WASHINGTON. Penguatan nilai tukar dollar Amerika Serikat (AS) turut berpengaruh pada kenaikan suku bunga acuan The Federal Reserve alias Fed rate. Pasalnya, kurs dollar AS yang terus menguat, ditambah dengan cuaca dingin menekan laju pertumbuhan ekonomi kuartal pertama. Tapi, laju pertumbuhan ekonomi AS yang cenderung lemah di kuartal pertama memicu para ekonom dan analis memundurkan ramalan kenaikan Fed rate menjadi September alias akhir kuartal ketiga. Awalnya, banyak ekonom meramal kenaikan suku bunga akan terjadi pada akhir kuartal kedua. Thomas Costerg, ekonom senior Standard Chartered Bank di New York bilang, Federal Open Market Committee akan menunggu pembalikan arah di kuartal kedua ini sebelum mengerek suku bunga acuan. "Ada kekhawatiran, pengaruh kuatnya dollar dan penurunan investasi minyak akan berlanjut," kata Costerg kepada Bloomberg.
Kenaikan Fed Rate bisa mundur lagi
WASHINGTON. Penguatan nilai tukar dollar Amerika Serikat (AS) turut berpengaruh pada kenaikan suku bunga acuan The Federal Reserve alias Fed rate. Pasalnya, kurs dollar AS yang terus menguat, ditambah dengan cuaca dingin menekan laju pertumbuhan ekonomi kuartal pertama. Tapi, laju pertumbuhan ekonomi AS yang cenderung lemah di kuartal pertama memicu para ekonom dan analis memundurkan ramalan kenaikan Fed rate menjadi September alias akhir kuartal ketiga. Awalnya, banyak ekonom meramal kenaikan suku bunga akan terjadi pada akhir kuartal kedua. Thomas Costerg, ekonom senior Standard Chartered Bank di New York bilang, Federal Open Market Committee akan menunggu pembalikan arah di kuartal kedua ini sebelum mengerek suku bunga acuan. "Ada kekhawatiran, pengaruh kuatnya dollar dan penurunan investasi minyak akan berlanjut," kata Costerg kepada Bloomberg.