Kenaikan Harga Ayam Dorong Prospek Emiten Unggas, Ini Rekomendasi Saham Pilihannya



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Prospek emiten di sektor unggas tetap positif didukung oleh tingginya harga ayam broiler yang didorong oleh keberlanjutan program makan bergizi gratis sepanjang tahun 2026.

Berdasarkan riset yang dipublikasikan CGS International, harga ayam broiler naik selama tiga bulan berturut-turut hingga September 2026 menjadi rata-rata Rp 25.000 per kg atau naik 2% dibandingkan bulan sebelumnya, terutama didorong oleh berlanjutnya program makan bergizi gratis nasional. 

Sejalan dengan itu, harga day-old chick (DOC) juga meningkat pada September 2026 menjadi rata-rata Rp 7,800 per ekor, meningkat 1% secara bulanan. Ini mencerminkan optimisme para pembibit terhadap prospek pengembangan populasi broiler ke depan. 


Baca Juga: Sentimen Global & Proyeksi Bank Dunia Warnai Laju Rupiah Rabu (7/10)

"Dengan mempertimbangkan faktor musiman menjelang periode libur dan perayaan akhir tahun, kami meyakini  harga  unggas  dapat  tetap berada pada level yang tinggi pada 4Q26F seiring pemulihan konsumsi dari basis yang relatif rendah pada dua kuartal," tulis Jason dalam risetnya, Jumat (1/10/2026).

Senada, Analis sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah, Elandry Pratama, menyampaikan prospek emiten perunggasan cukup positif hingga kuartal IV-2026. 

"Kenaikan harga broiler, ditambah momentum konsumsi akhir tahun dan program makan bergizi gratis, menjadi katalis bagi perbaikan margin," ucap Elandry. 

Namun, investor tetap perlu mencermati kenaikan biaya pakan karena masih menjadi komponen biaya terbesar. Secara umum, market sentiment terhadap sektor unggas cenderung membaik.

Laba Emiten Berpotensi Terdongkrak

Jason menerangkan meski biaya bahan baku naik, penguatan harga ayam broiler diperkirakan mampu mendorong laba bersih PT Charoen Pokphand Indonesia (CPIN) dan PT Japfa Comfeed Indonesia (JPFA) pada kuartal III 2026 masing-masing menjadi sekitar Rp1,1 triliun dan Rp1,2 triliun.

Proyeksi tersebut sejalan dengan konsensus Bloomberg. Dengan estimasi itu, laba bersih sembilan bulan pertama 2026 CGS International untuk CPIN dan JPFA telah mencapai masing-masing 77% dan 79% dari proyeksi konsensus Bloomberg untuk setahun penuh.

Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT) menyebutkan harga pakan ternak meningkat dalam beberapa bulan terakhir. Berdasarkan pengecekan CGS International di lapangan, perusahaan baru meneruskan sekitar sepertiga kenaikan biaya tersebut kepada konsumen pada kuartal III. Penerusan biaya secara bertahap ini diperkirakan berlanjut pada kuartal IV 2026, sehingga berpotensi mendukung pemulihan laba lebih lanjut.

Baca Juga: IHSG Menguat 1,21% ke 6.192 pada Selasa (6/10), GOTO, AMMN, INDY Top Gainers LQ45

Sementara itu, Elandry bilang CPIN dan JPFA dapat terpapar sentimen kenaikan harga ayam karena memiliki eksposur terintegrasi dari breeding, feed hingga broiler. Menurutnya, kenaikan harga ayam dapat membantu memperbaiki margin di sisi broiler, sementara kenaikan DOC juga menunjukkan demand yang cukup sehat. 

Selain itu, PT Malindo Feedmill Tbk (MAIN) dan PT Sreeya Sewu Indonesia Tbk (SIPD) juga berpotensi mendapat sentimen positif, meski skala dan struktur bisnisnya berbeda.

Untuk investor, Elandry melihat momentum ini masih menarik, tetapi sebaiknya tidak mengejar harga setelah kenaikan. Lebih ideal memanfaatkan koreksi untuk akumulasi bertahap, sambil memantau harga broiler, DOC, serta harga bahan baku pakan. Jadi fokusnya bukan hanya kenaikan harga ayam, tetapi sustainability margin dan earnings growth.

Rekomendasi Saham

CGS International mempertahankan overweight untuk subsektor perunggasan, didukung tingginya harga ayam broiler akibat keberlanjutan program MBG sepanjang 2026. 

Meski pemerintah memangkas anggaran dan jumlah penerima program menjadi 50 juta orang, tambahan konsumsi yang dihasilkan diperkirakan masih mencapai 1,2 juta ton permintaan broiler pada 2026. Dengan demikian, tingkat kelebihan pasokan diproyeksikan turun dari 58% terhadap permintaan pada 2025 menjadi 30% pada 2026.

Selain itu, keterlibatan pemerintah yang lebih besar, termasuk investasi Danantara di sektor perunggasan, dinilai menunjukkan komitmen kuat untuk menjalankan program MBG secara penuh. 

"Berdasarkan diskusi kami dengan perusahaan unggas dan pengecekan lapangan, kami memahami bahwa pemerintah juga semakin fokus menjaga stabilitas harga unggas," ujar Jason.

Tapi, risiko penurunan bagi sektor ini meliputi konsumsi unggas yang lebih lemah dari perkiraan, dan harga bahan baku yang lebih tinggi dari perkiraan. Adapun katalis re-rating sektor ini mencakup pemangkasan lebih lanjut kuota impor grandparent stock dan dibukanya impor jagung sebagai bahan baku pakan ternak.

Dari sisi pilihan saham, Jason merekomendasikan hold CPIN di target harga Rp 3.100 dan add saham JPFA dengan target harga Rp 3.700 per saham.

Disamping itu, Elandry menyarankan CPIN dan JPFA dengan pertimbangan fundamental dan skala bisnis. Untuk target harga, CPIN berada di kisaran Rp 6.500–Rp 7.000 dan JPFA sekitar Rp 3.000–Rp 3.300 dalam horizon 6–12 bulan.

Baca Juga: Prospek Emiten Energi Terbarukan Hingga 2027 Masih Positif

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News