Kenaikan bunga Fed bisa berubah



KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Agenda pergantian Gubernur The Federal Reserve turut mengubah arah kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat (AS) tahun 2018. Salah satu yang berpeluang  berubah adalah rencana kenaikan suku bunga acuan The Fed. 

Hasil rapat Fed pada 12-13 Desember 2017 yang dirilis Rabu (3/1), memaparkan, para pejabat Fed sepakat suku bunga acuan harus naik tahun ini. Tapi mereka berbeda pendapat tentang frekuensi kenaikan bunga acuan. 

Enam dari 16 pejabat The Fed memproyeksikan kenaikan suku bunga tiga kali sepanjang tahun ini. Namun, enam pejabat berpandangan kenaikan bunga acuan itu maksimal dua kali pada tahun ini. Sedangkan empat pejabat lainnya memprediksikan Fed  bisa menaikkan empat kali. 


Keputusan mengenai frekuensi kenaikan suku bunga berada di tangan pejabat baru. Gubernur The Fed Janet Yellen akan meninggalkan kursi The Fed, awal Februari 2018 dan diganti Jerome H Powell. 

Tahun lalu, Fed mengatakan akan menaikkan suku bunga tiga kali di tahun ini. Desember lalu, Fed pun telah menaikkan suku bunga menjadi 1,25%, mencerminkan ekspektasi pertumbuhan ekonomi  Amerika sebesar 1,5%. 

Namun, pejabat melihat ada bahaya yang mengancam ekonomi AS. Yakni inflasi cenderung lambat di saat kenaikan nilai aset melesat.

Padahal menurut Chris Rupkey, Kepala Ekonom Keuangan MUFG, variabel penting ekonomi adalah inflasi. Variabel tersebut bisa mengarahkan kebijakan The Fed. Pemangkasan pajak

Tahun ini, The Fed menilai akan ada dorongan ekonomi dari pemotongan pajak yang diberlakukan oleh pemerintahan Donald Trump. Banyak pejabat Fed memperkirakan, daya beli konsumen dan bisnis akan meningkat. 

Bahkan Yellen memperkirakan, ekonomi AS bisa tumbuh 2,5% di tahun ini. "Pemotongan pajak menjadi salah satu faktor pendorong utama," kata Yellen  seperti ditulis New York Times, kemarin. Proyeksi Yellen lebih tinggi dari perkiraan analis 2,1% pada September 2017. 

Di sisi lain, pejabat Fed menilai, pemangkasan pajak memperlemah potensi kenaikan suku bunga. Sebab, pemerintah AS berpeluang berutang  lebih banyak lagi. 

Di sisi lain, pemangkasan pajak justru menguntungkan investor dan korporasi. Mereka akan menggunakan dana untuk membayar utang ketimbang investasi.

Editor: Wahyu T.Rahmawati