Himbara. Jika persepsi risiko meningkat, investor justru bisa memilih menempatkan dananya di luar negeri,” jelasnya.

Baca Juga: Persaingan Bunga Deposito Valas Kompetitif Tak Jamin Nasabah Simpan Dana di Himbara

Huda juga menyinggung pelemahan rupiah belakangan ini yang dipicu sentimen negatif terhadap kinerja APBN 2025. Kondisi tersebut mendorong arus keluar dana asing dari pasar keuangan domestik dan turut memengaruhi dinamika simpanan valas di perbankan.

Sejalan dengan itu, Advisor Banking & Finance Development Center, Moch Amin Nurdin, menilai kenaikan bunga deposito valas ke level 4% tidak serta-merta meningkatkan simpanan valas secara signifikan. Faktor utama yang memengaruhi keputusan nasabah tetap berada pada ekspektasi nilai tukar rupiah, tren suku bunga globalkhususnya kebijakan The Federal Reserve serta kebutuhan dolar AS itu sendiri.

“Menurut saya, kebijakan ini lebih bertujuan untuk menahan agar tidak terjadi capital outflow, bukan untuk menarik capital inflow,” kata Amin.

Ia menilai, kenaikan bunga deposito valas memang cukup efektif menarik likuiditas valas, namun sifatnya terbatas dan selektif. Dana yang masuk umumnya berasal dari nasabah besar (big customer), bersifat jangka pendek, dan merupakan dana idle.

Tanpa didukung insentif non-bunga seperti kualitas layanan, fasilitas lindung nilai (hedging), kemudahan transaksi, serta stabilitas nilai tukar rupiah, Amin menilai kebijakan ini tidak akan berkelanjutan.

“Ketika rupiah melemah, preferensi terhadap dolar AS memang meningkat, sehingga deposito valas menjadi lebih ‘lengket’. Tapi bukan berarti terjadi lonjakan besar. Minat tersebut lebih banyak untuk tujuan lindung nilai, terutama dari nasabah korporasi dan high net worth individual,” ujarnya.

Ke depan, Amin memperkirakan tren simpanan valas perbankan akan bergerak stabil hingga moderat dan cenderung selektif, bukan tumbuh agresif. Persaingan antarbank diperkirakan semakin ketat, namun perang suku bunga dinilai berisiko tinggi.

“Pemenangnya adalah bank yang kuat membangun hubungan dengan nasabah, disiplin dalam pengelolaan aset-liabilitas (ALM) valas, serta memiliki ekosistem transaksi USD yang solid,” pungkasnya.

Baca Juga: Bunga Deposito Valas Bank Himbara Naik, Bank Swasta Lihat Perkembangan

Selanjutnya: Kementerian PU Pastikan Seluruh Jalur Logistik Utama di Sumatra Sudah Pulih

Menarik Dibaca: 10 Manfaat Konsumsi Tape Singkong untuk Kesehatan Tubuh yang Jarang Diketahui

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News