KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Lonjakan harga batubara di pasar domestik mulai menekan industri semen nasional. Kenaikan biaya energi tersebut berpotensi meningkatkan beban produksi produsen semen, khususnya perusahaan swasta yang tidak memperoleh pasokan batubara melalui skema Domestic Market Obligation (DMO). Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Semen Seluruh Indonesia (ASPERSSI) Lilik Unggul Raharjo mengatakan, perusahaan semen non-BUMN harus membeli batubara dengan harga pasar yang mengacu pada Indonesia Coal Index (ICI). Dalam beberapa waktu terakhir, harga batubara untuk segmen tersebut meningkat sekitar US$ 20 hingga US$ 21 per ton. "Untuk perusahaan non-BUMN yang tidak mendapatkan harga DMO, harga batubara berdasarkan harga pasar atau mengacu ke ICI naik sekitar US$ 20 sampai US$ 21 per ton. Dampaknya ke cost of goods manufactured (COGM) atau ongkos produksi naik sekitar 14% sampai 17%," ujar Lilik kepada Kontan, Jumat (12/6/2026).
Kenaikan Harga Batubara Tekan Industri Semen, Ongkos Produksi Naik hingga 17%
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Lonjakan harga batubara di pasar domestik mulai menekan industri semen nasional. Kenaikan biaya energi tersebut berpotensi meningkatkan beban produksi produsen semen, khususnya perusahaan swasta yang tidak memperoleh pasokan batubara melalui skema Domestic Market Obligation (DMO). Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Semen Seluruh Indonesia (ASPERSSI) Lilik Unggul Raharjo mengatakan, perusahaan semen non-BUMN harus membeli batubara dengan harga pasar yang mengacu pada Indonesia Coal Index (ICI). Dalam beberapa waktu terakhir, harga batubara untuk segmen tersebut meningkat sekitar US$ 20 hingga US$ 21 per ton. "Untuk perusahaan non-BUMN yang tidak mendapatkan harga DMO, harga batubara berdasarkan harga pasar atau mengacu ke ICI naik sekitar US$ 20 sampai US$ 21 per ton. Dampaknya ke cost of goods manufactured (COGM) atau ongkos produksi naik sekitar 14% sampai 17%," ujar Lilik kepada Kontan, Jumat (12/6/2026).
TAG: